3 Tingkatan Ihsan

Jan 19, 2026 04:45 AM - 5 bulan yang lalu 162588

Kincai Media , JAKARTA -- Salah satu karakter orang takwa, menurut Alquran (Ali Imran 133) adalah orang yang selalu melakukan ihsan (baik). Dalam Kitab Suci, dari 18 kali kata "Allah mencintai," sebanyak 15 di antaranya disandarkan kepada orang-orang yang melakukan baik (muhsinin).

Menurut master tafsir al-Ashfahani, ihsan itu berarti al-in'am 'ala al-ghair, melimpahkan kenikmatan alias amal kepada pihak lain baik bentuk maupun spiritual.

Ketundukan manusia secara tulus kepada Allah SWT disebut ihsan (QS An-Nisa' 125). Begitu pula, pemberian maaf oleh seseorang kepada pihak lain yang bersalah, juga disebut ihsan (QS Al-Baqarah 178).

Bagi kaum sufi, ihsan adalah ibadah yang disertai sikap jiwa yang banget kuat sehingga mempunyai pengaruh secara moral. Nabi SAW menyuruh kita agar melakukan ibadah seperti itu.

Katanya, "Sembahlah Allah seakan-akan Anda melihat-Nya."

Ibadah yang digambarkan dalam sabda ini, menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, memperlihatkan kesempurnaan ketaatan dan kesadaran rohani yang sangat tinggi, juga memperlihatkan rasa cinta dan pengenalan manusia kepada Tuhan yang sangat tinggi pula (Madarij Al-Salikin, 2/460).

Sebagai konsep yang mengandung buahpikiran peningkatan kualitas ibadah dan kebajikan, ihsan menurut al-Jauziyah, mempunyai tiga tingkatan.

Pertama, kebaikan dalam orientasi, di mana orang kudu mengarahkan perhatiannya menuju Tuhan. Pada tingkat ini, seseorang kudu memasang niat dan motivasi yang kuat. Namun, dia kudu membekali diri dengan pengetahuan agar niat dan tujuannya tidak melenceng dan keluar dari syariat.

Kedua, kebaikan dalam sikap dan perilaku. Pada tingkat ini, seseorang kudu bisa menjaga dan memelihara kebaikan sikap dan perilakunya secara konsisten. Tanpa pemeliharaan ini, kebaikan sikap dan perilaku itu bisa lenyap dan lenyap. Selanjutnya, dia kudu berupaya menjadikan kebaikan sikap dan perilaku itu sebagai karakternya sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Namun, pada tingkat ini, dia kudu tetap menyembunyikan dan merahasiakan kebaikan-kebaikannya, lantaran memperlihatkan kebaikan bukanlah langkah hidup orang-orang sufi.

Memperlihatkan kebaikan secara terbuka dapat ditoleransi jika memang ada kepentingan untuk itu alias dipandang membawa kemaslahatan yang lebih besar.

Ketiga, kebaikan dalam waktu. Pada tingkat ini, seseorang kudu berupaya agar sepanjang waktu dia dapat menyaksikan Tuhan (musyahadah). Di sini, dia kudu menjaga cita-cita dan perhatiannya agar tidak beranjak kepada sesuatu selain Allah. Ia juga kudu mengarahkan seluruh perjalanannya hanya menuju Tuhan. Pada tingkat ini, ihsan mencapai puncak kesempurnaannya.

Pada tingkat yang paling tinggi, ihsan memperlihatkan kematangan tauhid, aliran Islam yang paling fundamental. Tauhid adalah kunci surga. Maka, tidak ada balasan ihsan kecuali surga.

Inilah menurut al-Jauziyah makna firman Allah: "Tidak ada jawaban kebaikan (ihsan) selain kebaikan pula. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang Anda dustakan?" (QS Ar-Rahman 60-61). 

Selengkapnya