11 Ciri Kepribadian Orang yang Tak Pernah Posting Kehidupan Pribadi di Media Sosial

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 9 menit 505x dilihat
11 Ciri Kepribadian Orang yang Tak Pernah Posting Kehidupan Pribadi di Media Sosial

Bagikan Postingan

Bunda mungkin pernah memperhatikan kenalan yang nyaris tidak pernah membagikan kehidupan pribadinya di media sosial (medsos). Atau, jangan-jangan justru Bunda sendiri? Di akun media sosialnya tidak ada foto liburan, ulang tahun, kehidupan keluarga, apalagi momen-momen sederhana sehari-hari.

Selama ini, media sosial memang membikin berbagi kehidupan pribadi terasa seperti sesuatu yang biasa. Karena itu, ketika seseorang tiba-tiba berakhir posting, orang di sekitarnya mungkin bertanya-tanya. Apakah sedang ada masalah? Apakah dia menjauh? Apakah dia kesepian?

Belum tentu juga, Bunda. Tidak banyak berbagi di media sosial bukan berfaedah seseorang tidak punya kehidupan sosial, lho. Ada orang yang memang memilih tidak banyak membagikan kehidupan pribadinya di ruang publik.


Lantas, seperti apa karakter kepribadian orang yang tak pernah memposting kehidupan pribadinya di medsos?

Ciri kepribadian orang yang tidak pernah posting kehidupan pribadi di media sosial

Seseorang yang tidak sering membagikan kehidupan pribadinya di medsos tidak otomatis berfaedah kesepian, antisosial, alias tak mempunyai kehidupan sosial. Bisa jadi, mereka merasa lebih nyaman menyimpan sebagian kehidupannya untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat.

Psikologi justru memandang bahwa keputusan mengurangi postingan di medsos dapat berangkaian dengan beragam hal. Mulai dari kebutuhan bakal privasi, keamanan emosional, dan kemauan menjalani hidup yang lebih autentik, hingga berkurangnya kebutuhan untuk mendapat pengesahan dari orang lain.

Salah satu penjelasannya dapat dilihat melalui teori penentuan diri alias Self-Determination Theory yang dikembangkan psikolog Edward Deci dan Richard Ryan. Teori ini menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis dapat meningkat ketika seseorang lebih banyak digerakkan oleh motivasi dari dalam dirinya, bukan semata-mata oleh hadiah alias pengakuan dari luar.

Dalam teori tersebut, manusia mempunyai kebutuhan bakal otonomi, kompetensi, dan keterkaitan dengan orang lain. Sementara itu, media sosial sering kali memberikan corak pengesahan eksternal melalui jumlah suka, komentar, bagikan, alias reaksi dari orang lain.

Untuk sebagian orang, ketika kebutuhan untuk mendapatkan pengesahan tersebut berkurang, mengunggah kehidupan pribadi ke ruang publik pun bisa terasa tidak lagi terlalu penting. Mereka mungkin lebih menikmati pengalaman itu sendiri tanpa merasa perlu mengukurnya dari respons orang lain.

Selain itu, bisa saja orang tersebut mulai merasa bahwa tidak semua pengalaman perlu dibagikan kepada publik.

Berikut beberapa karakter kepribadian orang yang jarang alias apalagi tidak pernah memposting kehidupan pribadinya di media sosial, yang dirangkum dari beragam sumber.

1. Memiliki batas pribadi yang kuat

Orang yang jarang memposting kehidupan pribadi biasanya lebih selektif dalam menentukan hal-hal yang mau mereka bagikan di media sosial. Mereka bisa saja tetap aktif menggunakan media sosial, tetapi tidak merasa kudu membagikan semua perihal yang terjadi dalam hidupnya.

Mereka menganggap ada bagian kehidupan yang memang lebih nyaman disimpan sendiri.

Dalam psikologi, perihal ini dapat dikaitkan dengan Privacy Regulation Theory dari psikolog Irwin Altman. Teori ini memandang privasi bukan sebagai corak isolasi, melainkan sebagai proses ketika seseorang mengatur seberapa banyak akses orang lain terhadap dirinya.

Maksudnya, menjaga privasi bukan berfaedah tidak memerlukan orang lain. Seseorang tetap dapat mempunyai hubungan dekat sembari menentukan info mana yang mau dibagikan dan kepada siapa.

2. Lebih selektif dalam membangun kepercayaan

Tidak semua orang nyaman membuka kehidupan pribadinya di ruang publik. Ada yang justru lebih memilih berbagi cerita secara mendalam dengan orang-orang yang sudah mereka percaya.

Ini sesuai dengan Teori Keterikatan (Attachment Theory) yang awalnya dikembangkan oleh psikolog John Bowlby, seperti dilansir YourTango. Teori ini menjelaskan gimana pengalaman awal dalam hubungan dapat memengaruhi langkah seseorang membangun kepercayaan, keintiman, dan hubungan emosional.

Dalam konteks media sosial, seseorang mungkin lebih nyaman berbagi cerita lewat pesan langsung, percakapan pribadi, alias dengan lingkaran pertemanan yang lebih mini daripada mempostingnya untuk dilihat ratusan alias apalagi ribuan orang.

Jarang memposting kehidupan pribadi tidak otomatis berfaedah seseorang punya keahlian sosial yang buruk.

3. Lebih menikmati momen tanpa kudu membagikannya

Ada orang yang jika sedang jalan-jalan langsung sibuk foto-foto buat diunggah. Ada juga yang malah memilih menyimpan ponsel dan menikmati suasananya.

Orang yang jarang posting kehidupan pribadi bisa saja merasa lebih nyaman menjalani pengalaman tanpa terlalu memikirkan gimana momen tersebut bakal terlihat di media sosial. Bukan berfaedah orang yang suka posting tidak bisa menikmati momen. Keduanya tetap bisa dilakukan bersamaan.

Hanya saja, untuk sebagian orang, pengalaman terasa lebih seru ketika tak kudu ditampilkan kepada publik. Fokusnya bukan lagi "bagaimana agar terlihat", tetapi lebih ke "bagaimana agar betul-betul menikmati."

4. Tidak terlalu tertarik dengan drama di media sosial

Media sosial bisa jadi tempat mencari info dan ngobrol dengan orang lain. Tapi jika isinya terlalu ramai, drama, perdebatan, dan konten negatif juga bisa bikin capek. 

Orang yang membatasi kegiatan di media sosial mungkin sengaja menjaga jarak dari hal-hal seperti itu. Mereka nggak merasa kudu ikut berkomentar, ikut berdebat, alias tahu semua perihal yang sedang ramai.

Daripada ikut terseret ke dalam keributan di layar, mereka mungkin lebih memilih menggunakan waktunya untuk kehidupan di luar media sosial.

5. Lebih suka menghabiskan waktu di luar media sosial

Orang yang tidak banyak membagikan kehidupan pribadi belum tentu enggak punya banyak kegiatan. Mereka bisa saja lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, menjalani hobi, mengurus keluarga, berjumpa teman, alias sekadar menikmati waktu sendiri.

Ini bukan berfaedah orang yang jarang posting pasti lebih suka berpikir mendalam alias punya kepribadian tertentu. Yang lebih mungkin, mereka memang tidak menjadikan media sosial sebagai tempat utama untuk menunjukkan apa yang sedang mereka jalani.

6. Tidak terlalu sibuk memikirkan gambaran di media sosial

Media sosial memberi kita kesempatan untuk menentukan seperti apa diri kita mau dilihat orang lain. Foto yang dipilih, caption yang ditulis, sampai hal-hal yang sengaja enggak diunggah bisa ikut membentuk kesan tentang diri kita.

Dalam konsep Impression Management yang dikembangkan oleh sosiolog Erving Goffman, manusia memang dapat berupaya mengatur kesan yang muncul di mata orang lain. Konsep self-presentation ini juga digunakan untuk menjelaskan gimana seseorang menampilkan dirinya kepada orang lain.

Tapi pada sebagian orang, terus memikirkan gambaran seperti itu bisa terasa melelahkan. Akhirnya, mereka memilih mengurangi posting lantaran nggak mau terus merasa kudu menunjukkan jenis tertentu dari dirinya kepada publik.

7. Berusaha hidup sesuai dengan dirinya sendiri

Orang yang menjaga privasi di media sosial bisa mempunyai ruang yang lebih besar untuk menjalani hidup sesuai dengan nilai dan pilihan pribadinya. Mereka nggak selalu merasa kudu mengikuti tren alias menunjukkan bahwa hidupnya sama menariknya dengan orang lain di internet.

Dalam psikologi, autentisitas berangkaian dengan adanya keselarasan antara diri, nilai, dan perilaku seseorang. Orang yang merasa nyaman dengan pilihannya sendiri nggak selalu merasa kudu menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.

Seseorang nggak kudu meninggalkan media sosial untuk menjadi autentik. Yang penting, langkah dia menggunakannya terasa sesuai dengan dirinya, bukan semata-mata lantaran merasa kudu mengikuti orang lain.

8. Punya batas dalam menggunakan media sosial

Jarang posting bukan berfaedah seseorang nggak menggunakan media sosial sama sekali. Mereka mungkin tetap tetap scrolling, membaca berita, memandang unggahan teman, alias menggunakan aplikasi tertentu. Hanya saja, mereka punya batas tentang apa yang mau dibagikan.

Di tengah kebiasaan banyak orang membagikan nyaris setiap kegiatan secara online, memilih untuk tidak ikut membagikan semuanya juga memerlukan keputusan sendiri. Mereka tetap bisa aktif secara digital tanpa merasa kudu selalu datang dan terlihat.

9. Lebih memilih memproses emosi secara pribadi

Ketika sedang bahagia, marah, kecewa, alias mendapatkan sesuatu yang membanggakan, sebagian orang langsung mau membagikannya. Tapi ada juga yang lebih suka menikmati alias memproses perasaannya sendiri terlebih dahulu.

Mereka mungkin memilih cerita kepada pasangan, keluarga, sahabat, alias cukup menyimpannya untuk diri sendiri.

Nggak semua emosi kudu dibawa ke media sosial untuk mendapatkan respons dari orang lain. Dan tentu saja, jarang posting juga bukan berfaedah seseorang pasti lebih pandai mengelola emosi. Setiap orang punya langkah yang berbeda dalam menghadapi perasaannya.

10. Tidak terlalu memerlukan pengesahan dari media sosial

Media sosial menyediakan banyak corak validasi. Ada like, komentar, pujian, sampai jumlah orang yang memandang sebuah unggahan. Tapi bagi sebagian orang, respons seperti itu mungkin bukan lagi ukuran utama apakah sesuatu terasa berharga.

Hal ini bisa dilihat dari perspektif Self-Determination Theory yang dikembangkan psikolog Edward Deci dan Richard Ryan. Teori ini menekankan pentingnya motivasi yang berasal dari dalam diri serta kebutuhan psikologis bakal autonomy, competence, dan relatedness.

Ini berfaedah seseorang bisa saja melakukan sesuatu lantaran memang merasa krusial alias berarti baginya, bukan lantaran mau mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Pertanyaannya pun bisa berubah. Bukan lagi, "Orang lain bakal suka enggak?"

Tapi lebih ke, "Aku sendiri merasa ini berarti enggak?"

11. Tidak terlalu masalah jika disalahpahami orang lain

Orang yang tidak banyak posting kadang bisa dianggap aneh, tertutup, sombong, alias apalagi enggak punya kehidupan sosial.

Padahal, belum tentu begitu, Bunda. Sebagian orang memang nggak merasa perlu menjelaskan kehidupan pribadinya kepada semua orang. Mereka bisa saja tetap punya keluarga, sahabat, dan hubungan sosial yang dekat. Hanya saja, kehidupan tersebut nggak semuanya perlu ditampilkan di media sosial.

Mereka juga mungkin nggak terlalu merasa perlu meluruskan setiap dugaan orang tentang dirinya. Selama pilihan untuk menjaga privasi itu terasa nyaman bagi dirinya, penilaian orang lain bukan sesuatu yang kudu selalu direspons.

Jarang posting bukan berfaedah nggak punya kehidupan. Mereka bisa saja hanya memilih kehidupan itu tetap menjadi miliknya sendiri.

Mengurangi posting bukan berfaedah menarik diri dari kehidupan sosial

Pada akhirnya, gelombang seseorang mengunggah kehidupan pribadi di media sosial tidak bisa menjadi ukuran tunggal untuk menilai kepribadiannya.

Ada orang yang aktif posting dan tetap mempunyai hubungan sosial yang sehat. Ada pula yang nyaris tidak pernah posting tetapi mempunyai keluarga, sahabat, dan kehidupan sosial yang bermakna.

Teori Social Comparison dari psikolog Leon Festinger membantu menjelaskan kenapa media sosial bisa membikin seseorang lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Manusia memang mempunyai kecenderungan untuk mengevaluasi diri dengan memandang orang lain, terutama ketika tidak ada standar objektif untuk menilai diri sendiri.

Di media sosial, proses tersebut bisa semakin mudah terjadi lantaran kita terus memandang kehidupan, pencapaian, penampilan, alias pengalaman orang lain. Sejumlah penelitian menemukan bahwa social comparison di media sosial berangkaian dengan beragam aspek kesejahteraan psikologis.

Pada sebagian orang, mengurangi penggunaan media sosial alias membatasi paparan terhadap konten tertentu mungkin membantu mengurangi komparasi yang terasa melelahkan.

Misalnya, salah satu penelitian eksperimental menemukan bahwa membatasi waktu penggunaan media sosial dan mengurangi paparan terhadap konten orang asing dapat menurunkan social comparison pada sebagian peserta.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads