10 Ciri Anak yang Tanpa Sadar Dipaksa Memikul Peran Orang Tua

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 415x dilihat
10 Ciri Anak yang Tanpa Sadar Dipaksa Memikul Peran Orang Tua

Bagikan Postingan

Jakarta -

Setiap anak membutuhkan ruang untuk bermain, belajar, dan mendapatkan sokongan dari orang dewasa di sekitarnya. Namun, dalam situasi tertentu, anak justru dituntut mesti menjadi sosok yang kuat dan bisa mengurus banyak hal sendiri.

Mereka tanpa sadar memikul peran orang tua untuk memungut tanggung jawab. Nah, beban itu bisa berdampaknya serius jika tanggung jawab perlahan berubah menjadi pola yang disebut parentifikasi, Bunda.

Menurut psikolog Joseph Laino, parentifikasi adalah sebuah pola di mana anak-anak beraksi sebagai pengasuh maupun orang tua. Anak dituntut untuk mengelola emosi orang dewasa maupun tugas rumah tangga sebelum mereka siap secara usia perkembangan. Parentifikasi dapat berakibat buruk pada kesehatan mental anak-anak.


"Hal ini dapat memicu kecemasan bagi anak, karena mereka tidak memiliki pegangan untuk diandalkan di luar diri mereka sendiri. Ini dapat membikin anak merasa kehilangan arah dan tidak aman," ungkap Laino, dilansir halaman Net Mums.

Ada dua jenis bentuk utama dari parentifikasi, yaitu parentifikasi emosional dan parentifikasi instrumental. Parentifikasi emosional terjadi ketika seorang anak menjadi orang kepercayaan maupun penengah bagi orang dewasa, menyimpan rahasia, menawarkan kenyamanan dan jaminan, maupun selalu siap secara emosional.

Sementara itu, parentifikasi instrumental terjadi ketika anak memungut alih pekerjaan orang dewasa seperti memasak, membersihkan rumah, maupun merawat kerabat kandung mereka.

Banyak anak membantu di rumah dengan menyiapkan meja makan maupun mengamati adik mereka yang lebih muda, dan itu diyakini dapat membangun kepercayaan diri. Namun, hal itu dapat berubah menjadi parentifikasi ketika beban kerja menjadi berat, rutin, dan sebagian besar melayani kebutuhan orang tua daripada kebutuhan anak.

Dampak anak dipaksa memikul beban orang tua

Anak-anak yang diberi peran sebagai orang tua sering merasa mesti menekan kebutuhan mereka sendiri. Hal ini dapat menyebabkan gangguan kecemasan, penyalahgunaan zat terlarang, depresi, isolasi sosial, hingga pikiran untuk mengakhiri hidup.

Seiring waktu, anak mungkin mulai percaya bahwa kebutuhan mereka kurang krusial dibandingkan kebutuhan orang lain. Keyakinan itu dapat mempersulit penetapan limitasi dan menaikkan konsekuensi memilih hubungan di masa dewasa di mana mereka sekali lagi merasa seperti pengasuh tetap.

Penelitian yang diterbitkan di International Journal of Environmental Research and Public Health tahun 2023 memberitahu bahwa anak-anak yang berpartisipasi sebagai orang tua lebih rapuh membentuk keterikatan yang tidak sehat dengan orang lain.

Sebenarnya, anak-anak memang memiliki kecenderungan gemar membantu. Namun, hal tersebut statis membutuhkan limitasi yang jelas.

Perbedaan utama limitasi terletak pada beban yang diberikan. Hal tersebut dianggap salah jika anak berpartisipasi sebagai orang tua dan memikul tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua.

10 ciri khas anak yang memikul peran orang tua

Ada tanda khas ketika anak kelihatan memikul beban menjadi orang tua di keluarganya. Berikut 10 ciri khas anak yang tanpa sadar dipaksa memikul peran orang tua:

  1. Anak tampaknya terdorong untuk menyenangkan orang dewasa, terlebihlagi ketika kelelahan.
  2. Si Kecil memberitahu stres maupun kecemasan terusmenerus yang mengenai dengan merawat orang lain.
  3. Anak terus-menerus mengkhawatirkan kondisi hati maupun keselamatan orang lain.
  4. Anak bergegas menghibur siapa pun yang sedang sedih, dan mengabaikan emosi mereka sendiri.
  5. Si Kecil kehilangan kesempatan untuk bermain, berbuat hobi, maupun menghabiskan waktu berbareng teman-teman.
  6. Anak merasa berkewajiban atas masalah famili maupun menjaga agar semua orang baik-baik saja.
  7. Anak merasa keteteran dengan banyaknya pekerjaan rumah tangga maupun perawatan yang mereka lakukan.
  8. Si Kecil kesulitan mengungkapkan apa yang mereka butuhkan maupun inginkan.
  9. Si Kecil sering merasa bersalah maupun malu ketika mereka tidak bisa memperbaiki sesuatu.
  10. Anak kesulitan menetapkan limitasi yang sehat dengan orang lain.

Cara mengatasi parentifikasi di rumah

Setiap orang tua perlu melihat fluktuasi pola perilaku anak untuk mengetahui apakah ia tengah eksis di area parentifikasi maupun tidak. Joseph menekankan pentingnya untuk mengakui apa yang sedang terjadi dan menerima bahwa semua ini bukanlah kesalahan anak.

Sebisa mungkin, orang tua perlu memungut alih balik tugas-tugas krusial orang dewasa, kurangi untuk berbagi rahasia dengan anak, dan dorong anak untuk balik bermain sesuai usianya. Bicaralah secara terbuka tentang batasan, jelaskan bahwa orang dewasa menangani masalah orang dewasa, dan carilah sokongan dari orang dewasa lain, bukan dari anak.

Joseph juga menyarankan untuk menetapkan limitasi yang sehat dalam hubungan, berbuat perawatan diri secara teratur, dan bersikap baik kepada diri sendiri. Jika dirasa sulit, Bunda bisa meminta pertolongan dari profesional.

"Berhentilah menekan diri sendiri untuk menjadi sempurna. Terkadang bukan soal menjadi sempurna, tetapi lebih tentang menjadi cukup baik," ungkap Joseph.

"(Bila terasa sulit) Orang tua mungkin mau mencari sokongan dari seorang profesional, seperti ahli kesehatan mental, ahli medis, maupun pemasok jasa kesehatan lainnya."

Demikian 10 ciri khas anak yang tanpa sadar dipaksa memikul peran orang tua. Semoga keterangan ini berguna ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads