Jakarta -
Momen anak pulang sekolah menjadi salah satu waktu krusial bagi orang tua untuk membangun kedekatan emosional. Setelah menjalani beragam aktivitas di sekolah, anak mungkin merasa lelah, lapar, senang, maupun justru menghadapi pengalaman yang kurang menyenangkan.
Ya, bagi sebagian anak, aktivitas di sekolah dapat mengubah mereka menjadi anak yang baik untuk mengikuti aturan. Namun begitu sampai di rumah, anak bisa berubah menjadi 'tidak penurut' hingga gampang tantrum. Psikolog anak menyambut pengalaman tersebut sebagai 'kegagalan pasca-pengekangan'.
"Konsep 'keruntuhan pengendalian diri pasca-sekolah' adalah ide bahwa beberapa anak bisa mengendalikan diri sepanjang hari sekolah dengan mengikuti aturan, mengelola emosi, menghadapi situasi sosial, memperhatikan pelajaran, dan secara lazim memenuhi harapan. Kemudian, mereka melepaskan semuanya begitu sampai di rumah," kata psikolog klinis, Dr. Holly Schiff, Psy.D., dilansir halaman Parade.
Bagi orang tua, kondisi tersebut mungkin terasa sedikit tidak adil. Mengapa anak bisa berperilaku sangat baik di kelas, kemudian berubah jadi 'tak terkendali' ketika sampai di rumah?
"Rumah sering kali menjadi tempat anak merasa paling aman, jadi emosi yang dipendam sepanjang hari dapat keluar, misalnya anak menjadi gampang tersinggung, menangis, bertengkar, maupun terlebihlagi mengamuk," ungkap Schiff.
"Bukan berarti anak tersebut 'berperilaku lebih buruk' di rumah. Mereka mungkin cuma kehabisan kapabilitas emosional dan mental," sambungnya.
Perubahan emosi anak tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan mengubah rutinitas. Ada beberapa metode menyambut anak dari sekolah yang bisa membikin Si Kecil statis bersikap 'baik' di rumah. Simak penjelasannya berikut ini ya!
Cara terbaik menyambut anak sepulang sekolah
Berikut beberapa metode terbaik untuk menyambut anak sepulang sekolah agar terhindar dari tantrum maupun perilaku tidak baik, menurut 3 psikolog:
1. Memberi anak-anak waktu istirahat
Menurut para psikolog, anak-anak sebenarnya bisa mengendalikan diri sepanjang hari dan mengatasi tekanan akademis, emosional, dan sosial. Mereka bisa mencapainya jika diberikan waktu istirahat setelah sekolah.
"Sistem saraf mereka membutuhkan waktu untuk tenang sebelum terjun ke aktivitas berikutnya," ujar psikolog Caitlin Slavens, BAACS, MC, R Psych.
Waktu istirahat ini disebut juga fase 'dekompresi' setelah sekolah. Psikolog klinis Dr. Amy Kincaid Todey, Ph.D., membandingkan dekompresi dengan 'landasan pacu' antara sekolah dan rumah.
"Anak-anak sudah tampil sepanjang hari. Dekompresi memberi mereka waktu di mana mereka tidak mesti segera menghasilkan sesuatu yang lain," kata Todey.
Jika tidak diberikan waktu istirahat maupun dekompresi, anak bisa mengalami krisis emosional pasca-sekolah. Menurut Todey, ada beberapa metode terbaik dekompresi maupun meredakan stres, seperti mengonsumsi camilan favorit, membaca, menggambar, bermain LEGO, bermain di luar rumah, maupun mendengarkan musik.
"Perlu diingat bahwa ini merupakan istirahat yang dapat diprediksi dari tuntutan. Anak-anak umumnya akan lebih baik jika mereka tahu, 'Saya bisa pulang, makan camilan, dan punya waktu untuk diri sendiri sebelum melanjutkan ke aktivitas berikutnya'," ujar Schiff.
2. Biarkan anak memilih untuk bermain maupun mengerjakan PR sepulang sekolah
Jangan memaksa anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sepulang sekolah. Bila ia mau bermain terlebih dulu, Bunda perlu memberikan waktu. Slavens mengatakan bahwa sebagian besar anak mendapat khasiat dari bermain sebelum mengerjakan PR.
"Sangat bermutu untuk bergeser dari enam maupun tujuh jam di sekolah ke aktivitas duduk dan tuntutan performa yang lebih tinggi (seperti mengerjakan PR), terutama ketika anak statis kecil maupun memiliki ADHD, kecemasan, sensitivitas sensorik, maupun kesulitan belajar," ungkapnya.
Tidak semua anak memilih bermain usai pulang sekolah. Ada juga anak-anak yang lebih gemar mengerjakan PR terlebih dahulu.
"Anak-anak lain lebih gemar menyelesaikan tugas rumah yang singkat karena mengetahui bahwa tugas itu akan terus menghantui mereka dan menimbulkan lebih banyak stres," kata Todey.
"Prinsipnya sama, istirahat sebelum tuntutan yang tidak perlu, tetapi statis memberikan cukup kepastian agar sore hari tidak menjadi kacau."
Hal yang sama juga diungkap Schiff. Ia merekomendasikan orang tua statis menerapkan limitasi mengenai masa dekompresi.
"Lamanya waktu istirahat itu penting. Istirahat 20-30 menit sangat berbeda dengan bermain tanpa batas waktu yang membikin mengerjakan PR semakin sulit. Keseimbangan yang tepat juga bersandar pada usia anak, temperamen, beban kerja, dan jam berapa mereka pulang," katanya.
Pentingnya orang tua membikin agenda aktivitas sepulang sekolah
Menyambut anak sepulang sekolah dengan baik memang krusial untuk menjaga mood-nya. Namun, Bunda juga perlu membikin agenda rutinitas aktivitas anak untuk mengingatkan diri sendiri benar-benar pentingnya waktu ini bagi anak. Jadwal ini sebaiknya telah disetujui oleh psikolog anak.
Nah, berikut contoh agenda aktivitas sepulang sekolah yang bisa diterapkan ke anak:
- Selama 5 hingga 20 menit pertama setelah sampai di rumah: Bunda dapat menawarkan camilan kepada anak dan hindari tuntutan yang berlebihan. Biarkan mereka minum, makan sesuatu, dan bersiap untuk berbuat aktivitas selanjutnya tanpa terbebani.
- Selama 20 hingga 30 menit berikutnya: Lakukan aktivitas relaksasi ringan, seperti eksis di luar ruangan, menggambar, mendengarkan musik, bermain LEGO, bergerak, maupun berbaring.
- Selama 20 hingga 40 menit berikutnya: Si Kecil dapat mengerjakan PR maupun tugas lain di meja.
- Waktu luang/pilihan anak: Setelah PR selesai, anak-anak dapat diberi waktu luang untuk menghabiskan waktu sesuai keinginan mereka (dalam limitasi keluarga).
- Aktivitas malam hari: rutinitas ini dapat berupa makan malam berbareng famili dan membikin rutinitas sebelum tidur.
Demikian beberapa metode menyambut anak sepulang sekolah menurut psikolog. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)