5 Mitos Kesuburan yang Sering Menghambat Program Hamil

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 23481x dilihat
5 Mitos Kesuburan yang Sering Menghambat Program Hamil

Obrolan soal kesuburan kerap dipenuhi anggapan yang belum tentu benar. Supaya tidak terjebak informasi keliru, simak penjelasan lima mitos kesuburan yang sering menghambat program hamil, Bunda.

Kesuburan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program kehamilan. Ironisnya, kepercayaan pada mitos justru bisa mengurangi peluang pasangan karena mengarahkan mereka pada keputusan atau penundaan yang tidak perlu. Berikut klarifikasi agar langkah pasangan lebih tepat sasaran.

5 Mitos kesuburan yang bisa menghalang program hamil

Di bawah ini dijabarkan beberapa mitos umum tentang kesuburan yang sebaiknya diabaikan, beserta penjelasan singkatnya:


1. Jika pasangan tidak dapat hamil, pasti wanita yang bermasalah

Mitos ini masih sering muncul dan menempatkan beban pada perempuan. Dalam banyak kasus, wanita langsung disalahkan dan diminta melakukan pemeriksaan, sementara laki-laki sering tidak diperiksa sama seriusnya.

Menurut Dr RIchika Sahay Shukla, salah satu pendiri dan Direktur Medis, India IVF Fertility bahwa di kliniknya, salah satu kesalahpahaman paling sering adalah menyamaratakan sumber masalah pada istri. Padahal, kontribusi faktor laki-laki mencapai hampir separuh dari seluruh kasus infertilitas.

Data menunjukkan bahwa jumlah sperma dapat menurun perlahan selama bertahun-tahun, tetapi pria cenderung menunda pemeriksaan sperma lebih lama — bahkan hingga tiga sampai lima tahun dibanding wanita. Padahal, analisis semen biasanya selesai dalam sehari, sehingga penundaan ini bisa mengorbankan tahun-tahun terbaik pasangan untuk pengobatan yang efektif.

Kesimpulannya, menyalahkan satu pihak tanpa pemeriksaan komprehensif tidak hanya menyakiti perasaan tetapi juga membuang waktu penting.

2. Pria tetap subur selamanya

Banyak yang hanya fokus pada penurunan kesuburan wanita seiring usia, sehingga menganggap pria selalu subur. Padahal, pria juga mengalami penurunan kualitas reproduksi.

Dr Shukla menjelaskan bahwa pria tidaklah selalu subur. Setelah usia 40 tahun, kualitas sperma dan integritas DNA cenderung menurun, sehingga fertilitas bukanlah isu yang hanya dialami wanita.

Beberapa studi, seperti dikutip dari Times of India, menunjukkan bahwa bertambahnya usia pria dapat memengaruhi kualitas sperma dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan serta gangguan genetik tertentu.

Tetapi ini bukan berarti pria otomatis menjadi mandul saat melewati usia 40; melainkan peluang pembuahan menjadi lebih tidak menentu dan mungkin menurun.

3. "Santai saja, gimana pun Anda bakal hamil"

Banyak pasangan mendapat nasihat seperti ini. Meskipun terdengar menenangkan, kalimat tersebut bisa terasa mengecilkan bagi orang yang sedang berjuang dengan infertilitas.

Seperti dikatakan Dr Shukla, "Lalu ada saran lembut 'santai saja dan itu bakal terjadi.'" Saya memahami niat baik di baliknya, tetapi mengatakan kepada seseorang yang sedang berjuang untuk sekadar menghilangkan stres dapat terasa seperti disalahkan atas patah hati mereka sendiri. Stres bukanlah penyebab sebagian besar infertilitas; kondisi medis yang tidak diobati lah penyebabnya.

Sebab-sebab medis yang lebih sering berperan antara lain PCOS, endometriosis, penyumbatan tuba falopi, jumlah sperma rendah, gangguan tiroid, dan ketidakseimbangan hormon — bukan sekadar tekanan psikologis semata.

4. IVF tidak alami dan tidak menjamin kehamilan

IVF sering kali diselimuti salah paham: ada yang menganggapnya tidak alami, atau sebaliknya berharap satu siklus menjamin kehamilan. Keduanya keliru.

Menurut Dr Shukla, IVF bukan pengganti siklus alami, melainkan bantuan medis yang mendorong proses reproduksi tubuh sendiri. Tidak ada dokter yang bisa menjamin 100% keberhasilan; hasil bergantung pada usia, kualitas sel telur dan sperma, serta kondisi rahim.

IVF telah membantu jutaan keluarga di seluruh dunia, tetapi tingkat keberhasilan berbeda-beda tergantung faktor individu dan kondisi medis yang mendasari. Prosedur ini merupakan salah satu opsi medis, bukan jalan pintas atau jaminan mutlak.

5. Perawatan kesuburan dapat ditunda

Mitos yang berbahaya adalah menganggap perawatan kesuburan selalu bisa ditunda. Pada kenyataannya, peluang dan pilihan terapi sering mengecil seiring bertambahnya usia, sehingga menunda pemeriksaan dan terapi dapat mengurangi kemungkinan keberhasilan.

Dr Shukla menyarankan agar pasangan tidak membiarkan waktu terbuang untuk menunda perawatan. Infertilitas adalah masalah medis yang relatif umum dan seringkali lebih efektif ditangani sejak awal.

Semakin cepat mitos diganti dengan informasi yang benar, semakin banyak opsi terapi yang bisa dipertimbangkan untuk meningkatkan peluang hamil. Banyak pasangan kehilangan waktu bertahun-tahun mencoba langkah rumahan atau mengandalkan saran keluarga, sehingga saat akhirnya ke klinik, kesempatan terbaik mungkin sudah berkurang.

Penting diingat bahwa infertilitas bukanlah stigma, kegagalan pribadi, atau semata tanggung jawab wanita. Ilmu kedokteran kini menawarkan lebih banyak jawaban dan pilihan dibanding sebelumnya — dan opsi-opsi itu paling efektif bila dicari sejak dini dengan pertanyaan dan penanganan yang tepat.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan