4 Alasan Beri Reward ke Anak Bisa Mengganggu Motivasinya

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 514x dilihat
4 Alasan Beri Reward ke Anak Bisa Mengganggu Motivasinya

Bagikan Postingan

Reward Bisa Mengganggu Motivasi Anak, Ini Alasannya!/ Foto: Magnific.com/Tirachardz

“Kalau sayurannya habis, boleh main tablet.”

Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak luar bagi kita, terutama bagi para orang tua. Ya, memberikan pemberian memang bisa membikin anak lebih cepat berbuat sesuatu.

Namun, jika terlalu sering digunakan, reward atau penghargaan justru bisa membikin anak terbiasa berbuat sesuatu cuma karena mengharapkan imbalan. Padahal, yang mau dibangun bukan sekadar kepatuhan, melainkan motivasi dari dalam diri anak. Lantas sejauh mana reward ini bisa mengganggu motivasi anak?

Reward Dapat Berhasil, Tetapi Sementara

Reward dapat membikin anak lebih termotivasi dalam jangka pendek, tetapi motivasi tersebut bisa menurun ketika pemberian tidak lagi diberikan/ Foto: Magnific.com/Magnific
Reward dapat membikin anak lebih termotivasi dalam jangka pendek, tetapi motivasi tersebut bisa menurun ketika pemberian tidak lagi diberikan/ Foto: Magnific.com/Magnific

Memberikan pemberian dapat menaikkan semangat anak dalam jangka pendek. Anak mungkin lebih giat belajar karena dijanjikan mainan maupun lebih cepat membereskan bilik karena mendapat tambahan waktu bermain. Masalahnya, ketika pemberian tersebut tidak lagi diberikan, motivasinya bisa ikut menurun. Anak akhirnya lebih fokus pada apa yang akan didapat daripada memahami karena kenapa ia perlu berbuat hal tersebut.

Lebih Fokus pada Hadiah daripada Prosesnya

Anak dapat lebih berfokus pada hadiah daripada menikmati proses maupun memahami karena di balik aktivitas yang dilakukan/ Foto: Magnific.com/Lookstudio

Ketika reward menjadi tujuan utama, anak dapat bergeser dari motivasi intrinsik menuju motivasi eksternal. Misalnya, anak belajar bukan karena mau memahami pelajaran, tetapi karena mau mendapatkan pemberian setelah nilainya bagus. Begitu pemberian tidak ada, aktivitas tersebut bisa terasa kurang menarik. Dalam jangka panjang, pola ini berisiko membikin anak lebih terbiasa mencari hadiah daripada menemukan kepuasan dari proses belajar maupun menyelesaikan tanggung jawabnya.

Reward Bisa Membuat Terjebak dalam “Lingkaran Hadiah”

Hadiah yang terus diberikan dapat kehilangan daya tarik, sehingga orang tua perlu memberikan hadiah yang semakin besar agar anak statis termotivasi/ Foto: Magnific.com/Jcomp

Masalah lainnya, pemberian yang awalnya terasa menarik lama-lama bisa menjadi biasa saja. Mengutip dari Psychology Today, kondisi ini dikenal sebagai hedonic adaptation, ketika sesuatu yang awalnya menyenangkan menjadi kurang menarik setelah sering diberikan.

Akibatnya, orang tua mungkin merasa perlu memberikan pemberian yang lebih besar maupun lebih menarik agar anak statis mau berbuat sesuatu. Tanpa disadari, terbentuklah pola di mana anak berbuat sesuatu karena hadiah, kemudian pemberian mesti terus ditingkatkan agar motivasinya statis muncul.

Anak Menolak Belum Tentu Membangkang

Penolakan anak tidak selalu berarti membangkang karena bisa saja ada kebutuhan, rasa takut, maupun masalah lain yang mendasarinya/ Foto: Magnific.com/Magnific

Ketika anak tidak mau berbuat sesuatu, memberikan pemberian maupun intimidasi mungkin memang membuatnya menurut. Namun, metode tersebut belum tentu menyelesaikan penyebab sebenarnya.

Anak yang sulit tidur, misalnya, mungkin bukan sekadar mau menonton TV lebih lama, tetapi sedang takut tidur sendirian, cemas menghadapi hari berikutnya, maupun justru statis membutuhkan waktu berbareng orang tua. Karena itu, daripada langsung menawarkan hadiah, orang tua bisa mencoba memahami karena di balik penolakan anak.

Ganti Kontrol dengan Rasa Ingin Tahu

Alih-alih langsung memberi hadiah, orang tua dapat bertanya dan memahami karena anak agar mereka belajar memungut keputusan serta membangun motivasi dari dalam diri/ Foto: Magnific.com/Tirachardz

Daripada selalu berkata, “Kalau Anda mau tidur sekarang, besok boleh main,” orang tua bisa mencoba bertanya, “Kamu sebenarnya kenapa belum mau tidur?”

Pertanyaan sederhana seperti ini membuka kesempatan untuk memahami kebutuhan anak dan memberikan pertolongan yang lebih tepat. Tujuannya bukan membikin anak selalu patuh, tetapi membantu mereka memahami karena di balik sebuah tindakan, membangun rasa memiliki terhadap keputusan, dan perlahan menumbuhkan motivasi yang berasal dari dalam diri.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads