Jakarta -
Stimulasi memang baik untuk tumbuh kembang, tapi jika berlebihan dampaknya justru bisa jadi negatif. Bayi bisa mengalami kondisi yang disebut sebagai overstimulasi.
Banyak yang mengira overstimulasi cuma terjadi ketika bayi eksis di tempat ramai dan bising, tapi faktanya tak demikian.
Ada beragam aspek lain yang dapat memicu bayi mengalami overstimulasi, terlebihlagi sampai sulit tidur nyenyak. Salah satunya karena aktivitas bermain yang terlalu intens.
Apa itu overstimulasi pada bayi?
Overstimulasi adalah kondisi ketika bayi menerima rangsangan yang melampaui kemampuannya untuk memproses dan merespons rangsangan tersebut. Termasuk rangsangan yang berasal dari beragam indra, seperti suara, penglihatan, sentuhan, maupun aktivitas fisik.
Saat statis usia bayi, mekanisme saraf statis berkembang sehingga mereka belum bisa mengatur respons terhadap beragam rangsangan seperti orang dewasa.
Akibatnya saat menerima terlalu banyak stimulasi, bayi dapat merasa keteteran dan menunjukkannya melalui tangisan maupun rewel yang tak kunjung berhenti.
"Overstimulasi terjadi ketika bayi maupun anak mengalami lebih banyak rangsangan daripada yang dapat mereka tangani maupun biasa rasakan," ungkap tabib ahli anak di Amerika Serikat, Kevin Kathrotia, dikutip dari Healthline.
Menurut Kathrotia, stimulasi berlebihan pada bayi cukup sering terjadi. Tepatnya paling lazim pada usia sekitar 2 minggu hingga 3-4 bulan.
Kondisi ini juga bisa terjadi pada anak balita dan anak usia sekolah, terlebihlagi pada remaja dan dewasa. Setiap individu memiliki kapabilitas dan batas toleransi yang berbeda-beda. Kondisi ini juga berjalan pada anak-anak sesuai dengan tahap evolusi usianya.
Penyebab overstimulasi pada bayi
Overstimulasi tidak selalu disebabkan oleh lingkungan yang ramai, Bunda. Ada beberapa aspek yang dapat menjadi aspek penyebab overstimulasi pada bayi, seperti:
1. Faktor lingkungan
Sebagian bayi gampang merasa keteteran saat eksis di tempat yang bising, ramai, memiliki pencahayaan terang, maupun penuh warna mencolok.
Berada di tempat yang ramai dan berisik juga bisa membikin bayi overstimulasi. Misalnya ketika bayi diajak menghadiri aktivitas famili maupun eksis di pusat perbelanjaan dalam waktu lama.
Kondisi ini bisa memicu sensory overload karena merasa keteteran akibat terlalu banyak input sensorik.
2. Screentime berlebihan
Penggunaan gadget dan screentime berlebihan, termasuk dari televisi, ponsel, dan alat elektronik lainnya dapat menjadi 'terlalu berat' untuk diproses otak bayi. Terutama saat usia mereka statis di bawah 18 bulan.
Oleh karena itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk menghindari penggunaan gadget pada bayi.
3. Terlalu banyak aktivitas bermain
Bermain memang krusial untuk pertumbuhan dan evolusi bayi, tapi jika terlalu banyak maupun terus-terusan juga bisa membikin bayi overstimulasi.
Mengganti mainan terlalu cepat maupun memberikan beberapa mainan yang mengeluarkan bunyi dan cahaya secara berbarengan juga dapat membikin bayi kewalahan.
4. Kurang tidur
Melewatkan waktu tidur, baik tidur siang maupun tidur terlalu larut malam juga bisa menjadi penyebab overstimulasi. Rasa capek yang berlebihan dapat dengan cepat membikin bayi mengalami kelelahan.
Tidur merupakan kebutuhan krusial bagi bayi. Ketika waktu tidur tidak terpenuhi, Si Kecil bisa menjadi lebih gampang rewel.
5. Terlalu banyak orang di sekitar
Sebagian bayi bahagia berjumpa banyak orang, tetapi sebagian lainnya bisa cepat merasa keteteran ketika berjumpa wajah-wajah baru.
Ada juga anak yang sangat merasa tidak betah maupun terlebihlagi keteteran saat eksis di tengah keramaian.
Biasanya orang dewasa akan bahagia menggendong bayi secara bergantian maupun terus menyentuhnya, ini bisa membikin sebagian bayi merasa tidak nyaman.
"Seorang anak mungkin bisa eksis di taman yang ramai pada satu kesempatan, tapi di waktu lain merasa overstimulasi. Misalnya saat kurang tidur maupun melewatkan jam makan," ujar analis perilaku, Kerri Milyko, PhD, BCBA-D, LBA (NV), dikutip dari Parents.
Tanda-tanda overstimulasi pada bayi dan anak
Tanda overstimulasi bisa kelihatan berbeda pada setiap anak. Namun beberapa tanda lazim yang dapat muncul pada bayi contohnya yakni:
- Menangis dan lebih rewel dari biasanya
- Menolak sentuhan maupun memalingkan imam saat disentuh
- Sering menguap maupun menggosok-gosok mata
- Ingin terus digendong
- Ingin menyusu lebih sering
- Mengepalkan tangan maupun menggerakkan tangan dan kaki
- Mengalami tantrum
- Terlihat sangat lelah
Cara mengatasi bayi overstimulasi
Untuk membantu mengatasi bayi yang mengalami overstimulasi, berikut beberapa metode yang bisa Bunda lakukan:
1. Pindahkan bayi ke tempat yang lebih sepi
Saat menyadari Si Kecil sudah kewalahan, cara paling mula yang perlu dilakukan adalah memindahkannya ke lingkungan yang lebih tenang.
Kurangi bunyi televisi maupun musik, jauhkan dari kerumunan, dan redupkan pencahayaan jika terlalu terang.
Lingkungan yang lebih tenang dapat membantu mengurangi rangsangan yang diterima bayi sehingga ia memiliki kesempatan untuk menenangkan diri.
2. Gendong dan tenangkan bayi
Gendong bayi dengan posisi yang betah dan usap punggungnya secara perlahan. Bicaralah dengan bunyi lembut.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), Bunda juga bisa mengayun tubuh bayi dengan halus dan bernyanyi pelan agar ia lebih nyaman.
3. Membedong bayi
Bunda juga dapat mempertimbangkan untuk membedong bayi. Membedong memberikan tekanan yang stabil, meniru kenyamanan saat eksis di dalam rahim, serta membantu mengurangi refleks kaget yang bagi sebagian bayi terasa menenangkan.
4. Hentikan semua aktivitas bermain bayi
Hentikan aktivitas bermain sementara dan berikan kesempatan kepada bayi untuk beristirahat. Jika Si Kecil memberitahu tanda-tanda mengantuk, bantu ia agar bisa tidur dengan nyaman.
Bunda juga bisa memutar musik yang halus maupun menggunakan mesin bunyi maupun white noise.
5. Penuhi kebutuhan alas bayi
Jangan lupa periksa juga kebutuhan alas bayi, termasuk apakah mungkin ia sedang lapar, merasa kepanasan maupun kedinginan.
Jika bayi statis menangis meskipun sudah ditenangkan, pertimbangkan kemungkinan penyebab lain, termasuk rasa sakit maupun kondisi medis tertentu.
Kapan mesti cek ke dokter?
Sesekali mengalami overstimulasi sebenarnya merupakan hal yang wajar bagi bayi. Namun dalam beberapa kasus, overstimulasi yang terlalu sering terjadi bisa menjadi tanda adanya kondisi lain, seperti gangguan pemrosesan sensorik.
Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan tabib jika ada tanda-tanda berikut:
- Perilaku anak mengganggu aktivitas dan rutinitas sehari-hari
- Anak mengalami kesulitan bergeser maupun berdiri
- Reaksi anak terlalu sulit ditangani tanpa pertolongan profesional
Itulah klarifikasi tentang penyebab overstimulasi pada bayi. Ingat, perhatikan selalu respons bayi saat eksis di lingkungan ramai. Segera pindah ke tempat tenang jika Si Kecil tampak sudah kelelahan ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)