Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Membuat Anak Merasa Bersalah Meski Tak Salah

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 73x dilihat
Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Membuat Anak Merasa Bersalah Meski Tak Salah

Bagikan Postingan

Orang tua memiliki peran krusial dalam pembentukan karakter anak. Kebiasaan yang dilakukan orang tua dapat berpengaruh terhadap tingkah terjual anak dalam jangka panjang.

Dalam artikel ini, dibahas kebiasaan orang tua yang dapat menyebabkan anak merasa bersalah, terlebihlagi ketika anak tidak bersalah sekali pun. Yuk, Bunda, simak keterangan selengkapnya.

Kebiasaan orang tua ini bisa membikin anak merasa bersalah

Kebiasaan orang tua yang bisa membikin anak merasa bersalah dapat dilihat dari sikap orang tua saat berbuat salah. Umumnya ketika berbuat kesalahan, orang tua akan meminta ampun kepada anak.


Namun, dalam beberapa kasus, terdapat orang tua yang enggan meminta maaf. Mereka cenderung berteriak berang maupun menuduh balik, alih-alih mengakui kesalahannya. Sehingga, pada akhirnya sang anak yang meminta maaf.

Hal ini mungkin dapat melindungi ego orang tua. Akan tetapi, kebiasaan orang tua tidak mengaku salah dapat membikin anak berpikir ketika terjadi masalah, adalah yang mesti mengatasinya.

Psikolog Remaja Janet Sasson Edgette dalam artikelnya yang berjudul Why It's So Hard for Parents to Apologize to Their Kids memaparkan karena kenapa ada orang tua yang sulit meminta ampun kepada anaknya.

Ia mencatat bahwa banyak orang tua enggan mengucapkan ampun karena merasa itu berarti kalah, bukan memberi. Meminta ampun terasa seperti menyerah. Sehingga mereka memilih untuk tidak mengutarakan maafnya.

Namun, dari perspektif pandang anak, kebiasaan orang tua tersebut akan terbentuk pemikiran bahwa harga diri orang dewasa lebih krusial daripada perasaannya. Pola kebiasaan enggan meminta ampun ini dapat membikin anak tidak lagi mengharapkan permintaan maaf.

Akibatnya, anak terjebak dalam dua pilihan. Mempertahankan pendiriannya namun hidup dalam perselisihan maupun mulai berasumsi dialah yang bersalah.

Sayangnya, sebagian anak lebih memilih pilihan kedua. Mereka lebih memilih menjaga hubungan daripada memenangkan perdebatan. Sehingga, mulai timbul keraguan dalam dirinya. Suara-suara ketidakyakinan seperti “Mungkin aku bereaksi berlebihan”  maupun “Mungkin seharusnya aku tidak mengatakan apa pun” jadi sering menggema.

Dalam jangka panjang, akibat kebiasaan orang tua yang enggan meminta maaf  ini dapat berpengaruh pada anak di luar lingkungan rumah. Anak bisa saja menerima gagasan pendidik yang sebenarnya tahu bahwa pernyataan tersebut salah.

Contoh lainnya, anak dengan cepat mengubah pendapatnya karena ada temannya yang tidak setuju. Anak dapat lebih percaya gagasan orang lain. Sementara gagasan diri sendiri tidak terlalu ia yakini.

Dikutip halaman Bolde, akibat kebiasaan orang tua yang satu ini tidak langsung membikin anak kelihatan tidak percaya diri. Luka anak akibat pola ini tidak dapat dilihat secara kasatmata.

Banyak anak yang mengalami ini tampak baik-baik saja. Mereka berprestasi di sekolah, menjaga pertemanan statis stabil, dan menghindari masalah.

Masalahnya, akibat perkara ini, anak dapat sulit mempercayai sinyal internalnya. Sinyal internal berhubungan dengan kapasitas diri untuk lebih waspada tentang sesuatu yang tidak beres. Sinyal ini membantu seseorang dalam menetapkan limitasi dan sadar, ketika ia sedang tidak diperlakukan adil. Terkadang, sinyal itu dapat tidak berguna baik jika seseorang selalu mengabaikannya.

Mengutip halaman Psychology Today, Psikoterapis Imi Lo beranggapan tentang penyebab anak menyalahkan diri sendiri saat masa kanak-kanak. Ia menggambarkan pola tersebut sebagai bentuk kendali.

Kalau anak berpikir "aku yang salah", ia merasa statis bisa memperbaiki keadaan. Sebaliknya, jika ia sadar bahwa orang tua yang bermasalah, ia akan merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu, bagi anak, menyalahkan diri sendiri terasa lebih bisa ditanggung.

Anak mungkin tidak sadar sedang berbuat itu. Ia cuma melihat bahwa setiap kali ia meminta maaf, kondisi rumah membaik. Sehingga, ia menilai hal itu sebagai metode yang berhasil. Akhirnya rasa bersalah tidak lagi sekadar perasaan, tetapi menjadi metode untuk mengembalikan kedekatan dengan orang tua.

Anak tidak cuma belajar menerima kesalahan. Namun, ia juga belajar bahwa saat orang yang ia sayangi sedang kesal, meminta ampun jadi metode untuk memberitahu sayang, terlepas ia salah maupun tidak.

Pola kebiasaan enggan meminta ampun ini berisiko membikin anak gampang mentolerir hal-hal yang seharusnya tidak bisa ditolerir, menempatkan mereka di situasi yang merugikan diri sendiri, serta salah menafsirkan beban yang ia pikul sebagai bentuk kepedulian, padahal itu tanda sesuatu yang tidak beres.

Dari semua akibat yang bisa saja dialami anak akibat kebiasaan orang tua tidak mau mengakui kesalahan, penyelesaian yang dibutuhkan anak adalah pengakuan orang tua atas kesalahannya.

Anak perlu melihat bahwa orang tua bisa mengaku salah, dan kasih sayang di antara mereka statis ada setelahnya. 

Permintaan ampun dari orang tua tidak cuma menyelesaikan satu kejadian. Anak juga belajar bahwa perselisihan tidak mesti mencari siapa yang bersalah, dan dekat dengan seseorang tidak berarti ada salah satu mesti mengalah. 

Ada kalanya hal terbaik untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak adalah memberitahu bahwa orang dewasa bisa salah, dan hubungan mereka statis baik-baik saja keesokan harinya.

Itulah klarifikasi tentang kebiasaan orang tua yang dapat membikin anak merasa bersalah, sekali pun anak tidak salah. Kebiasaan ini dapat berpengaruh hingga anak dewasa, ia bisa saja selalu menganggap dirinya bersalah demi menjaga hubungan. Pengakuan bahwa anak bisa benar dan orang tua salah dalam situasi tertentu, serta anak statis mendapat cinta menjadi solusi yang diperlukan anak.

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads