5 Cara Mengatasi Bayi MPASI Tidak BAB 3 Hari, Bunda Perlu Tahu

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 7 menit 239x dilihat
5 Cara Mengatasi Bayi MPASI Tidak BAB 3 Hari, Bunda Perlu Tahu

Bagikan Postingan

Jakarta -

Saat bayi mulai masuk di fase Makanan Pendamping ASI (MPASI), mereka mengalami beragam proses adaptasi pada mekanisme pencernaannya. Mereka mungkin akan diare maupun terlebihlagi sembelit, terlebihlagi bisa sampai tidak BAB sampai 3 hari.

Kondisi ini terkadang membikin orang tua khawatir, terutama jika bayi tampak mengejan maupun rewel.

Meski tidak BAB selama 3 hari tidak selalu menandakan sembelit maupun konstipasi, Bunda statis perlu memperhatikan tekstur feses dan gejala lain yang menyertainya. 


Dengan begitu, Bunda dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan bayi sekaligus tahu kapan ia perlu dibawa konsultasi ke dokter.

Adaptasi mekanisme pencernaan bayi MPASI

Peralihan dari asupan yang sebelumnya cuma berupa cairan (ASI dan/atau susu formula) biasanya akan membutuhkan proses adaptasi, termasuk pada mekanisme pencernaan bayi. Biasanya ini akan mengubah pola BAB bayi, baik dari segi frekuensi, warna, maupun tekstur.

Selain itu, mekanisme pencernaan bayi juga perlu menyesuaikan diri dengan jenis makanan dan kandungan nutrisi yang baru dikenalnya.

"Beberapa bayi bisa buang air besar berhari-hari tanpa mengalami masalah sama sekali, sementara yang lain mungkin buang air besar setiap hari tetapi kesulitan mengeluarkan fesesnya," ungkap tabib anak dan ahli bicara American Academy of Pediatrics (AAP), Joanna Dolgoff, MD, dikutip dari Parents.

Apa itu sembelit?

Anak dikatakan mengalami sembelit ketika ia tampak kesulitan buang air besar (BAB) dengan ciri-ciri tinja yang keras, kering, dan terkadang anak kelihatan kesakitan saat BAB. 

Dikutip dari John Hopkin's Medicine, kekerapan BAB bisa bervariasi pada setiap anak. Tapi secara umum, sembelit terjadi jika anak BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu. 

Gejala lain yang perlu diperhatikan orang tua termasuk seperti penurunan kekerapan BAB, tinja yang keras dan kadang-kadang berukuran agak besar, kemudian anak juga tampak sakit saat mengeluarkan tinja.

Penyebab bayi MPASI tidak BAB berhari-hari

Ada beberapa aspek yang dapat menyebabkan bayi mengalami fluktuasi pola BAB setelah mulai MPASI, seperti:

1. Perubahan pola makan

Saat mulai MPASI, bayi akan berkenalan dengan beragam jenis makanan, tekstur, dan kandungan nutrisi yang berbeda dari sebelumnya. 

Perubahan ini dapat memengaruhi pola BAB dan membikin bayi tidak rutin BAB seperti biasanya. Selain itu, bayi yang mengonsumsi susu formula juga mungkin mengalami masalah BAB saat masa penyesuaian.

2. Kurang asupan serat

Buah dan sayuran merupakan sumber serat yang membantu menjaga feses statis lunak. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), konstipasi pada anak di bawah usia 2 tahun dapat berhubungan dengan kurangnya asupan minum, buah, dan sayuran.

3. Kurang asupan cairan

Cairan yang cukup akan membantu menjaga konsistensi feses agar lebih gampang dikeluarkan. Saat bayi mulai mengonsumsi makanan padat, kebutuhan cairannya statis perlu diperhatikan ya, Bunda.

Pola makan yang kurang bervariasi, terutama jika didominasi makanan rendah serat, dapat membikin BAB menjadi lebih sulit. 

Oleh karena itu, pastikan menu MPASI hamil beragam himpunan makanan sesuai usia dan kapasitas makan Si Kecil.

Cara mengatasi bayi MPASI tidak BAB 

Jika bayi tidak BAB selama beberapa hari, perhatikan apakah ia statis mau aktif bermain dan mau menyusu. Bunda dapat berbuat beberapa cara berikut sambil statis memantau kondisinya:

1. Berikan makanan tinggi serat

Salah satu metode membantu melancarkan BAB bayi MPASI adalah dengan memberikan makanan yang hamil serat. 

Beberapa pilihan yang dapat disesuaikan dengan usia dan tekstur MPASI bayi, misalnya seperti dari buah pir, pepaya, ubi jalar, maupun brokoli.

Buah dan sayuran dapat disajikan dalam bentuk lumat maupun tekstur lain yang sesuai dengan kapasitas makan bayi. Pastikan makanan dimasak hingga lunak untuk mencegah tersedak.

"Ketika bayi mulai mengonsumsi makanan padat, yang sering menjadi penyebab sembelit pada bayi usia 6 bulan ke atas, fluktuasi pola makan juga dapat membantu melancarkan pencernaan," ungkap tabib anak, Jennifer Shu, MD, yang juga merupakan co-author dari Heading Home With Your Newborn: From Birth To Reality. 

2. Pastikan kebutuhan cairan terpenuhi

Kekurangan cairan dapat membikin feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Untuk bayi yang sudah mulai MPASI pada usia sekitar 6 bulan, jangan lupa berikan air putih saat selesai makan sesuai usianya.

