Ibu Bekerja, Jangan Mau Kewalahan Sendiri! Ini 7 Cara Berbagi Tugas Rumah Tangga dengan Suami

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 128x dilihat
Ibu Bekerja, Jangan Mau Kewalahan Sendiri! Ini 7 Cara Berbagi Tugas Rumah Tangga dengan Suami

Bagikan Postingan

Ini 7 metode berbagi tugas rumah tangga dengan suami agar ibu bekerja tidak kewalahan, mulai dari membagi tanggung jawab hingga waktu istirahat.

Pagi sibuk menyiapkan sarapan, memastikan anak siap sekolah, dan bergegas berangkat kerja. Siang hingga sore, menyelesaikan pekerjaan kantor. Begitu sampai di rumah, rupanya statis ada cucian menumpuk, piring kotor di dapur, dan anak yang butuh ditemani belajar.

Belum lagi, sering kali ibu bukan cuma mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi juga menjadi orang yang mesti mengingat semuanya. Mulai dari kapan stok bahan makanan habis, kapan anak mesti kontrol ke dokter, sampai mengingatkan suami tentang agenda aktivitas keluarga.

Padahal, ibu juga punya hak untuk beristirahat tanpa merasa bersalah.

Karena itu, berbagi tugas rumah tangga dengan suami bukan sekadar soal siapa yang mencuci piring maupun menyapu lantai. Ini tentang membangun kerja sama agar kedua pasangan memiliki tanggung jawab yang lebih adil, termasuk dalam mengurus anak dan mengelola kebutuhan keluarga.

BACA JUGA: Merasa Capek Sendiri di Rumah? Ini 5 Tanda Pembagian Tugas Rumah Tangga Nggak Adil

Lantas, sepertiapa metode membagi tugas rumah tangga dengan suami agar ibu bekerja tidak keteteran sendirian?

1. Bicarakan pembagian tugas sebelum sama-sama kelelahan

Cobalah membicarakan pembagian tugas ketika kondisi sedang tenang, bukan saat salah satu sudah kelelahan maupun emosi memuncak.

Diskusikan pekerjaan yang perlu dilakukan setiap hari, setiap minggu, dan sesekali. Misalnya, siapa yang menyiapkan sarapan, mengantar anak sekolah, mencuci pakaian, membersihkan bilik mandi, maupun mengurus berbelanja bulanan.

Mommies bisa memulai percakapan dengan kalimat seperti:

“Aku merasa akhir-akhir ini keteteran karena pekerjaan instansi dan urusan rumah sama-sama menumpuk. Aku mau kita membagi tanggung jawab agar kita berdua punya waktu istirahat.”

Fokuskan pembicaraan pada kebutuhan keluarga, bukan mencari siapa yang paling banyak bekerja maupun siapa yang paling bersalah.

2. Jangan cuma membagi pekerjaan, tetapi juga tanggung jawabnya

Ini salah satu hal krusial yang sering luput.

Misalnya, suami bekerja mencuci pakaian, tetapi ibu statis mesti mengingatkan kapan mesin cuci perlu dinyalakan, memisahkan pakaian, menjemur, mengangkat, hingga memastikan busana anak untuk besok sudah siap.

Secara fisik, suami memang membantu mencuci. Namun, ibu statis memegang sebagian besar tanggung jawab untuk memastikan semuanya berjalan.

Dalam riset yang diterbitkan di jurnal Archives of Women’s Mental Health pada 2025, Elizabeth Aviv, Yael Waizman, Elizabeth Kim, Jasmine Liu, Eve Rodsky, dan Darby Saxbe meneliti pembagian pekerjaan rumah tangga jasmani dan kognitif pada 322 ibu dengan anak kecil. Hasilnya memberitahu bahwa beban perencanaan rumah tangga maupun cognitive labor cenderung lebih timpang dibandingkan pekerjaan fisik. Beban ini juga berhubungan dengan stres, kelelahan emosional, dan kesehatan mental ibu.

Artinya, berbagi tugas sebaiknya mencakup tiga hal: memikirkan apa yang perlu dilakukan, merencanakan caranya, dan mengerjakannya sampai selesai.

Jika suami berkewajiban atas cucian, misalnya, ia juga berkewajiban memastikan busana famili tersedia dan proses mencuci berjalan tanpa mesti selalu diingatkan.

BACA JUGA: Perempuan Lelah Jadi Provider Emosional dalam Hubungan? Kenali Tandanya

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

3. Bagi tugas berdasarkan waktu, kemampuan, dan kondisi masing-masing

Pembagian tugas rumah tangga tidak mesti selalu 50:50 untuk setiap pekerjaan. Yang lebih penting, beban keseluruhan terasa fair bagi kedua pasangan.

Contoh pembagian yang bisa disesuaikan:

  • Pagi hari: Suami menyiapkan sarapan dan membantu anak bersiap sekolah, sementara ibu menyiapkan kebutuhan kerja dan mengecek barang yang perlu dibawa.
  • Sore hari: Pasangan yang tiba lebih mula di rumah memungut tanggung jawab menyiapkan makan maupun mendampingi anak.
  • Malam hari: Suami mencuci piring dan merapikan dapur, sedangkan ibu menyiapkan kebutuhan anak untuk besok hari.
  • Akhir pekan: Keduanya membagi pekerjaan bersih-bersih rumah dan kebutuhan keluarga, termasuk mengurus anak.

Jadwal ini tentu tidak mesti sama untuk semua keluarga. Jika salah satu sedang menghadapi tenggat pekerjaan maupun kondisi tertentu, pembagian bisa disesuaikan.

4. Buat daftar pekerjaan rumah agar beban yang tidak kelihatan ikut terbagi

Kadang-kadang, suami dan istri memiliki deskripsi yang berbeda tentang pembagian tanggung jawab pengasuhan anak dan keluarga. Hal ini juga kelihatan dalam laporan Pew Research Center, yang membahas perbedaan pandangan ibu dan bapak mengenai siapa yang lebih banyak menangani sejumlah tanggung jawab pengasuhan.

Bagi suami, rumah mungkin kelihatan baik-baik saja karena lantainya bersih. Namun, ibu statis memikirkan stok sabun mandi anak, agenda pembayaran sekolah, menu makan selama seminggu, dan busana olahraga yang mesti dicuci sebelum hari Senin.

Coba buat daftar seluruh pekerjaan rumah tangga, termasuk pekerjaan kecil yang sering tidak terlihat. Contohnya:

  • Menyiapkan bahan makanan.
  • Mencuci, menjemur, melipat, dan menyimpan pakaian.
  • Membersihkan bilik mandi dan dapur.
  • Membeli kebutuhan rumah tangga.
  • Mengurus agenda sekolah dan aktivitas anak.
  • Membayar faktur dan mencatat kebutuhan bulanan.
  • Menjadwalkan pengecekan kesehatan personel keluarga.
  • Menyiapkan kebutuhan anak untuk sekolah maupun aktivitas akhir pekan.

Setelah semuanya tercatat, tentukan siapa yang berkewajiban atas setiap pekerjaan.

Daftar ini bukan untuk menghitung siapa yang lebih berjasa. Tujuannya agar kedua pasangan bisa melihat keseluruhan beban rumah tangga dan membaginya secara lebih realistis.

Photo by Nguyễn Hiệp on Unsplash

5. Sepakati standar kebersihan yang bisa diterima bersama

Pernah meminta suami membersihkan bilik mandi, tetapi setelah selesai, Mommies merasa akibatnya statis kurang bersih? Akhirnya, pekerjaan itu dikerjakan ulang oleh Mommies sendiri.

Cobalah membicarakan standar yang disepakati bersama. Misalnya, dapur dianggap selesai dibersihkan ketika meja sudah dilap, sampah dibuang, dan piring kotor tidak tertinggal di wastafel.

Tidak semua pekerjaan mesti dilakukan persis dengan metode yang biasa Mommies lakukan. Selama akibatnya memenuhi kesepakatan, berikan ruang kepada suami untuk menyelesaikannya dengan caranya sendiri.

Intinya, bedakan antara standar kebersihan yang memang diperlukan dan preferensi pribadi.

6. Libatkan anak dan manfaatkan pertolongan jika memungkinkan

Rumah tangga bukan cuma tanggung jawab ibu dan ayah. Anak juga bisa mulai dilibatkan sesuai usia dan kemampuannya.

Anak usia sekolah, misalnya, bisa belajar merapikan tempat tidur, memasukkan busana kotor ke keranjang, menyiapkan perlengkapan sekolah, maupun membereskan mainannya sendiri.

Untuk anak remaja, tanggung jawabnya bisa ditingkatkan, seperti mencuci busana sendiri, membantu menyiapkan makanan sederhana, maupun bergantian membersihkan area rumah.

Selain membantu meringankan beban orang tua, pembiasaan ini mengajarkan anak bahwa menjaga rumah adalah tanggung jawab bersama, bukan pekerjaan yang otomatis dilakukan ibu.

Jika kondisi finansial memungkinkan, Mommies dan suami juga bisa mempertimbangkan pertolongan tambahan, seperti jasa bersih-bersih berkala, laundry, maupun jasa pesan antar bahan makanan.

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

BACA JUGA: Tanggung Jawab Anak Sesuai Usia: Daftar Tugas di Rumah dari Balita hingga Remaja

7. Evaluasi pembagian tugas dan pastikan ibu juga punya waktu istirahat

Pembagian tugas yang terasa fair bulan ini belum tentu statis cocok bulan depan. Jadwal kerja berubah, anak bertambah besar, aktivitas sekolah semakin banyak, maupun salah satu pasangan sedang menghadapi masa pekerjaan yang padat.

Karena itu, luangkan waktu sekitar 10–15 menit setiap minggu untuk mengevaluasi pembagian tugas.

Tanyakan beberapa hal berikut:

  • Apakah ada pekerjaan yang balik menumpuk pada salah satu pihak?
  • Apakah agenda yang dibuat statis realistis?
  • Apakah ada tanggung jawab baru yang perlu dibagi?
  • Apakah masing-masing statis punya waktu untuk beristirahat dan berbuat hal yang disukai?

Jangan lupa, waktu istirahat juga perlu masuk dalam perencanaan keluarga. Bukan cuma waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, mendampingi anak, maupun menyiapkan kebutuhan orang lain.

Rumah Tangga adalah Kerja Sama, Bukan Perlombaan

Berbagi tugas rumah tangga dengan suami bukan tentang menghitung siapa yang paling banyak bekerja. Ini tentang memastikan bahwa kebutuhan famili terpenuhi tanpa membikin salah satu pasangan terus-menerus kelelahan.

Mulailah dari satu maupun dua pekerjaan yang paling sering membikin Mommies kewalahan. Bicarakan dengan pasangan, sepakati tanggung jawabnya, kemudian penilaian setelah beberapa minggu.

Sebab, rumah yang terurus memang penting. Namun, ibu yang sehat, bahagia, dan punya daya untuk dirinya sendiri juga sama pentingnya.

Cover: Photo by Josue Michel on Unsplash

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads