Hari pertama sekolah di salah satu SDN di Jakarta Selatan berubah mencekam ketika sekolah menerima ancaman bom lewat pesan WhatsApp saat siswa dan pembimbing sedang mengikuti upacara.
Ancaman itu membuat warga sekolah dan wali murid panik, sehingga kegiatan yang semestinya berlangsung ceria harus terganggu dan siswa dievakuasi demi keselamatan.
5 Fakta mengenai ancaman peledak di SDN di Jaksel
Berikut rangkuman lima fakta penting soal ancaman bom di SDN tersebut.
1. Ancaman dikirim orang tak dikenal
Kepala Kepolisian Sektor Jagakarsa, Kompol Nurma Dewi, menjelaskan bahwa pesan berisi ancaman peledak diterima melalui WhatsApp saat upacara pagi berlangsung. Pesan dikirim secara pribadi (japri) kepada salah seorang pembimbing dan petugas Tata Usaha sekolah.
Menurut laporan, ancaman tercatat sekitar pukul 07.30 WIB dan segera memicu respons dari aparat setempat. Pernyataan itu juga dilaporkan oleh detikcom.
Staf Khusus Gubernur DKI untuk Komunikasi Publik, Chico Hakim, menambahkan bahwa peristiwa terjadi pada saat kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), ketika siswa berkumpul di lapangan dan tenaga pendidik menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal.
2. Para siswa langsung dievakuasi
Setelah menerima laporan, aparat kepolisian segera dikerahkan ke lokasi dan pihak sekolah mengevakuasi para siswa keluar area sekolah untuk alasan keamanan.
Nurma Dewi menyatakan, anak-anak diarahkan keluar sekolah terlebih dahulu agar proses pemeriksaan dan penanganan ancaman dapat berlangsung tanpa risiko.
Pemerintah Provinsi DKI langsung berkoordinasi dengan kepolisian setempat, termasuk Polsek, Tim Gegana, dan Densus 88, guna menangani ancaman tersebut.
Tim Gegana melakukan sterilisasi dan penyisiran menyeluruh di area sekolah untuk memastikan tidak ada bahan peledak, sementara Densus 88 menelusuri nomor pengirim pesan ancaman.
Untuk keselamatan, sekolah memutuskan memulangkan seluruh siswa dan kepala sekolah beserta kapolsek menginformasikan orang tua/wali siswa mengenai langkah yang diambil.
3. Kondisi telah terkendali
Hingga informasi terakhir, hasil penyisiran belum menemukan bahan peledak. Situasi dilaporkan sudah terkendali, namun proses penyisiran dan penyelidikan terhadap pengirim ancaman masih berlangsung pada Senin siang.
Pihak berwenang memastikan akan menyampaikan perkembangan secara transparan kepada masyarakat agar proses penanganan berjalan lancar dan kegiatan belajar mengajar bisa segera kondusif kembali.
4. Pelaku telah ditangkap
Selain menyisir lokasi, polisi juga menelusuri sumber pesan ancaman. Kurang dari 24 jam setelah kejadian, aparat menangkap seorang pria berinisial MY (34) yang diduga mengirim pesan teror tersebut.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imannudin, menyampaikan bahwa dari pemeriksaan awal motif pelaku sifatnya iseng atau iseng semata.
5. Pelaku adalah orang tua siswa
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengungkapkan bahwa pelaku merupakan orang tua murid dan tinggal di dekat sekolah.
Iman Imannudin menambahkan bahwa anak pelaku memang bersekolah di SDN tersebut, dan pelaku sempat menjemput anaknya setelah mengirim pesan ancaman sebelum aparat akhirnya menangkapnya.
Proses penyelidikan lanjutan terus dilakukan untuk memastikan motif dan kemungkinan keterkaitan lain dari pengirim ancaman tersebut.