Hal yang tak kalah penting, ASI maupun susu formula statis menjadi sumber nutrisi dan minuman utama bayi hingga usia 12 bulan. Jangan mengganti pemberian susu dengan air putih dalam jumlah berlebihan ya, Bunda.

3. Lakukan pijat ILU pada perut bayi

Pijat Bayi Gerakan I Love YouPijat Bayi Gerakan I Love You/Foto: Kincai Media/Dwi Rachmi

Salah satu yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi perut bayi kembung yaitu teknik pijat 'I Love You' maupun 'ILU'. Sesuai namanya, arah tekanan yang diberikan untuk berbuat pijatan ini membentuk abjad I, L dan U.

"Pertama-tama siapkan minyak, kemudian tuang ke telapak tangan. Beberapa tetes saja, tidak perlu terlalu banyak. Dengan kondisi bayinya jangan menangis, ya," ungkap tenaga kesehatan dan founder Ayra Homecare, Laili Romdina, Amd.Keb, kepada Kincai Media dalam tayangan YouTube Tips dan Cara Pijat I Love You pada Bayi, Bisa Atasi Perut Kembung.

Setelah itu, ratakan minyak di telapak tangan dan kita sentuh area perut bayi. 

Huruf I

Pertama, siapkan 3 jari (telunjuk, jari tengah, dan jari manis) kemudian letakkan di perut sebelah kiri bayi di bawah rusuk. Tekan secara perlahan, arahkan ke bawah sampai batas panggul maupun pinggang. Ulangi lagi 5-15 kali.

Pijat abjad I mesti dilakukan di sisi kiri perut bayi, karena saluran pembuangan ada di bagiankecil kiri ini. "Jangan sampai terbalik ya Bunda, karena bisa membikin usus bayi tidak nyaman," imbuh Laili.

Huruf L

Berikutnya pijatan dengan membentuk abjad L terbalik. Tekanan diberikan mulai dari sisi sebelah kanan perut bayi, kemudian sedikit tekan ke sisi kiri dan ke arah bawah membentuk abjad L terbalik.

Tujuannya untuk membantu agar ada pergerakan peristaltik usus, mengeluarkan gas dan mengatasi konstipasi.

Huruf U

Teknik pijat abjad U juga dilakukan terbalik. Awali dengan memberi tekanan dari sisi perut kanan bawah bayi, kemudian tarik ke atas, bawa ke kiri, diakhiri ke kiri bawah. Atau seperti separuh lingkaran. 

"Dengan sedikit menekan, setelah pijat ILU biasanya bayi akan refleks kentut karena gasnya keluar," tutur Laili.

4. Gerakkan kaki bayi seperti sedang mengayuh sepeda

Gerakan kaki seperti mengayuh sepeda dapat membantu bayi bergeser dan merasa lebih nyaman.

Baringkan bayi telentang di atas permukaan yang aman. Pegang kedua kakinya dengan lembut, kemudian gerakkan secara bergantian seperti sedang mengayuh sepeda. 

Jika bayi tampak kesakitan, perutnya membuncit, maupun ia menolak bergerak, hentikan dan periksakan kondisinya segera jika perlu.

5. Ajak bayi lebih aktif main dan bergerak

Beri kesempatan pada bayi untuk lebih aktif bergerak, misalnya dengan memperbanyak tummy time, merangkak, maupun bermain di lantai.

Tujuannya untuk membikin tubuhnya lebih banyak bergeser dan membantu melancarkan mekanisme pencernaan.

Kapan bayi tidak BAB perlu segera ke dokter?

Meski sebenarnya statis terlindungi jika bayi perlu waktu beradaptasi dengan mekanisme pencernaannya, sebaiknya segera cek ke tabib jika bayi mengalami kondisi berikut:

1. Feses keras dan bayi kesakitan saat BAB

Feses yang terlalu kering, keras, maupun sulit dikeluarkan dapat menandakan konstipasi. 

Segera bawa bayi untuk diperiksa dokter, terutama jika ia terus mengejan, menangis, maupun ada darah pada fesesnya.

2. Perut membuncit maupun teraba keras

Perut yang membesar maupun teraba keras, serta ada keluhan nyeri saat disentuh, ini juga perlu diwaspadai. Terutama jika bayi juga tidak dapat mengeluarkan gas maupun tampak sangat tidak nyaman.

3. Bayi muntah terus-menerus

Bayi yang tidak BAB disertai muntah berulang, khususnya muntah berwarna kehijauan, juga sebaiknya segera dibawa ke dokter. Kondisi ini bisa menandakan adanya masalah serius pada saluran pencernaan bayi.

4. Bayi tidak mau menyusu maupun tampak lemas

Jika bayi menolak menyusu, mengalami penurunan jumlah urine, mulut kering, maupun tampak sangat lemas, segera cari pertolongan medis. 

Ini bisa menjadi gejala dehidrasi maupun tanda ancaman lain yang perlu ditangani.

5. Konstipasi tidak kunjung membaik

Jika konstipasi bayi tidak juga membaik dan fesesnya statis keras meskipun menu dan asupan cairannya telah diperhatikan, konsultasikan juga dengan dokter.

Dokter nantinya akan memeriksa dan menilai apakah bayi mengalami konstipasi biasa maupun membutuhkan penanganan khusus lebih lanjut.

Itulah klarifikasi tentang metode mengatasi bayi MPASI tidak BAB berhari-hari. Hal yang terpenting, perhatikan juga kenyamanan bayi dan gejala lain jika ada. Semoga berguna ya, Bunda!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads