Umur Berapa Bayi Boleh Makan Garam? Begini Panduannya

Umur Berapa Bayi Boleh Makan Garam? Begini Panduannya

Saat mulai MPASI, sering kali orang tua bingung mau menambahkan garam demi menambah rasa makanan. Namun, sebenarnya umur berapa bayi boleh makan garam?

Meskipun garam merupakan senyawa yang dibutuhkan, bayi sebaiknya tidak mengonsumsinya terlalu banyak lantaran ginjal mereka yang tetap berkembang belum bisa memproses garam dalam jumlah besar.

Memberikan terlalu banyak garam kepada bayi dari waktu ke waktu justru dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti tekanan darah tinggi. 


Terlalu banyak konsumsi garam selama masa bayi dan kanak-kanak juga dapat mendorong terbentuknya preferensi terhadap makanan asin yang memperkuat seumur hidup.

Alasan untuk membatasi jumlah garam yang dikonsumsi bayi

Bayi yang mengonsumsi terlalu banyak garam dari pola makannya dapat mengalami beberapa masalah, terutama pada ginjal.

Ginjal bayi tetap belum berkembang sepenuhnya dan belum bisa menyaring kelebihan garam seefisien ginjal orang dewasa.

Akibatnya, pola makan yang terlalu tinggi garam dapat merusak ginjal bayi. Pola makan tinggi garam juga dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang dan preferensi rasa bayi. Demikian dikutip dari studi dalam jurnal Annals of Nutrition and Metabolism.

Bayi terlahir dengan preferensi alami terhadap makanan yang mempunyai rasa manis, asin, dan umami.

Pemberian makanan asin secara berulang dan terlalu banyak dapat memperkuat preferensi rasa alami ini, yang kemungkinan menyebabkan anak lebih menyukai makanan asin dibandingkan makanan yang secara alami mengandung lebih sedikit garam.

Makanan olahan yang condong tinggi garam tetapi biasanya tidak kaya nutrisi, dapat lebih disukai daripada makanan utuh dengan kandungan garam alami yang lebih rendah, seperti sayuran.

Bahkan selain itu, pola makan tinggi garam juga berisiko dapat menyebabkan tekanan darah bayi meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa pengaruh garam dalam meningkatkan tekanan darah mungkin lebih kuat pada bayi dibandingkan orang dewasa.

Bagaimana rekomendasi soal garam dari IDAI?

Dikutip dari laman resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bahwa di bawah usia 1 tahun, anak boleh saja diberikan gula dan garam dalam MPASI-nya tapi hanya sesedikit mungkin. 

MPASI untuk anak usia di atas 1 tahun dapat diambil dari makanan keluarga. Namun, dalam penyiapannya, makanan tersebut perlu dipisahkan terlebih dulu sebelum penambahan ramuan seperti gula, garam, alias penyedap rasa.

Berapa banyak asupan garam yang dianggap aman?

Dikutip dari Healthline, natrium merupakan salah satu komponen unsur gizi penting. Namun bayi berumur di bawah 6 bulan memenuhi kebutuhan natrium hariannya hanya dari ASI dan susu formula.

Bayi berumur 7–12 bulan dapat memenuhi kebutuhannya dari ASI alias susu formula, serta sejumlah mini natrium yang secara alami terdapat dalam makanan pendamping yang tidak melalui proses pengolahan.

Karena itu, para mahir merekomendasikan agar tidak dilakukan penambahan garam maupun gula secara berlebihan ke makanan bayi selama 12 bulan pertama.

Tanda-tanda bayi mengonsumsi terlalu banyak garam

Jika bayi mengonsumsi makanan yang terlalu asin, dia mungkin terlihat lebih haus dari biasanya.

Biasanya, Bunda mungkin tidak bakal langsung memandang akibat pola makan tinggi garam, lantaran efeknya dapat muncul seiring waktu.

Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, bayi yang mengonsumsi terlalu banyak garam dapat mengalami hipernatremia, suatu kondisi ketika kadar natrium yang beredar dalam darah terlalu tinggi.

Jika tidak ditangani, hipernatremia dapat menyebabkan bayi yang awalnya tampak rewek dan resah menjadi mengantuk, lesu, dan akhirnya tidak responsif setelah beberapa waktu.

Makanan yang mengandung garam tinggi 'tersembunyi' 

Dikutip dari Baby Centre, ada beberapa jenis makanan yang sebenarnya mengandung garam tersembunyi dan sebaiknya tidak diberikan kepada bayi terlalu sering.

Termasuk di antaranya makanan siap saji, makanan kemasan, makanan kalengan, serta makanan untuk orang dewasa seperti kerupuk.

Sebaliknya, pilih makanan yang rendah garam untuk asupan sehari-hari bayi. Misalnya seperti buah, sayuran, menu daging tanpa tambahan bumbu, menu daging unggas dan ikan segar, telur dan kacang-kacangan.

Perlu diperhatikan bahwa keju sebenarnya juga mengandung garam, tetapi merupakan sumber kalsium dan protein yang baik dalam pola makan bayi.

Supaya lebih aman, sebaiknya jangan terlalu sering menggunakannya dalam makanan bayi dan jika mau digunakan, cukup dalam jumlah sedikit saja.

Itulah penjelasan tentang umur berapa bayi boleh makan garam. Intinya, bayi hanya memerlukan sedikit garam dalam pola makan sehari-hari lantaran tubuh mereka belum bisa mengolah garam dalam jumlah besar.

Bayi yang terlalu banyak mengonsumsi garam lebih berisiko mengalami kerusakan ginjal, tekanan darah tinggi, dan apalagi kemungkinan peningkatan akibat penyakit jantung di kemudian hari.

Usahakan untuk tidak menambahkan garam ke makanan bayi ketika usianya di bawah 12 bulan. Setelah usia 1 tahun, Bunda dapat memasukkan sedikit garam ke dalam menu makanannya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya
Sumber Portal Kesehatan Ibu dan Anak
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting