Jakarta -
Di kembali langkah orang tua mendidik anak dari waktu ke waktu, selalu ada cerita yang berbeda. Pola asuh lama kerap dianggap wajar pada zamannya, meski sekarang mulai dilihat kembali dengan langkah pandang yang berbeda.
Setiap generasi punya langkah sendiri dalam menyampaikan nasihat dan patokan di rumah. Namun, tidak semua langkah yang lama tersebut bisa lagi dipakai di masa sekarang, Bunda.
Di era sekarang, pembahasan soal komunikasi orang tua dengan anak jadi semakin terbuka. Terlebih lantaran banyak orang tua yang mulai belajar tentang kesehatan mental dan langkah berkata yang lebih sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, Bunda bisa memandang kembali beberapa kalimat toxic orang tua era dulu yang diam-diam bisa melukai mental anak. Berikut ini penjelasan selengkapnya.
11 Kalimat toxic orang tua era dulu yang diam-diam melukai mental anak
Mengutip dari laman Your Tango, orang tua era dulu sering menggunakan kalimat-kalimat tertentu yang sekarang condong dihindari dan tidak lagi diucapkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.
1. "Kamu benar, Bunda memang orang tua yang buruk"
Kalimat seperti ini sering terdengar di tengah bentrok antara anak dan orang tua, terutama saat emosi sedang tinggi. Bunda perlu tahu, ungkapan ini bisa terasa sangat berat bagi anak lantaran terdengar seperti menyalahkan diri sendiri.
Di era sekarang, banyak orang tua lebih peka terhadap langkah komunikasi yang dianggap menekan alias memanipulasi perasaan. Mereka mulai mengerti bahwa ucapan ini bisa membikin anak merasa bersalah, bukan menyelesaikan masalah.
Jika kalimat ini terus digunakan, dampaknya bisa membikin anak menahan emosi dan takut untuk jujur tentang apa yang mereka rasakan. Padahal, komunikasi yang sehat semestinya membantu anak merasa kondusif untuk berbicara, bukan justru tertekan.
2. "Kamu lebih beruntung dibandingkan Bunda waktu kecil"
Kalimat ini kerap terucap saat orang tua mau menunjukkan bahwa kondisi anak sekarang lebih baik dibanding masa mini mereka dahulu. Namun, bagi anak, ucapan ini terasa seperti membandingkan dua pengalaman yang sebenarnya tidak sama.
Saat ini, banyak anak dan remaja sudah hidup di tengah tekanan media sosial yang cukup besar, Bunda. Mereka sering terpapar budaya komparasi yang bikin mereka merasa kudu selalu lebih baik dan sempurna di beragam hal.
3. "Kalau Anda sayang Bunda, Anda bakal melakukan ini"
Selanjutnya, kalimat ini biasa digunakan saat orang tua mau anak menuruti permintaan dengan cepat. Namun bagi anak, ungkapan ini seolah syarat cinta yang membikin mereka merasa kudu selalu memenuhi harapan.
Menurut psikolog klinis asal Amerika Serikat, Daniel S. Lobel, pola seperti ini bisa berakibat pada kesehatan emosional anak jika terjadi terus-menerus. Anak dapat merasa cemas, susah mengenali kebutuhannya sendiri, apalagi mengabaikan perasaannya demi menyenangkan orang tuanya.
4. "Karena Bunda bilang begitu"
Sebuah penelitian dari Acta Psychologica, pola pengasuhan yang dialami orang tua di masa mini yang penuh tekanan alias trauma tak jarang bisa terulang lagi ke anak.
Ini terjadi begitu saja, terutama saat orang tua sedang mau sigap mengendalikan situasi. Ungkapan seperti "karena Bunda bilang begitu" biasanya muncul ketika orang tua merasa perlu keputusan segera diikuti.
Namun bagi mereka, langkah ini terasa seperti tidak diberi kesempatan untuk memahami argumen di kembali patokan tersebut, Bunda.
5. "Jangan terlalu dramatis"
Menurut para mahir seperti psikolog dari Amerika Serikat, Hal Shorey, Ph.D., ungkapan seperti "kamu terlalu dramatis" alias "jangan terlalu sensitif" sebenarnya bisa meremehkan emosi anak.
Sebuah studi dari Journal of Abnormal Psychology menunjukkan bahwa pola komunikasi yang sering meremehkan emosi anak bisa menimbulkan jarak dalam hubungan orang tua dan anak hingga mereka dewasa.
6. "Bunda bakal memberi Anda argumen untuk menangis"
Berikutnya, ungkapan ini sering terucap saat emosi sedang memuncak dan orang tua merasa kewalahan menghadapi sikap anak. Namun, kalimat ini bisa menakutkan bagi mereka, lantaran terdengar seperti ancaman, bukan nasihat.
Alih-alih menenangkan keadaan, kalimat ini dipakai untuk menutupi rasa tidak nyaman yang sedang dirasakan orang tua. Dalam kondisi seperti itu, fokusnya jadi bergeser dari memahami anak menjadi menghentikan situasi yang terjadi.
7. "Lupakan saja, hidup terus berjalan"
Kadang, ada momen ketika anak sedang merasakan emosi yang tidak nyaman, tapi orang tua meminta mereka untuk segera melupakannya. Seolah-olah semua emosi itu bisa lenyap begitu saja tanpa perlu dipahami terlebih dahulu.
Padahal, emosi yang berat tidak selalu bisa diabaikan begitu saja, Bunda. Jika anak terus diminta "lanjut saja, hidup tetap berjalan", mereka bisa belajar untuk menahan perasaannya sendiri.
8. "Jangan pulang sebelum lampu jalan menyala!"
Di era sekarang, info tentang keamanan anak sangat mudah didapat, Bunda. Karena itu, banyak orang tua jadi lebih waspada dan condong melindungi anak secara berlebihan.
Dahulu, anak-anak bebas bermain di luar rumah sampai sore hari. Sekarang, justru banyak yang diminta tetap di rumah, meski ada beberapa penelitian seperti dari University College London yang menyebut bermain tanpa pengawasan juga bermanfaat.
Walaupun tujuannya baik untuk menjaga anak, sikap terlalu protektif ini membikin mereka jadi kurang leluasa mencoba hal-hal baru. Akhirnya, anak pun lebih sering berada di rumah lantaran dianggap tempat paling aman.
9. "Kamu bisa menjadi apa pun yang Anda inginkan"
Banyak orang tua dulu tumbuh dengan kepercayaan bahwa anak bisa menjadi apa pun yang diinginkan. Hal ini memang sering memotivasi anak untuk punya cita-cita tinggi sejak kecil.
Namun sekarang, kehidupan terasa lebih menantang dengan adanya perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi. Maka dari itu, sebagian anak muda jadi lebih realistis dalam menentukan arah hidupnya.
Sebagai orang tua, kita tetap perlu mendukung anak untuk punya tujuan dan semangat, Bunda. Tapi di saat yang sama, mereka juga perlu dibimbing agar memahami keahlian dan kondisi yang ada di sekitarnya.
10. "Ini semua salah kamu"
Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Lynn Margulis, menuturkan bahwa ketika orang tua sering membikin anak merasa bersalah, itu bisa menjadi corak tekanan emosional.
Kalimat seperti "ini semua salah kamu" dapat membikin anak merasa dirinya selalu jadi penyebab masalah. Akibatnya, anak tumbuh dengan rasa resah dan takut melakukan kesalahan.
Bahkan saat mereka hanya menyampaikan pendapat alias melakukan perihal mini yang keliru saja, mereka jadi merasa bersalah berlebihan, Bunda.
11. "Tunggu sampai ayahmu pulang!"
Berdasarkan sebuah studi di Children and Youth Services Review, ancaman alias tekanan dengan kalimat seperti ini bisa berakibat pada perilaku anak. Mereka jadi lebih mudah menunjukkan sikap garang dan kesulitan mengatur emosinya sendiri.
Enggak hanya itu, kalimat ini juga membikin anak merasa takut dan tidak nyaman di rumahnya sendiri. Kabar baiknya, sekarang banyak orang yang mulai menghindari langkah komunikasi seperti itu.
Itulah beberapa kalimat toxic orang tua era dulu yang diam-diam bisa memengaruhi kesehatan mental anak. Semoga penjelasannya dapat berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·