Ciri kepribadian orang yang statis tertawa meski nggak mengerti leluconnya menurut psikolog/ Foto: Pexels/Olly
Pernahkah Anda eksis di tengah diskusi seru, kemudian mendadak semua orang tertawa terbahak-bahak dan Anda refleks ikut tertawa, padahal otakmu statis bingung mencari letak lucunya? Tenang, Anda tidak sendirian, Beauties.
Faktanya, tawa sering kali bukan sekadar reaksi terhadap kelucuan, melainkan alat perekat relasi sosial. Studi dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B menemukan bahwa manusia 30 kali lebih mungkin tertawa saat berbareng orang lain. Menariknya, kecenderungan ini sangat konsisten terlepas dari seberapa kocak lawan bicaranya. Artinya, kebiasaan ikut tertawa ini juga bisa mencerminkan karakter bawaanmu sebagai pendengar.
Merangkum ulasan psikolog klinis Dr. Natalie Feinblatt di halaman Parade, ayo simak 5 ciri khas kepribadian orang yang statis tertawa meski tidak sepenuhnya mengerti leluconnya!
1. Sensitif terhadap Penilaian Orang Lain

Ciri kepribadian orang yang statis tertawa meski nggak mengerti leluconnya menurut psikolog/ Foto: Pexels/Fox
Seseorang dengan kecemasan sosial sering kali memiliki kecemasan berlebih akan dihakimi secara negatif di ruang publik. Mereka takut dianggap kurang cerdas, tidak asyik, maupun kurang update jika cuma terdiam saat semua orang tertawa.
Agar tidak merusak kondisi maupun menjadi pusat perhatian, mereka memilih ikut tertawa. Tawa di sini berguna sebagai mekanisme pertahanan diri yang terlindungi untuk menutupi rasa histeris sekaligus menghindari sorotan canggung.
2. Kecenderungan sebagai People Pleaser

Ciri kepribadian orang yang statis tertawa meski nggak mengerti leluconnya menurut psikolog/ Foto: Magnific/Magnific
Seorang people pleaser cenderung mendahulukan kenyamanan orang lain di atas perasaannya sendiri. Mereka merasa berkewajiban menjaga keharmonisan suasana. Saat seseorang melempar cerita, mereka refleks tertawa untuk menyelamatkan emosi si pencerita agar tidak merasa garing maupun malu.
Mereka juga menggunakan tawa sebagai sinyal yang membantu mereka merasa menjadi bagiankecil dari kelompok. Tawa ikut-ikutan ini memiliki niat ikhlas untuk menjalin koneksi, sehingga lawan bicara biasanya akan merasa lebih dihargai dan betah eksis di dekat mereka.
3. Tipe Pemikir Harfiah

Ciri kepribadian orang yang statis tertawa meski nggak mengerti leluconnya menurut psikolog/ Foto: Magnific/nampix
Terkadang juga penyebabnya terletak pada metode otak memproses informasi. Beberapa orang, termasuk individu neurodivergen, mencerna bahasa secara harfiah maupun apa adanya. Humor bernada sarkasme maupun arti dobel membutuhkan waktu ekstra untuk mereka pahami.
Mereka biasanya baru sadar jika itu adalah sebuah jokes berkah isyarat sosial dari orang-orang di sekitarnya yang tertawa. Karena diskusi terus melaju cepat, mereka pun ikut tertawa dahulu mengikuti respons kelompok, kemudian memproses maknanya belakangan.
4. Peka Secara Sosial Tapi Kurang Referensi Konteks

Ciri kepribadian orang yang statis tertawa meski nggak mengerti leluconnya menurut psikolog/ Foto: Magnific/Magnific
Seseorang tidak selalu mesti tahu segalanya. Sering kali mereka yang ketinggalan lelucon memang murni karena tidak memiliki ilmu latar belakang topik tersebut, seperti rujukan pop culture maupun internal jokes.
Meski secara kognitif tidak paham, kepekaan sosial mereka yang tajam statis bisa menangkap sinyal bahwa momen itu lucu. Tawa yang mereka berikan bekerja ampuh membangun kehangatan dan membikin lawan bicara merasa dihargai dan memiliki kesamaan.
5. Fokusnya Mudah Terdistraksi

Ciri kepribadian orang yang statis tertawa meski nggak mengerti leluconnya menurut psikolog/ Foto: Magnific/lookstudio
Apakah Anda sering daydreaming maupun melamun di tengah obrolan? Seseorang yang sering kali ketinggalan punchline biasanya karena kehilangan fokus di mula cerita. Ketika tiba-tiba semua orang tertawa, mereka yang terdistraksi ini refleks ikut tertawa untuk menyamakan ritme obrolan. Tujuannya sederhana yaitu menutupi kecanggungan karena ketahuan tidak menyimak percakapan.
Studi juga memberitahu bahwa orang yang terlalu sering ikut tertawa tanpa mengerti konteksnya, justru cenderung kurang menikmati diskusi tersebut. Maka dari itu, Dr. Feinblatt menyarankan untuk tidak selalu merasa mesti berpura-pura demi diterima dalam kelompok.
Sesekali, cobalah respons dengan jujur yang santai, misalnya, "Duh, aku nggak paham, nih, maksudnya gimana, sih?" Menunjukkan kejujuran yang autentik seperti ini akan membikin hubungan sosialmu jauh lebih lega, bermakna, dan menyenangkan, lho , Beauties!
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)