12 Pahlawan Nasional Perempuan, Termasuk R.a. Kartini

Apr 21, 2026 06:50 AM - 1 hari yang lalu 1915

Jakarta -

Peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April menjadi pengingat bakal perjuangan para pahlawan nasional perempuan. Sosok mereka bakal selalu dikenang oleh rakyat Indonesia.

Para pahlawan nasional wanita Indonesia ini mempunyai peran krusial dalam membangun kehidupan masyarakat. Mereka berani pasang badan melawan kolonialis hingga membuka jalan untuk menyetarakan kewenangan antara laki-laki dan perempuan.

Indonesia mempunyai banyak pahlawan wanita yang berjuang memihak Tanah Air sejak era kolonialisme Belanda. Beberapa di antaranya turun ke medan perang untuk melawan langsung pada penjajah.

Simak kisah dari 12 pahlawan nasional wanita asal Indonesia berikut ini!

Pahlawan nasional perempuan

Melansir dari beberapa sumber, berikut 12 pahlawan nasional wanita yang menunjukkan keberanian dalam memperjuangkan kemerdekaan negara dan kewenangan perempuan:

1. Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang lahir pada tahun 1752 di Desa Serang, Purwodadi. Perempuan berjulukan komplit Raden Adjeng Kustiyah Wujaningsih Retno Edi ini merupakan anak terakhir dari Panembahan Notoprodjo, yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Serang. Ibunda Nyi Ageng Serang adalah seorang putri bangsawan Mataram, yang juga menjadi keturunan Sunan Amangkurat III.

Ayah Nyi Ageng Serang adalah adipati di Serang yang tetap mempunyai darah keturunan ustadz besar Sunan Kalijaga, Bunda. Panembahan Notoprodjo juga seorang panglima perang yang gigih dalam melawan Belanda di era penjajahan.

Di usia 17 tahun, Nyi Ageng Serang dikirim ke Keraton Yogyakarta. Selama di sana, dia mengawasi budaya istiadat dan merasakan ruang mobilitas yang terbatas.

Nyi Ageng Serang menemui kesulitan saat kudu melaksanakan cita-citanya melawan penjajah. Nyi Ageng Serang pun memutuskan untuk memperdalam pengetahuan bela diri untuk mempersiapkan perjuangan dan membantu rakyat.

Nyi Ageng Serang pernah menjadi penasihat Pangeran Diponegoro. Di usia yang sudah memasuki 73 tahun, dia terkadang turun ke medan pertempuran dengan siasat perangnya yang mengagumkan.

Tahun 1827, Pangeran Diponegoro dan Pangeran Serang sukses ditaklukkan oleh tentara Belanda. Di waktu bersamaan, kondisi Nyi Ageng Serang mulai melemah.

Empat tahun setelah berakhirnya perang Diponegoro, alias tepatnya di tahun 1834, Nyi Ageng Serang meninggal bumi di usia 76 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Desa Beku, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Demikian seperti melansir dari kitab Pahlawan dan Tokoh Perempuan dalam Bingkai Kebinekaan dari Tim Direktorat Sejarah dan laman resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen).

2. Marta Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu lahir pada 4 Januari 1800 di Desa Abubu, Nusa Tenggara Laut, Maluku. Ia adalah anak satu-satunya dari Kapitan Paulus Tiahahu.

Martha Christina Tiahahu merupakan pejuang wanita yang juga berani melawan kolonialis Hindia Belanda berbareng Thomas Matulessy Pattimura alias Kapitan Pattimura. Menurut kitab MARTHA CHRISINA TIAHAHU: Mutiara dari Nusa Laut yang Cinta Tanah Air karya Indah Ratna, Martha memulai perjuangannya untuk memihak Tanah Air berbareng sang ayah.

Meski seorang perempuan, Marta Christina Tiahahu pernah langsung mendampingi ayahnya dalam perang. Ia apalagi pernah memimpin pasukan melawan Belanda saat berumur 17 tahun.

Keikutsertaannya dalam perang saat itu sempat membikin Belanda kewalahan. Tak heran jika dia menjadi sosok yang disegani oleh lawan, Bunda.

Martha Christina Tiahahu wafat pada 1 Januari 1818 alias tiga hari sebelum usianya genap 18 tahun. Ia meninggal di atas kapal Belanda dan jenazahnya dibuang ke Laut.

3. Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien lahir pada tahun 1848 di Kabupaten Aceh Besar. Sosoknya dikenal sebagai salah satu pejuang dan pahlawan nasional yang berani melawan Belanda.

Dikutip dari kitab Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh oleh M.H. Szekely Lulofs, Cut Nyak Dien remaja adalah sosok yang menonjol dibanding wanita lain sesusianya. Ia apalagi menjadi kebanggaan sang ayah, Nanta Seti.

Semasa hidupnya, Cut Nyak Dien setia dengan suaminya, Teuku Ibrahim. Ia apalagi kerap berganti pikiran tentang strategi dalam melawan Belanda. Teuku Ibrahim sendiri sangat menyukai istrinya lantaran berani dan penuh siasat.

"Dhien, sesungguhnya engkau adalah wanita yang sangat pintar! Engkau patut disejajarkan dengan pahlawan-pahlawan Aceh yang pandai mengatur siasat," kata Ibrahim pada istrinya.

Teuku Ibrahim meninggal bumi lantaran tertembak peluru Belanda. Kepergian sang suami tak membikin Cut Nyak Dhien berakhir berjuang melawan Belanda.

Ia kemudian menikah lagi dengan kerabat sepupunya, Teuku Umar dari Meulaboh. Keduanya kemudian dikenal sebagai pahlawan nasional lantaran telah memihak Tanah Air dari Belanda.

4. Cut Meutia

Cut Nyak MeutiaCut Nyak Meutia/ Foto: perpusnas.go.id

Tjoet Nyak Meutia alias dikenal Cut Meutia lahir pada 15 Februari 1870 di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara. Cut Meutia adalah anak dari Teuku Ben Daud, seorang Ulebalang di Desa Pirak.

Cut Meutia dibesarkan dalam situasi saat rakyat Indonesia antusias dalam melawan pendudukan Belanda, Bunda. Ia mewarisi sikap pemberani dari ayahnya yang dikenal suka melindungi rakyat.

Cut Meutia menikah dengan seorang pejuang berjulukan Teuku Cik Muhammad alias dikenal sebagai Teuku Cik Tunong. Cut Meutia dan suaminya ikut berjuang melawan kolonialis hingga hidup di pedalaman Keureutoe untuk memulai perlawanan.

Pada tahun 1905, Teuku Cik Tunong ditangkap dan dihukum meninggal oleh Belanda. Setelah itu, Cut Meutia menikah dengan Pang Nanggroe dan terlibat dalam perlawanan bersenjata melawan penjajah. Semasa hidupnya, Cut Meutia pernah menjadi bagian dari pasukan Teuku Muda Gantoe dan melakukan beragam serangan terhadap pos-pos kolonial Belanda.

Pada 24 Oktober 1910, dia gugur dalam pertempuran di Alue Kurieng. Perjuangan Cut Meutia memihak Tanah Air diakui oleh pemerintah dan dia dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 1964.

5. Maria Walanda Maramis

Maria Walanda Maramis lahir di sebuah kota mini di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872. Perempuan berjulukan komplit Maria Josephine Catherine Maramis ini adalah pahlawan nasional yang berjasa dalam memberdayakan wanita Indonesia, khususnya di daerah Sulawesi Utara.

Maria Walanda Maramis menjalani masa mini tanpa kehadiran orang tua lantaran keduanya meninggal akibat terserang penyakit kolera. Ia dan kedua kakaknya lantas diasuh oleh om dan tante yang tinggal di Airmadidi.

Di masa itu, Maria Walanda Maramis merasa tidak puas dengan pendidikan di sekitarnya lantaran hanya mengizinkan anak laki-laki ke sekolah. Maria Walanda Maramis lampau berjumpa dengan Pendeta Ten Hoven dan sering berganti pikiran tentang nasib pendidikan perempuan-perempuan di Minahasa.

Setelah menikah dengan seorang pembimbing berjulukan Yoseph Frederik Calusung Walanda dan dikaruniai tiga putri, Maria merasa perlu melakukan sesuatu untuk pendidikan anak-anaknya. Ia lampau mulai membikin aktivitas untuk memajukan pendidikan bagi kaum wanita di Minahasa dengan memasukkan ketiga anaknya ke sekolah hingga bisa melanjutkan sekolah ke Pulau Jawa.

Pada 8 Juli 1917, Maria mendirikan sebuah organisasi pergerakan untuk pendidikan wanita berjulukan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya alias disingkat PIKAT. Organisasi ini terus berkembang hingga pada tahun 1921, pemerintah Belanda di Batavia memperbolehkan wanita untuk memberi bunyi dalam pemilihan anggota-anggota Minahasa Raad.

Pada 22 April 1924, Maria Walanda Maramis wafat. Untuk mengenang jasanya, Maria Walanda Maramis diberikan gelar pahlawan nasional pada 20 Mei 1969.

6. Nyai Walidah Achmad Dahlan

Nyai Walidah Achmad Dahlan lahir pada tahun 1872 di Kauman, Yogyakarta. Ia adalah anak dari KH Muhammad Fadli dan Nyai Mas.

Pada masanya, Nyai Walidah dididik berasas tradisi Jawa ketika anak wanita tidak boleh sekolah secara umum dan hanya diperbolehkan merawat anak serta membereskan urusan dapur.

Meski begitu, ayah Nyai Walidah sempat menyekolahkannya di rumah dan mengajarkan beragam pengetahuan seputar kepercayaan Islam. Tak hanya itu, Nyai Walidah juga diberikan kesempatan untuk mengajari murid-murid wanita yang lebih muda di rumahnya.

Nyai Walidah mengembangkan aktivitas wanita berbasis kepercayaan berjulukan Aisyiyah, yang merupakan organisasi wanita dari Muhammadiyah. Selain memperjuangkan kewenangan wanita melalui Aisyiyah, Nyai Walidah juga turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan menggunakan rumahnya sebagai dapur bagi para tentara. Ia juga mempromosikan dinas militer kepada para siswa dan lulusan Muhammadiyah, serta mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan kepada murid-murid.

Selama memimpin Aisyiyah, Nyai Walidah menghasilkan banyak pencapaian. Salah satunya adalah mendirikan mushola Aisyiyah pertama untuk salat berjamaah bagi para perempuan.

Sepuluh bulan setelah Indonesia merdeka alias tepatnya pada 31 Mei 1946, Nyai Walidah meninggal bumi di Yogyakarta. Ia dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman. Pada 10 November 1971, Nyai Walidah mendapatkan gelar pahlawan nasional.

7. RA Kartini

Raden Ajeng Kartini alias dikenal sebagai RA Kartini merupakan salah satu pahlawan nasional wanita yang terkenal. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Hingga saat ini, setiap tanggah 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

Menurut unggahan di situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang sekarang berubah menjadi Kemendikdasmen, Kartini adalah anak kelima dari pasangan RM Sosroningrat dan MA Ngasirah. Sang ayah berasal dari kalangan priyayi namalain bangsawan Jawa yang tetap memegang teguh budaya istiadat.

Kartini adalah tokoh emansipasi wanita yang menginspirasi. Ia adalah wanita kritis yang berani bicara soal pendidikan untuk kaum perempuan, di saat pendidikan terbatas untuk gendernya. Menurutnya, krusial bagi wanita untuk bisa menuntut ilmu, tak sekadar menguasai urusan dapur.

Kartini menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Suami Kartini menjadi sosok laki-laki yang juga mendukungnya memajukan wanita Indonesia. Semasa hidupnya, Kartini pernah mendirikan sekolah untuk wanita di sekitar kompleks instansi Kabupaten Rembang.

RA Kartini meninggal bumi di usia 25 tahun, pada tanggal 17 September 1904. Setelah wafat, JH Abendanon membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan RA Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi titel Habis Gelap Terbitlah Terang, yang banyak menginspirasi hingga sekarang.

8. Opu Daeng Risaju

Opu Daeng Risaju merupakan keturunan bangsawan Kerajaan Luwu yang lahir pada tahun 1880. Ia adalah anak dari pasangan Opu Daeng Mawellu dan Muhammad Abdullah.

Meski seorang anak bangsawan, Opu Daeng Risaju tidak mendapatkan pendidikan Barat seperti anak-anak bangsawan lainnya, Bunda. Ia hanya mendapatkan pendidikan dari kebiasaan budaya masyarakat Luwu.

Opu Daeng Risaju mendapatkan pengetahuan tentang tata langkah kepemimpinan, bergaul, hingga memerintah rakyat. Ia juga mempunyai pengetahuan hukum dan iktikad dalam kepercayaan Islam.

Opu Daeng Risaju menikah dengan H. Muhammad Daud, seorang ustadz yang pernah tinggal di Mekah. Pada masa pergerakan nasional, Opu Daeng Risaju berkedudukan aktif dalam organisasi nasional dan pernah ikut pergerakan melalui Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada tahun 1927.

Semasa hidupnya, Opu Daeng Risaju pernah beberapa kali ditangkap dan dibawa ke pengadilan pidatonya lantaran dianggap provokatif pada pemerintah. Di usianya yang sudah renta, dia apalagi tetap dihukum dengan disiksa di penjara.

Pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda di tahun 1949 mengakhiri masa balasan Opu Daeng Risaju. Pada 10 Februari 1964, Opu Daeng Risaju menghembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di makam para Raja Luwu di Lokoe, Palopo. Pada 3 November 2006, Opu Daeng Risaju dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah.

9. Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884 dari family Sunda yang terhormat di Cicalengka. Sejak kecil, Dewi Sartika sudah mempunyai gairah untuk menjadi pembimbing dan mengajar teman-temannya, Bunda.

Setelah ayahnya meninggal, Dewi Sartika tinggal berbareng pamannya dan menerima pendidikan budaya Sunda. Pada tahun 1904, dia mendirikan Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung. Keputusannya untuk mendirikan sekolah ini mendapat support dari sang kakek yang saat itu menjabat sebagai Bupati Bandung

Sekolah ini kemudian berkembang dan mengajarkan wanita membaca, menulis, berhitung, serta keahlian lainnya. Pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah serupa di Jawa Barat. Meskipun mengalami krisis saat pendudukan Jepang, sekolah ini terus berkembang dan berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi.

Namun, pada masa perang kemerdekaan dan Agresi Militer Belanda, Dewi Sartika mengungsi dan akhirnya meninggal pada 11 September 1947 di Cineam, di mana dia dimakamkan sebelum kemudian makamnya dipindahkan ke Jalan Karang Anyar, Bandung. Jasanya sebagai penggerak pendidikan wanita membuatnya sekarang dikenang sebagai pahlawan nasional.

10. Rasuna Said

Pahlawan nasional wanita Rangkayo Rasuna Said lahir pada 14 September 1910. Ia dikenal lantaran perjuangannya memihak kewenangan perempuan.

Rasuna Said berasal dari family bangsawan Minang di Sumatra Barat. Pada masanya, dia tumbuh dalam lingkungan yang mendorongnya untuk mengenyam pendidikan dan berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

Rasuna Said aktif dalam organisasi-organisasi perjuangan seperti Sarekat Rakyat (SR) dan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Ia juga terkenal sebagai wanita pertama yang didakwa dengan Speekdelict oleh Belanda lantaran pidatonya yang mengkritik kolonialisme.

Rasuna Said mempunyai kepercayaan kuat dalam persamaan kewenangan antara laki-laki dan perempuan. Ia mengambil peran aktif dalam pendidikan perempuan, mendirikan sekolah-sekolah dan koran-koran yang berfokus pada hak-hak wanita dan pergerakan nasional.

Selain bagian pendidikan, Rasuna Said juga memperjuangkan hak-hak wanita untuk terlibat dalam politik. Setelah Indonesia merdeka, dia tetap berkedudukan dalam pembentukan kebijakan sebagai personil Dewan Perwakilan Sumatra dan Dewan Pertimbangan Agung.

Rasuna Said wafat pada 2 November 1965 lantaran penyakit kanker yang diidapnya. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

11. Fatmawati Soekarno

Fatmawati Soekarno adalah istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Perempuan yang lahir pada 5 Februari 1923 ini menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga 1967 dan ibu dari presiden kelima, Megawati Soekarnoputri.

Fatmawati berasal dari family Suku Minangkabau. Ia pernah mengenyam pendidikan di Holandsch Inlandsche School (HIS), ialah sekolah Belanda unik untuk bumiputera alias saat ini setingkat pendidikan dasar.

Sejak masa sekolah, Fatmawati sudah aktif berorganisasi, salah satunya organisasi Naysatul Asyiyah yang berada di bawah Muhammadiyah. Selepas dari HIS, Fatmawati melanjutkan studi pada pendidikan unik di sebuah sekolah yang dikelola organisasi Katolik.

Fatmawati juga dikenal lantaran sumbangsihnya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dalam kondisi bentuk yang rentan lantaran sedang mengandung tua, dia menjahit bendera tersebut dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan lantaran larangan master untuk menggunakan kaki. Bendera tersebut kemudian berkibar di Pegangsaan Timur saat momen berhistoris tersebut.

Fatmawati wafat pada 14 Mei 1980 di Kuala Lumpur, Malaysia, dalam usia 57 tahun akibat serangan jantung. Jenazahnya dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.

12. Raden Ajeng Fatimah Siti Hartinah

Raden Ajeng Fatimah Siti Hartinah alias dikenal sebagai Ibu Tien adalah istri dari Presiden Indonesia kedua Soeharto. Ia dilahirkan pada 23 Agustus 1923 dan menikah dengan Soeharto pada 26 Desember 1947. Ibu Tien diberikan gelar pahlawan nasional tak lama setelah meninggal pada 1996.

Ibu Tien berasal dari family yang sering pindah-pindah tempat tinggal lantaran tugas ayahnya sebagai pamong praja. Meskipun hanya menyelesaikan Sekolah Dasar Dua Tahun, dia tetap aktif dalam beragam kegiatan sosial, termasuk Barisan Pemuda Putri selama pendudukan Jepang dan Laskar Putri Indonesia setelah kemerdekaan.

Sebagai istri Presiden, Ibu Tien mempunyai peran yang krusial dalam mendukung pekerjaan dan keputusan suaminya. Ia diketahui ikut andil dalam keputusan Soeharto untuk tetap menjadi tentara saat menghadapi tuduhan di tahun 1950-an dan juga mendorong larangan poligami bagi pejabat di Indonesia.

Di bagian pembangunan, Ibu Tien mendukung proyek-proyek nasional seperti Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan RSAB Harapan Kita.

Demikian kisah 12 pahlawan nasional wanita Indonesia yang jasanya selalu dikenang oleh banyak orang.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Selengkapnya