Akhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh terbongkarnya sebuah arsip yang dikenal sebagai “Epstein files”. Dokumen itu memperlihatkan sisi gelap manusia ketika kekayaan, kekuasaan, dan akses terhadap kesenangan bumi berkumpul dalam satu tangan.
Terlepas dari betul sah alias tidaknya buletin tersebut, kita betul-betul mendapatkan sebuah hikmah penting, bahwa orang-orang yang secara materi tidak kekurangan apa pun, mereka justru terjerumus dalam perilaku yang melampaui pemisah kemanusiaan dan moral. Peristiwa ini merupakan cermin tentang tabiat manusia ketika nafsu tidak lagi dikendalikan oleh iman.
Ironisnya, kejadian tersebut membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Bahkan, dalam banyak kasus, keberlimpahan justru membuka pintu bagi kerusakan yang lebih besar. Apa yang dulu dianggap mustahil alias menjijikkan, bisa berubah menjadi sesuatu yang dicari ketika hati kehilangan ketaatan dan hidayah. Inilah realitas yang sejak lebih dari empat belas abad lampau telah diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ.
Sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas ketika hidup dikendalikan oleh hawa nafsu. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,
لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya seorang anak Adam mempunyai satu lembah emas, tentu dia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak bakal memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati). Dan Allah menerima tobat orang-orang yang bertobat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)
Oleh karenanya, kita mesti menyadari bahwa kita sangat memerlukan petunjuk, hidayah, dan pertolongan Allah Ta’ala agar tidak terjerumus pada lembah kehinaan lantaran tak bisa mengendalikan hawa nafsu.
Nafsu tidak mengenal batas
Hawa nafsu mempunyai kecenderungan untuk membawa manusia menjauh dari kebenaran. Nafsu tidak mempunyai titik berhenti. Ia selalu menuntut lebih, lebih, dan lebih. Ketika satu kemauan terpenuhi, kemauan berikutnya segera muncul.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ
“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, lantaran dia bakal menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)
Dalam kehidupan sehari-hari, perihal ini tampak jelas. Seseorang yang telah mempunyai pasangan bisa tergoda mencari yang lain. Ketika perselingkuhan menjadi kebiasaan, standar moral mulai bergeser. Apa yang dulu dianggap dosa besar, perlahan menjadi terasa biasa. Inilah langkah nafsu bekerja: mengikis rasa takut kepada Allah sedikit demi sedikit.
Ketahuilah bahwa mengikuti syahwat terasa mudah dan menyenangkan, tetapi ujungnya adalah kebinasaan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.” (HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Kekayaan tidak menjamin ketenteraman
Saudaraku, ketenangan tidak berasal dari kekayaan alias kenikmatan dunia. Harta hanya alat, bukan sumber kebahagiaan. Jika hati kosong dari iman, sebanyak apa pun kenikmatan bumi pasti tidak bakal terasa cukup.
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Sejarah manusia berulang kali menunjukkan pola yang sama. Orang yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan melimpah seringkali justru jatuh dalam kerusakan moral yang dalam dan apalagi sangat mengerikan. Ini bukan lantaran kekayaan itu buruk, tetapi lantaran hati yang tidak terisi ketaatan bakal mencari kepuasan di tempat yang salah.
Rasulullah ﷺ bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun. kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Inilah konsep qana’ah dalam Islam, ialah rasa cukup yang lahir dari iman, bukan dari jumlah harta. Maka kita butuh pengetahuan agar bisa mengendalikan diri untuk kemudian menjadi qana’ah atas pemberian dan hidayah dari Allah Ta’ala dengan tanpa mengesampingkan ikhtiar. Sebab dengan pengetahuan kepercayaan -merutinkan diri menghadiri kajian Islam guna menambah pengetahuan tentang kepercayaan mulia ini- kita menjadi hamba Allah Ta’ala yang tidak mudah terpedaya oleh hawa nafsu dan bujukan setan. Insyaa Allah.
Baca juga: Hakikat Kekayaan yang Sebenarnya
Normalisasi dosa dan kerusakan hati
Dosa yang dilakukan berulang kali bakal mengeraskan hati. Ketika hati mengeras, sensitivitas terhadap kebenaran berkurang. Perbuatan yang dulu terasa salah bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Rasulullah ﷺ bersabda,
“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya bakal ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat, niscaya noda itu bakal dihapus. Tapi jika dia kembali melakukan dosa, niscaya noda-noda itu bakal semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan shahih oleh Tirmidzi)
Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari dosa mini yang diremehkan, kemudian menjadi kebiasaan, lampau berkembang menjadi perilaku yang lebih besar. Setan menghiasinya sehingga tampak wajar lantaran dosa telah menutupi hatinya. Ia pun susah menerima nasihat.
Allah Ta’ala berfirman,
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)
Mengendalikan nafsu adalah jalan keselamatan
Islam tidak mengajarkan untuk mematikan kemauan manusia, tetapi mengendalikannya. Nafsu kudu dipimpin oleh iman, bukan sebaliknya. Tanpa kendali, nafsu bakal menyeret manusia ke dalam kehinaan.
Allah berfirman,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ
فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari kemauan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)
Salah satu langkah melatih pengendalian diri adalah ibadah. Puasa, salat, dan infak bukan hanya ritual, tetapi sarana pendidikan jiwa. Ibadah melatih manusia mengatakan “tidak” kepada kemauan yang tidak diridai Allah.
Kekuatan sejati adalah keahlian mengendalikan diri dari setiap celah bujukan setan dan hawa nafsu yang selalu mendorong kita kepada perbuatan yang melanggar hukum Allah Ta’ala. Maka, orang yang bisa mengendalikan diri tersebut, itulah orang yang kuat dalam pandangan Islam. Rasulullah ﷺ bersabda,
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Saudaraku, kisah manusia yang tenggelam dalam syahwat meski mempunyai segalanya mengingatkan kita bahwa masalah terbesar manusia bukanlah kemiskinan, tetapi hati yang kosong dari iman. Nafsu yang tidak dikendalikan bakal terus menuntut hingga menyeret manusia pada kehancuran, baik di bumi maupun di akhirat.
Oleh lantaran itu, pelajaran terpenting dari sabda tentang “lembah emas” adalah bahwa kebahagiaan tidak terletak pada mempunyai materi lebih banyak, tetapi pada hati yang merasa cukup dan takut kepada Allah Ta’ala. Ketika ketaatan menjadi pusat hidup, kemauan bumi bakal berada pada tempatnya, dan manusia bakal menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan apa pun. Wallahu a’lam.
Baca juga: Hawa Nafsu, Lawan alias Kawan?
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·