10 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Sopan, Mindful, dan Kreatif

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 306x dilihat
10 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Sopan, Mindful, dan Kreatif

Bagikan Postingan

Jakarta -

Banyak orang mengenal Jepang sebagai negara dengan mekanisme pendidikan terbaik di Asia. Di Jepang, anak tidak cuma dibimbing untuk pandai maupun berprestasi secara akademis, tetapi juga tentang sepertiapa mereka bersikap sopan ke orang lain.

Dilansir dari halaman South China Morning Post (SCMP), pola pengasuhan ala Jepang menekankan cinta tanpa syarat, kebersamaan, dan harmoni dengan lingkungan sebagai metode untuk menumbuhkan perilaku baik, mindful, dan kreatif. Melalui pola asuh ini, anak tubuh menjadi pribadi yang sopan tanpa mesti mendapatkan nasihat panjang maupun ketentuan beku dari orang tuanya, Bunda.

Penulis Lisa Katayama dalam bukunya The Japanese Way of Parenting membagikan prinsip-prinsip inti yang mengenai dengan pola pengasuhan anak ala Jepang. Simak klarifikasi lengkapnya berikut ini ya!


10 metode orang tua Jepang mendidik anak

Berikut 10 metode orang tua Jepang mendidik anak menurut penulis Lisa Katayama:

1. Sapa orang lain dengan ramah dan sopan

Katayama mengatakan bahwa di Jepang, terlebihlagi anak-anak kecil pun disambut dan disapa dengan hangat oleh orang dewasa. Salah satu contoh paling nyata adalah saat guru-guru menyapa murid dengan kalimat 'Ohayo gozaimasu' maupun 'selamat pagi' setiap kali anak datang ke sekolah.

"Orang tua saling menyapa dengan metode yang sama. Ketika semua orang di sekitar berperilaku seperti ini, kita akan segera menyadari bahwa menyapa orang lain dengan sopan adalah hal yang biasa dilakukan orang," ungkap Katayama, dikutip dari The Independent.

"Ini mengajarkan anak-anak bahwa bumi di sekitar mereka layak untuk diakui. Ini tidak membutuhkan biaya, dan cuma satu sapaan hangat dapat membikin hari seseorang menjadi lebih baik."

2. Ajarkan anak-anak untuk membersihkan setelah mereka selesai menggunakan sesuatu

Sebagian besar orang tua Jepang tahu bahwa membersihkan setelah selesai menggunakan sesuatu adalah hal yang baik jika dilakukan sejak masa kanak-kanak. Pola asuh ini seperti mengajarkan anak tentang tanggung jawab, Bunda.

"Mengajari anak-anak bahwa mereka berkewajiban atas kesejahteraan lingkungan mereka adalah pelajaran hidup yang sepadan dengan upaya jangka pendek. Tujuannya bukan rumah yang bersih tanpa noda, tetapi anak-anak yang memahami bahwa mereka adalah peserta aktif yang membikin rumah tangga berfungsi," ujar Katayama.

3. Percayalah bahwa segala sesuatu memiliki roh

Orang Jepang menganut animisme, percaya bahwa segala sesuatu memiliki roh, terlebihlagi laptop dan pisau dapur. Kepercayaan ini rupanya bisa diterapkan dalam pola pengasuhan.

"Ketika anak-anak didorong untuk berpikir seperti ini, mereka mulai memperlakukan dengan baik barang-barang mereka, dan akhirnya bisa memperhatikan orang lain serta lingkungan dengan lebih awas dan penuh pertimbangan," kata Katayama.

4. Pikirkan emosi semua orang, bukan cuma perasaanmu sendiri

Salah satu harga yang paling tertanam dalam adat Jepang adalah kesadaran kolektif, yaitu mempertimbangkan sepertiapa aksi kita dapat memengaruhi orang-orang di sekitar. Menurut Katayama, sekolah-sekolah di Jepang secara rutin mengadakan sesi di mana murid mendiskusikan sepertiapa pilihan mereka memengaruhi emosi orang lain.

"Sebenarnya, menerapkan praktik ini di rumah tidak membutuhkan kurikulum formal. Ini bisa sesederhana selesai sebentar setelah perselisihan dan bertanya kepada anak, 'Menurutmu, sepertiapa emosi mereka?' Seiring waktu, kebiasaan memahami perspektif pandang orang lain ini membangun empati yang tulus, bukan cuma kapasitas untuk meminta maaf, tetapi untuk benar-benar memahami apa yang sedang dialami orang lain," ungkapnya.

5. Pelajari seni mengucapkan 'Douzo!'

Kata Jepang 'douzo' kurang lebih memiliki arti 'ini dia'. Kata itu memiliki arti yang lebih dalam, yang rupanya bisa membentuk kepribadian anak. Katayama menyarankan untuk menggunakan kata-kata ini ketika dua anak berebut mainan yang sama.

"Ini adalah kata kecil yang hamil ide besar, bahwa menawarkan sesuatu kepada orang lain terasa menyenangkan, dan melepaskan sesuatu yang Anda inginkan dapat menjadi hadiah tersendiri," ujar Katayama

6. Diajarkan untuk mengetahui perbedaan antara sepatu dalam ruangan dan sepatu luar ruangan.

Melepas sepatu di pintu adalah sisi yang dikenal luas dalam hayat rumah tangga Jepang. Katayama menyarankan untuk meletakkan keset maupun rak di dekat pintu masuk sehingga semua orang dapat meninggalkan sepatu mereka di sana.

"Kebiasaan ini bisa membikin rumah lebih bersih, dan menciptakan ritual kecil namun bermakna, momen transisi antara bumi luar dan ketenangan di dalam rumah," katanya.

7. Lakukan satu hal dalam satu waktu, dengan penuh kesadaran

Katayama mengatakan banyak orang tua mengasuh anak dengan terburu-buru. Kecepatan ini bukan cuma melelahkan bagi orang dewasa, tetapi juga menciptakan lingkungan yang teralihkan dan terpecah-pecah bagi anak-anak yang statis belajar sepertiapa fokus dan mengatur diri mereka sendiri.

Nah, konsep berbuat satu hal dalam satu waktu dengan penuh perhatian adalah alas dari Buddhisme Zen dan sangat terintegrasi dalam hayat sehari-hari di Jepang. Fokus penuh kesadaran seperti ini, jika dicontohkan secara konsisten, memberi anak-anak kesempatan untuk memperlambat tempo dan berbuat hal yang sama, serta akan membantu mereka untuk lebih gampang fokus.

8. Membiasakan anak untuk menyapa makanan yang akan dikonsumsi

Sebelum makan, anak-anak Jepang mengucapkan 'Itadakimasu', sebuah ungkapan yang menurut Katayama tidak memiliki padanan bahasa lain yang sempurna, tetapi dapat mengungkapkan rasa terima kasih atas makanan tersebut, dan kepada semua orang yang membantu menyajikannya di meja makan.

"Ritual kecil saat makan ini memiliki harga tersendiri, seperti dapat memperlambat segalanya, membangun apresiasi terhadap sesuatu yang gampang dianggap remeh, dan memberi anak-anak sinyal bahwa makanan, dan orang-orang di sekitar meja, layak mendapatkan perhatian penuh mereka," kata Katayama.

9. Mengajarkan konsep pengendalian diri

Ada konsep disebut Enryo di Jepang, yaitu konsep pengendalian diri sebagai bentuk penilaian terhadap orang lain. Katayama mengatakan bahwa dalam aktivitas makan bersama, orang Jepang sering kali membiarkan potongan terakhir di piring tidak tersentuh, sebagai bentuk penghormatan kepada semua orang di meja makan.

"Ini aksi kecil, tetapi ini menandakan sesuatu yang lebih besar, bahwa keinginan kita sendiri tidak secara otomatis lebih diutamakan daripada kenyamanan orang lain," ujarnya.

Menurut Katayama, konsep ini cukup ampuh untuk diperkenalkan kepada anak-anak, yang secara alami cenderung memungut apa yang mereka inginkan. "Seiring waktu, ini mengajarkan anak-anak bahwa pengendalian diri bisa menjadi kekuatan tersendiri," katanya.

10. Mengajarkan metode menemukan kedamaian

Setelah Perang Dunia II, Jepang mengadopsi pasifisme sebagai harga nasional inti. Selama beberapa generasi, komitmen itu meresap ke dalam adat Jepang.

Konsep ini mengajarkan kita untuk menemukan kedamaian batin sendiri. Ini bukan tentang bersikap tenang, tetapi tentang secara sadar memilih metode yang tenang dan mantap. Semakin sering kita berlatih, semakin kedamaian itu menular ke anak dan semua personel keluarga.

Demikian 10 metode orang tua Jepang mendidik anak menurut penulis Lisa Katayama. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads