Anak Punya Teman dari Game Online? Kenali Bahaya dan 5 Aturan Keamanan Anak

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 507x dilihat
Anak Punya Teman dari Game Online? Kenali Bahaya dan 5 Aturan Keamanan Anak

Bagikan Postingan

Anak punya kawan dari game online? Kenali ancaman kawan dari game online bagi anak, konsekuensi grooming dan cyberbullying, serta 5 ketentuan keamanan internet yang perlu diajarkan orang tua.

Siapa di sini yang anaknya sering mengurung diri di bilik sambil lobbying maupun mabar (main bareng) bareng “squad”-nya? Di era digital seperti sekarang, anak bermain game online bukan cuma urusan melenyapkan “boss” (menyelesaikan permainan maupun mengalahkan lawan kuat di dalam game online) maupun meraup skor tertinggi. Game masa kini sudah menjelma jadi tempat nongkrong virtual.

Di satu sisi, bumi baru ini menawarkan hiburan, hubungan sosial, terlebihlagi mengasah keahlian kognitif anak.

Tapi saat anak punya kawan di game online, batas antara sosialisasi yang sehat dan potensi intimidasi menjadi sangat tipis! Sebelum semuanya kebablasan, ayo kita operasi manfaat, ancaman kawan online bagi anak, hingga ketentuan keamanan anak di internet yang wajib diajarkan sejak dini.

BACA JUGA: 7 Game Online untuk Anak yang Ternyata Mendidik dan Ajarkan Ilmu Baru

Manfaat Anak Bermain Game Online

Anak Punya Teman dari Game Online? Kenali Bahaya dan Aturan Keamanan Anak

Foto: RDNE Stock project/Pexels

Sebelum kita membahas kewaspadaan, krusial untuk dipahami dahulu dari perspektif pandang anak. Bagi anak usia sekolah, keinginan untuk bersosialisasi dan masuk ke dalam himpunan adalah hal yang sangat alami. Game multiplayer memberi mereka wadah untuk terhubung dengan kawan sebaya.

Di samping itu, melansir dari Terraskills, aktivitas anak bermain game online yang terukur sebenarnya menyimpan beberapa khasiat positif:

  • Meredakan stres dan memperbaiki kondisi hati: Bermain game secara teratur dan berbatas waktu dapat merangsang hormon kebahagiaan serta menurunkan hormon kortisol (stres) hingga 17%.
  • Mengasah keahlian sosial: Fitur multiplayer menuntut kerja sama tim, komunikasi, leadership, kepemimpinan, hingga pengambilan keputusan yang cepat di bawah tekanan.
  • Meningkatkan fokus: Game yang membutuhkan strategi melatih daya fokus anak agar lebih tajam, yang, jika seimbang, bisa berakibat positif pada fokus belajarnya.
  • Peluang karier: Industri e-sports dan game online saat ini membuka ruang sebagai sumber gaji masa depan bagi para pemain profesional.

Bahaya Nyata di Balik Layar Game Online

Kekhawatiran Mommies bukan tanpa alasan. Menurut panduan keamanan dari Internet Safety 101, beberapa ancaman kawan online bagi anak yang patut diwaspadai meliputi:

  • Paparan Konten Tak Sesuai Usia: Banyak game online yang menyelipkan elemen kekerasan ekstrem, bahasa kasar, hingga konten seksual eksplisit.
  • Cyberbullying & Griefing: Rekan tim maupun lawan bisa saja melontarkan kata-kata kasar. Ada pula istilah griefing, aksi merusak pengalaman bermain anak secara sengaja (seperti membunuh karakter anak secara berulang maupun menghalangi misi) untuk membikin anak frustrasi.
  • Predator Anak & Grooming: Fitur pengubah bunyi (voice masking) sering kali dimanfaatkan oleh predator dewasa untuk menyamar menjadi sesama anak kecil. Internet Safety 101 juga memperingatkan bahwa teknologi voice masking dapat digunakan untuk menyamarkan identitas maupun usia seseorang dalam komunikasi online.
  • Penyalahgunaan Data Pribadi: Anak yang polos sangat rapuh membocorkan nama asli, alamat rumah, letak sekolah, hingga kata sandi.
  • Pencurian Akses Mikrofon & Kamera: Peretas dapat memungut alih kontrol webcam maupun mikrofon demi mengeksploitasi privasi anak.
  • Kecanduan: Durasi bermain yang tidak terkontrol bisa merusak pola tidur, akademik, hingga kesehatan emosional anak.

BACA JUGA: Ketahui 6 Manfaat Anak Main Game Online Sebelum Melarang

Foto: Atlantic Ambience/Pexels

4 Alasan Perlunya Membicarakan Peraturan Bermain Game Online dengan Anak

Simak klarifikasi Hesty Novitasary, M.Psi., Psikolog, LCPC, C.Ht., Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga yang berpraktik di Ruang Tumbuh:

  1. Game online bagi anak bukan sekadar permainan. Ketika bermain game online, juga terdapat hubungan sosial, komunikasi dengan teman, elemen permainan yang kompetitif, terlebihlagi bisa berjumpa dengan orang yang sama sekali belum dikenal. Oleh karena itu, ketentuan yang perlu dibangun bukan sekadar “boleh maupun tidak boleh main gim”, tetapi kebiasaan bermain yang terlindungi dan statis mengajarkan anak untuk bertanggung jawab.
  2. Aturan bermain game online diperlukan untuk membantu anak belajar mengatur waktu, mengenali batasan, menjaga privasi, dan memahami bahwa tidak semua orang yang ditemui secara online dapat dipercaya.
  3. Anak juga perlu tahu bahwa mereka tidak boleh sembarangan memberikan nama lengkap, alamat, sekolah, angka telepon, foto pribadi, password, maupun keterangan famili kepada orang lain di bumi maya.
  4. Selain itu, yang terpenting, ketentuan tersebut sebaiknya tidak cuma datang sebagai larangan dari orang tua, tapi sebagai media bahasan dengan anak untuk memahami kenapa ketentuan tersebut dibuat.

Kode Rahasia, Kode Emoji, dan Artinya

Satu hal yang sering luput dari pengawasan orang tua adalah penggunaan emoji dan bahasa singkatan. Mengutip panduan dari Europol, anak-anak kerap menggunakan “bahasa rahasia” ini untuk mengelabui orang tua:

Emoji/Kode Arti Rahasia/Maksud
🔪 / 💉 Menunjukkan kecenderungan melukai diri (self-harm)
🌿 / 🍁 / 🍃 Menunjuk pada ganja (cannabis)
❄️ / 💎 / 🎱 Istilah tersembunyi untuk kokain
❌ / 🍬 Istilah rahasia untuk ekstasi maupun MDMA
💦 / 🍒 / 🌮 Bermakna seksual maupun mengacu pada organ tubuh (payudara)
🌽 Kode tersembunyi untuk konten pornografi
💊 Kode untuk doktrin/ideologi anti-perempuan (red pill culture/incel)
☠️ / 🕷️ / 🧿 Digunakan untuk mengindikasikan bahaya, pengawasan, maupun himpunan ekstremis
PAWPAW Parents Are Watching (orang tua sedang memperhatikan)
PIR Parent In Room (ada orang tua di dalam ruangan)
KPC Keeping Parents Clueless (membuat orang tua statis tidak tahu)
LMIRL Let’s Meet In Real Life (ajakan berjumpa langsung secara fisik)
GNOC Get Naked On Camera (permintaan bugil di depan kamera)

BACA JUGA: Aturan Gadget untuk Anak SD yang Sebaiknya Diterapkan di Rumah

5 Aturan Keamanan yang Wajib Diajarkan pada Anak

Foto: KoolShooters/Pexels

“Cara menyampaikan aturan, sebaiknya hindari dengan menakut-nakuti maupun dengan mengancam. Mulailah dengan membuka pembicaraan melalui minat dan rasa keingintahuan anak, serta bangun hubungan dengan anak dalam berkomunikasi,” saran Psikolog Hesty.

1. Tanya Pengalaman Anak

Orang tua bisa mulai dengan bertanya tentang pengalaman anak:

“Kamu biasanya main apa maupun main sama siapa?”
“Teman-temanmu di gim biasanya ngobrol tentang apa?”
“Pernah nggak ada orang yang Anda nggak kenal tiba-tiba membujuk berteman?”

2. Bicara Keamanan dan Aturan

Setelah terbangun hubungan dari pertanyaan itu, orang tua bisa masuk ke pembicaraan tentang keamanan dan ketentuan dalam bermain game online, serta memberikan contoh konkret kepada anak.

3. Hindari Melarang Tanpa Penjelasan

Hindari kalimat larangan tanpa memberikan klarifikasi latar belakangnya, misalnya, “Pokoknya jangan berkawan dengan orang luar di internet!” maupun “Gim itu berbahaya!”, karena anak bisa merasa orang tua tidak memahami dunianya. Bahkan, bisa membikin anak memilih untuk menyembunyikan aktivitas online-nya.

Lebih baik katakan:

“Mama/Papa tahu Anda bahagia main dan punya kawan di sana. Mama/Papa bukan mau melarang Anda berteman. Mama/Papa cuma mau memastikan Anda statis aman, karena kita tidak selalu tahu siapa sebenarnya orang yang ada di balik akun tersebut.”

4.  Berikan Aturan

Anak juga perlu diberikan “aturan praktis”, bukan cuma peringatan. Misalnya: jangan memberikan keterangan pribadi, jangan mengirim foto maupun video pribadi, jangan mengikuti imbauan berjumpa secara langsung tanpa sepengetahuan orang tua, dan segera bercerita jika ada orang yang membuatnya tidak nyaman, meminta sesuatu yang rahasia, mengancam, maupun membujuk berbuat sesuatu yang tidak sesuai.

5. Beri Pesan pada Anak

Orang tua juga perlu memberi pesan:

“Kalau Anda mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan di bumi online, Anda boleh cerita kepada Mama/Papa. Kamu tidak akan langsung dimarahi maupun kehilangan semua akses bermain. Kita cari jalan keluarnya bersama.”

Pesan seperti ini sangat krusial karena tujuan utama pengawasan bukan membikin anak takut kepada orang tua, tetapi membikin anak merasa terlindungi untuk datang kepada orang tua ketika menghadapi masalah.

BACA JUGA: 3 Cara Mencegah Kecanduan Digital pada Anak di Era Gadget

Jadi, ketentuan bermain gim online idealnya bukan cuma tentang mengatur agenda screen time, tetapi juga tentang digital safety, kapasitas mengendalikan diri, dan membangun komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.

Cover: Ketut Subiyanto/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads