Jakarta -
Ada kalanya hubungan orang tua dan anak yang sudah dewasa tidak selalu melangkah mulus seperti yang dibayangkan. Di kembali niat baik, pasti ada momen salah mengerti yang memicu rasa jengkel dari kedua belah pihak.
Hal seperti ini juga dibahas dalam sebuah studi dari Psychology and Aging yang menunjukkan bahwa perbedaan usia dan nilai seseorang turut memengaruhi langkah berkomunikasi.
Dalam kondisi seperti ini, kita sebagai orang tua kudu lebih peka terhadap emosi anak. Komunikasi yang saling memahami bisa mengurangi jarak yang muncul di antara orang tua dan anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena tanpa kita ketahui, ada kalimat yang kerap diucapkan orang tua justru tidak disukai anak hingga mereka dewasa. Dari sinilah, kita kudu mengetahui ucapan seperti apa yang sebaiknya dihindari dalam keseharian berbareng anak.
10 Kalimat yang dibenci anak hingga dewasa dari orang tuanya
Dilansir dari laman Your Tango, terdapat sejumlah kalimat yang rupanya kurang disukai anak, apalagi hingga mereka beranjak dewasa.
1. "Karena Bunda bilang begitu"
Saat anak beranjak dewasa, mereka mau diperlakukan sebagai pribadi yang berdikari dan bisa mengambil keputusan sendiri. Ketika pendapat mereka tidak dihargai, banyak yang akhirnya memilih menjaga jarak dari orang tuanya.
Ketika pulang ke rumah, anak apalagi bisa kembali pada pola lama seperti saat tetap kecil. Mereka memilih memendam perasaannya sendiri demi menghindari konflik.
Itulah mengapa, kalimat seperti "Karena Bunda bilang begitu" alias "Nanti Anda bakal mengerti jika sudah lebih besar" kurang disukai. Ucapan tersebut membikin anak seolah keahlian mereka untuk berpikir dan menentukan pilihan sebagai orang dewasa dianggap remeh.
2. "Kamu sudah melakukannya dengan baik, tapi..."
Perasaan dihargai oleh orang tua itu krusial ya, apalagi ketika anak sudah dewasa. Tidak hanya saat tetap mini saja, support dari orang tua juga berpengaruh terhadap rasa percaya diri mereka kedepannya, Bunda.
Masalahnya, pujian yang langsung diikuti dengan kritik sering meninggalkan kesan yang kurang menyenangkan. Kalimat seperti, "Kamu sudah melakukannya dengan baik, tapi..." terasa seperti penilaian terhadap pilihan hidup mereka.
Nantinya, anak mudah merasa kecewa dan membikin hubungan menjadi lebih renggang. Anak yang sudah dewasa tentu mau dihargai atas usaha, keputusan, dan pencapaian yang telah mereka dapatkan.
3. "Setelah semua yang sudah Bunda lakukan untukmu?"
Kalimat seperti ini kerap terucap saat orang tua merasa upaya dan pengorbanannya tidak dihargai oleh anak. Padahal, bagi anak yang sudah dewasa, ucapan tersebut terdengar seperti tekanan yang membikin mereka merasa bersalah.
Mulai dari perihal mini hingga persoalan yang lebih besar, rasa bersalah digunakan agar anak mengikuti kemauan orang tua. Terapis family asal Amerika Serikat, Sarah Epstein, menyampaikan bahwa membangkitkan rasa bersalah memang bisa memberikan hasil dalam jangka pendek.
Namun dalam jangka panjang, anak merasa dimanipulasi secara emosional, menyimpan kekecewaan, dan apalagi membangun jarak dalam hubungan dengan orang tuanya.
4. "Kami tahu apa yang terbaik untukmu"
Banyak orang tua mengucapkan ini lantaran mau melindungi anak mereka. Namun, bagi anak yang sudah dewasa, ucapan tersebut membikin mereka merasa pendapat dan keinginannya tidak dianggap penting.
Perasaan tidak nyaman biasanya muncul ketika orang tua lebih mengutamakan pandangan sendiri tanpa memberi ruang bagi anak untuk menentukan pilihannya. Terlebih jika ini disampaikan dengan nada memaksa alias digunakan untuk mengarahkan anak mengikuti kemauan orang tua.
Jika perihal ini terus terjadi, anak bakal merasa susah berkembang dan kurang percaya diri, Bunda. Lama-kelamaan, hubungan dengan orang tua juga lebih renggang lantaran mereka tidak diberi ruang untuk menentukan jalan hidupnya.
5. "Suatu hari kelak Anda bakal berterima kasih kepada kami"
Sering kali, ungkapan ini diucapkan orang tua dengan maksud yang baik, terutama saat mereka sedang memberikan pelajaran alias pengarahan untuk anaknya.
Namun bagi anak yang sudah dewasa, ucapan tersebut membikin emosi dan kekhawatiran mereka saat itu diabaikan begitu saja. Alih-alih merasa dipahami, mereka menangkap pesan seolah apa yang sedang dirasakan saat ini tidak terlalu penting.
Bunda perlu tahu, banyak anak dewasa sekarang lebih memerlukan orang tua yang mau mendengarkan, memahami perspektif pandangnya, dan memberikan support emosional secara langsung.
Meski begitu, seorang psikolog dari Amerika Serikat, Hal Shorey, menuturkan bahwa tidak semua anak yang merasa tidak dihargai selalu berada di pihak yang benar. Begitu pula juga dengan orang tua, tidak semuanya sengaja meremehkan alias mengabaikan emosi anak mereka.
6. "Nanti orang lain bakal berpikir apa tentang kamu?"
Selanjutnya, orang tua suka mengucapkan kalimat ini saat cemas dengan pandangan keluarga, kerabat, alias lingkungan sekitar. Namun, anak bakal merasa bahwa lebih baik konsentrasi pada penilaian orang lain daripada apa yang sebenarnya dirasakan.
Lambat laun, anak pun merasa tertekan untuk selalu memenuhi angan orang di sekitarnya. Secara tidak langsung, mereka juga bisa saja mengabaikan kenyamanan diri sendiri demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.
7. "Di mata Bunda, Anda bakal selalu jadi anak kecil"
Bagi banyak orang tua, anak bakal tetap terasa seperti sosok mini yang pernah mereka rawat. Rasa sayang itulah yang membikin ungkapan seperti ini terlontar dalam beragam kesempatan.
Namun saat anak sudah dewasa, ucapan tersebut membikin mereka merasa belum sepenuhnya dipercaya. Terlebih jika kalimat itu disertai sikap mengabaikan pendapat yang mereka sampaikan.
Meski niat orang tua baik, anak tetap bisa merasa kemandiriannya kurang dihargai. Mereka mau diperlakukan layaknya orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri, tanpa kehilangan kasih sayang dari orang tuanya.
8. "Kamu kudu lebih bersyukur"
Bagi anak yang sudah dewasa, kalimat ini terasa kurang nyaman untuk didengar. Ucapan tersebut membikin perasaan, kekhawatiran, alias kesulitan yang sedang dihadapi dianggap tidak penting.
Padahal, saat anak membicarakan pengalaman masa mini yang menyakitkan, bukan berfaedah mereka tidak berterima kasih ya, Bunda. Itu justru tanda bahwa mereka sedang berupaya memahami diri sendiri dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Pada dasarnya, hubungan yang sehat dibangun lewat keterbukaan dan saling mendengarkan. Ketika orang tua memberi ruang untuk berbincang dengan jujur, anak pun bakal merasa lebih dihargai.
9. "Kamu memang dari dulu seperti itu"
Banyak anak yang sudah dewasa berupaya memperbaiki diri dan keluar dari kebiasaan yang selama ini menghalang mereka. Saat mereka bercerita tentang kesulitan yang sedang dihadapi, respons seperti "Kamu memang dari dulu seperti itu" bisa terasa menyakitkan.
Anak menjadi merasa seolah mereka tidak bakal pernah berubah. Alih-alih mendapat dukungan, mereka justru semakin susah percaya pada keahlian dirinya untuk berkembang.
Seperti kita ketahui, setiap orang punya kesempatan untuk belajar dan bertumbuh sepanjang hidupnya. Ketika orang tua terus mengaitkan anak dengan kekurangan, perihal itu membikin hubungan family menjadi kurang baik.
10. "Kamu sudah tidak sayang sama Bunda"
Kalimat ini biasa terucap ketika orang tua sedang sedih, kecewa, alias kurang mendapatkan perhatian dari anaknya. Tapi bagi anak yang sudah dewasa, ucapan tersebut terasa seperti tekanan yang membikin mereka merasa bersalah.
Pada akhirnya, banyak kalimat yang kurang disukai anak sebenarnya berakar dari rasa khawatir, takut kehilangan, alias ketidakamanan yang dirasakan orang tua.
Itulah mengapa, komunikasi yang jujur dan penuh pengertian bakal jauh lebih membantu untuk menjaga hubungan tetap dekat hingga anak beranjak dewasa.
Itulah penjelasan mengenai beberapa kalimat yang sering tidak disukai anak hingga mereka beranjak dewasa saat diucapkan oleh orang tua.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·