4 Ciri Rekan Kerja Toxic yang Perlu Diwaspadai, Bisa Menguras Energi

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 5 menit 361x dilihat
4 Ciri Rekan Kerja Toxic yang Perlu Diwaspadai, Bisa Menguras Energi

Punya rekan kerja yang sering membikin Bunda tarik napas panjang? Kenali ciri-ciri rekan kerja toxic yang perlu diwaspadai agar tidak menguras energi.

Berada di lingkungan kerja yang sehat tentu membikin Bunda lebih nyaman dalam menjalankan tugas sehari-hari. Sebaliknya, kehadiran rekan kerja yang mempunyai perilaku toxic bisa membikin suasana instansi terasa melelahkan, apalagi ketika beban pekerjaan sebenarnya tetap bisa ditangani.

Perilaku toxic di tempat kerja terkadang tidak selalu terlihat secara terang-terangan. Ada orang yang tampak ramah namun diam-diam menjatuhkan rekan kerja.


Sebagian doyan mencari untung pribadi dengan mengorbankan orang lain. Untuk itu, mengenali tanda-tandanya menjadi krusial agar Bunda dapat mengambil langkah yang tepat sebelum kondisi tersebut semakin menguras daya dan memengaruhi kesehatan emosional.

Mengutip Fortune, Amrit Sandhar, pendiri The Engagement Coach, mengatakan bahwa emosi tidak nyaman terhadap seseorang di tempat kerja bisa menjadi tanda yang patut diperhatikan. Menurutnya, firasat jelek terhadap seseorang dapat memicu stres internal dan sebaiknya tidak begitu saja diabaikan.

Sementara itu, Ros Taylor, psikolog klinis, corporate and leadership coach, sekaligus guru besar di Strathclyde University, menyebut rumor negatif yang terus beredar dan mengarah pada satu orang juga dapat menjadi salah satu tanda adanya perilaku toxic di lingkungan kerja.

Ciri rekan kerja toxic yang perlu diwaspadai

Berikut ragam karakter rekan kerja toxic yang perlu diwaspadai.

1. Suka manipulasi

Salah satu karakter yang cukup mudah menimbulkan masalah di tempat kerja adalah orang yang selalu mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Ia bisa saja terlihat sangat ambisius dan berorientasi pada hasil, namun caranya mencapai tujuan justru merugikan orang-orang sekitar.

Orang dengan perilaku seperti ini bisa mengambil buahpikiran rekan kerja dan mengakuinya sebagai milik sendiri. Mereka juga mungkin sengaja mendekati alias mendukung pemimpin demi mendapatkan untung politik di instansi apalagi ketika sebenarnya tidak menyetujui pendapat tersebut.

Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat merusak kepercayaan antaranggota tim.

2. Sering menjatuhkan orang lain

Rekan kerja toxic tidak selalu bertindak demikian lantaran merasa dirinya paling hebat. Dalam beberapa kasus, perilaku tersebut justru berakar dari rasa tidak percaya diri.

Perilaku tersebut dapat muncul dalam beragam bentuk, mulai dari rasa iri, pura-pura memberikan bantuan, hingga memberikan saran yang sebenarnya justru membikin orang lain berada dalam posisi sulit. Sebagai contoh, seorang pemimpin yang merasa terancam oleh personil tim yang lebih kompeten dapat meremehkan pencapaiannya, membicarakan di belakang, alias memberikan umpan kembali yang membuatnya susah berkembang.

Karena dilakukan secara halus, perilaku semacam ini terkadang susah dikenali pada awalnya. Korban apalagi bisa merasa dirinya yang terlalu sensitif alias tidak cukup kompeten, padahal ada pola perilaku yang sengaja membuatnya terlihat buruk.

3. Menyalahgunakan kekuasaan

Semakin tinggi posisi seseorang dalam perusahaan, semakin besar pula pengaruh yang dimilikinya terhadap orang lain. Sayangnya, kekuasaan tersebut dapat menjadi masalah ketika digunakan untuk memaksakan kehendak.

Seseorang yang mendapat promosi bisa saja semakin percaya bahwa pandangan dan langkah kerjanya yang paling benar. Dalam praktiknya, perilaku tersebut bisa terlihat ketika seseorang menggunakan kedudukan alias pengaruhnya untuk memerintah orang lain secara berlebihan.

Mereka tidak membuka ruang diskusi, susah menerima pendapat berbeda, dan menganggap keputusan mereka tidak perlu dipertanyakan. Bukan hanya pemimpin yang dapat menunjukkan perilaku ini.

Rekan kerja yang mempunyai sedikit lebih banyak kewenangan juga dapat menggunakan posisi tersebut untuk mendominasi alias mengatur orang lain. Jika dibiarkan, kebiasaan itu dapat menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan dan tidak inklusif.

4. Bersikap kekanakan

Usia yang sudah dewasa dan pengalaman ahli panjang tidak selalu membikin seseorang mempunyai perilaku matang. Perilaku toxic dapat dipelajari sejak masa kanak-kanak dan terbawa hingga seseorang memasuki usia dewasa jika tidak pernah dikoreksi

Di lingkungan kerja, perilaku kekanak-kanakan dapat terlihat melalui kebiasaan bergosip di belakang orang lain, memainkan peran sebagai korban demi mendapatkan simpati, hingga mencari kambing hitam ketika melakukan kesalahan.

Masalahnya, perilaku seperti ini dapat menjadi pola yang susah diubah, terutama jika orang tersebut sudah bertahun-tahun sukses dengan caranya. Untuk itu, rekan kerja perlu berhati-hati agar tidak ikut terseret ke dalam drama alias bentrok yang sengaja diciptakan.

Cara menghadapi rekan kerja toxic

Menghadapi rekan kerja toxic memang bisa menguras energi, Bunda. Jika mereka sengaja memancing emosi, sebaiknya jangan langsung membalas. Mengutip Forbes, berhentilah sejenak sebelum merespons dan pertimbangkan apakah komentar tersebut memang perlu ditanggapi.

Jika kritiknya berfaedah untuk pekerjaan, Bunda bisa menjadikannya bahan evaluasi. Namun, jika hanya berupa komentar negatif yang tidak relevan, tidak perlu memperpanjang masalah.

Selain itu, jangan sampai perilaku rekan kerja toxic di instansi menghalang perkembangan diri Bunda. Luangkan setidaknya 30 menit setiap minggu untuk konsentrasi pada diri sendiri, misalnya memikirkan sasaran karier, mengikuti kelas untuk menambah kemampuan, kembali menekuni hobi, alias berjumpa teman. Waktu tersebut bisa membantu Bunda mengalihkan perhatian dari drama di tempat kerja dan kembali konsentrasi pada hal-hal yang lebih penting.

Meski lingkungan kerja tidak selalu menyenangkan, Bunda tetap bisa mengendalikan sikap dan kualitas pekerjaan. Fokus pada fakta, dekat dengan rekan kerja yang positif, serta terus mengejar tujuan pekerjaan yang sudah dibuat. Cara menghadapi rekan kerja toxic bukan selalu dengan melawan, tetapi bisa juga dengan menjaga batasan, tidak mudah terpancing, dan tetap konsentrasi mengembangkan diri.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan