Setiap orang tua tentu mau anak tumbuh sehat dan bisa menjalani hidup dengan baik hingga dewasa nanti. Banyak Bunda dan Ayah yang selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk Si Kecil setiap harinya.
Namun tanpa disadari, ada kebiasaan dalam pengasuhan yang rupanya bisa berakibat pada kesehatan anak dalam jangka panjang. Mungkin saja orang tua merasa sudah menjaga anak dengan baik, mulai dari makanan hingga kebiasaan di rumah.
Seorang master ahli anak bersertifikat di Amerika Serikat, dr. Amanda Furr, membagikan pandangannya mengenai kebiasaan yang dapat berpengaruh pada kesehatan anak dalam jangka panjang.
Kondisi ini bukan berfaedah orang tua sengaja membahayakan anak ya, Bunda. Justru lantaran tampak sepele, banyak orang tua tidak sadar bahwa kebiasaan tersebut bisa berpengaruh pada kesehatan anak di masa depan.
5 Kesalahan orang tua yang bisa memperpendek usia anak
Terdapat kesalahan orang tua yang tanpa disadari bisa berakibat pada kesehatan anak. Berikut penjelasan lengkapnya yang dikutip dari laman New York Post:
1. Menggunakan car seat menghadap ke depan
Orang tua sekarang banyak yang mengubah posisi car seat anak dari menghadap belakang menjadi menghadap depan saat mereka sudah memenuhi pemisah tinggi alias berat tertentu.
Biasanya, perubahan ini dilakukan ketika anak mulai terlihat lebih besar alias kakinya tampak tertekuk di car seat. Padahal, kondisi tersebut belum tentu menandakan anak siap duduk menghadap depan.
Dokter Furr mengatakan penggunaan car seat menghadap depan dapat meningkatkan akibat cedera pada anak. Sebab, posisi menghadap belakang bisa mengurangi tekanan tumbukan pada bagian punggung, kepala, dan leher anak.
Menurutnya, anak sebaiknya tetap menggunakan posisi menghadap belakang selama car seat mereka tetap memungkinkan untuk digunakan seperti itu. Pasalnya, tulang belakang anak, terutama balita, tetap dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan mengalami cedera.
"Posisi menghadap ke belakang jauh lebih kondusif dan anak-anak kudu tetap menghadap ke belakang selama car seat mereka memungkinkan," kata dr. Furr.
"Tergantung pada anak dan kursinya, biasanya hingga usia 2 hingga 4 tahun, dan terkadang lebih lama. Tulang belakang balita tetap dalam tahap perkembangan dan kecelakaan saat menghadap ke depan memberikan tekanan yang sangat besar pada struktur yang rentan tersebut," sambungnya.
Menghadapi anak yang pilih-pilih makanan memang jadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Tak sedikit orang tua yang akhirnya menuruti kemauan anak agar waktu makan tidak penuh dengan drama.
Padahal, dr. Furr mengatakan bahwa terlalu sering mengikuti penolakan makan anak bisa berakibat pada kebutuhan nutrisi mereka, Bunda.
Menurutnya, masa balita menjadi waktu terbaik untuk membentuk kebiasaan makan anak sejak dini. Pada tahap ini, anak mulai mengenal beragam rasa, tekstur, dan jenis makanannya.
"Masa balita merupakan periode kritis untuk membentuk preferensi makanan, keragaman mikrobioma usus, dan pola nutrisi yang dapat memperkuat seumur hidup," ungkapnya.
Furr juga menjelaskan otak anak yang sedang berkembang memerlukan asupan nutrisi dari beragam makanan sehat. Mulai dari buah, sayur, ikan berlemak, biji-bijian, hingga kacang-kacangan yang bagus untuk dukung tumbuh kembangnya.
Lebih lanjut, orang tua juga perlu membatasi konsumsi saribuah pada anak lantaran sebagian besar kandungannya adalah gula. Jika tetap diberikan, jumlahnya sebaiknya tidak berlebihan.
"Jus sebagian besar terdiri dari gula. Anak-anak tidak memerlukan jus, tetapi jika ditawarkan, sebaiknya dibatasi hingga empat ons per hari," katanya.
Untuk menghadapi anak yang susah makan, dr. Furr menyarankan Bunda untuk tetap mengenalkan beragam jenis makanan tanpa memaksa anak. Menurutnya, anak perlu dikenalkan makanan baru beberapa kali sebelum akhirnya mau mencoba dan menyukainya.
"Saya merekomendasikan paparan berulang dan tanpa tekanan terhadap beragam macam makanan tanpa paksaan alias suap. Ingat, mungkin dibutuhkan 10 hingga 15 kali paparan sebelum anak menerima sesuatu yang baru, jadi teruslah menawarkannya," tuturnya.
3. Kurang mengawasi penggunaan media sosial anak
Ilustrasi anak bermain media sosial/ Foto: Getty Images/Pitsanu Jaroenpipitaphorn
Media sosial sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak anak dan remaja, setuju tidak, Bunda? Namun, penggunaan yang berlebihan rupanya memberi akibat kurang baik bagi kesehatan mental mereka.
Dokter Furr menyampaikan bahwa media sosial dapat memengaruhi pola tidur, rasa percaya diri, hingga kondisi emosional anak. Terlebih jika mereka sering membandingkan dirinya dengan orang lain di bumi maya.
"Penggunaan media sosial yang berlebihan dikaitkan dengan gangguan tidur, komparasi sosial, perundungan, serta berkurangnya waktu untuk melakukan kegiatan yang bisa membangun rasa percaya diri dan mental yang sehat," katanya.
Menurutnya, nomor kecemasan, depresi, hingga perilaku menyakiti diri sendiri pada anak remaja juga mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, Bunda.
"Angka kecemasan, depresi, perilaku melukai diri sendiri, dan bunuh diri di kalangan remaja, terutama perempuan, telah meningkat tajam sejak awal tahun 2010-an. Hal ini juga bertepatan dengan meluasnya penggunaan gadget dan munculnya platform seperti IG dan TikTok di kalangan remaja," ujar dr. Furr.
Selain itu, kebiasaan menggunakan gadget sejak usia awal juga berakibat pada kesehatan anak dalam jangka panjang. Anak yang sudah mempunyai gadget sebelum usia 12 tahun apalagi disebut lebih berisiko mengalami obesitas dan gangguan tidur.
Karena itu, master Furr menyarankan orang tua untuk menunda penggunaan media sosial pada anak hingga usia mereka mencapai 16 tahun.
"Secara pribadi, saya tidak mengizinkan anak-anak saya menggunakan media sosial sampai mendekati usia 16 tahun," kata Furr.
Namun, jika anak sudah punya gadget sendiri, sebaiknya gadget tersebut tidak dibawa ke bilik tidur saat malam hari.
4. Jadwal anak yang dibuat terlalu padat
Banyak orang tua mau memberikan kegiatan terbaik untuk anak, mulai dari les, olahraga, hingga beragam kegiatan lainnya. Namun, agenda yang terlalu padat ini membikin anak kehilangan waktu bermain yang sebenarnya bagus untuk tumbuh kembangnya.
Menurut dr. Furr, bermain krusial sekali untuk mendukung pertumbuhan otak, perkembangan emosi hingga kesehatan mental anak dalam jangka panjang, Bunda.
"Hal ini krusial untuk pertumbuhan otak yang sehat, pengaturan emosi, perkembangan fisik, dan kesehatan mental jangka panjang," katanya.
Para mahir juga menilai anak yang terlalu sibuk dengan agenda padat lebih rentan mengalami stres berkepanjangan. Kondisi ini terlihat dari anak yang mudah resah hingga susah tidur.
Selain pengasuhan dalam keseharian, ada perihal krusial lainnya yang juga perlu diperhatikan orang tua, ialah soal vaksinasi anak. Sebagian orang tua mungkin tetap ragu alias memilih menunda vaksin lantaran beragam argumen tertentu.
Dokter Furr menegaskan bahwa menunda alias melewatkan vaksinasi justru membikin anak rentan terkena penyakit berbahaya. Menurutnya, vaksin diberikan untuk melindungi anak pada usia ketika tubuh mereka tetap sangat rentan.
"Saya mau berterus terang. Menunda alias melewatkan vaksinasi anak yang direkomendasikan tidak membikin anak-anak lebih aman. Justru membikin mereka lebih rentan," jelasnya.
Ia pun menyadari, ada banyak info keliru tentang vaksin yang bikin orang tua menjadi khawatir. Padahal, agenda vaksinasi sudah disusun untuk membentuk kekebalan tubuh anak pada waktu yang tepat.
Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa menunda vaksinasi bisa menimbulkan akibat bagi kesehatan anak. Beberapa penyakit yang kerap dianggap ringan apalagi bisa menyebabkan komplikasi hingga menakut-nakuti nyawa.
Itulah kesalahan orang tua yang sering dianggap sepele, tetapi rupanya bisa berakibat pada kesehatan anak dalam jangka panjang.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·