5 Perbedaan Trauma Dumping dengan Curhat Biasa

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 3 menit 515x dilihat
5 Perbedaan Trauma Dumping dengan Curhat Biasa

Bagikan Postingan

Mendengarkan curhatan kawan memang corak kepedulian sebagai sahabat, Beauties. Namun, pernah nggak Anda merasa drained setelah mendengarkan cerita seseorang?

Banyak dari kita yang tetap bingung membedakan trauma dumping dan curhat biasa, sampai-sampai nggak sadar jika mental health sendiri terkuras demi menampung masalah orang lain. Kalau dibiarkan terus, batas yang buram ini bisa bikin Anda burnout sendiri, lho!

Nah, agar Anda bisa lebih bijak pasang boundaries tanpa kudu merasa jadi kawan yang jahat, yuk pelajari bedanya trauma dumping dan curhat biasa di sini!

1. Curhat Biasa Bikin Lega, Trauma Dumping Memicu Lelah Mental

Trauma dumping kerap memicu capek mental/Foto : Pexels.com/https://kaboompics.com/

Sinyal paling mudah buat mengenali bedanya adalah dari apa yang Anda rasakan setelah sesi obrolan selesai. Setelah sesi curhat yang sehat, biasanya Anda dan temanmu bakal merasa lebih tenang, lega, dan ikatan pertemanan kalian justru jadi makin erat.

Beda ceritanya jika Anda kena trauma dumping, Beauties. Bukannya merasa lega, Anda malah ketularan cemas, pusing, hingga burnout lantaran terpaksa menampung emosi berat yang belum siap Anda dengar.

2. Fokus Cerita Tanpa Mencari Solusi

Pelaku trauma dumping biasanya menolak diberi solusi/Foto : Pexels.com/https://kaboompics.com/

Saat seseorang curhat secara wajar, mereka biasanya mau merapikan benang kusut di kepala dan mencari perspektif pandang baru. Tetap ada kemauan untuk bisa menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi.

Sementara itu, trauma dumping hanya berfokus untuk membuang emosi negatif tanpa peduli solusi yang Anda berikan. Parahnya lagi, mereka kadang membagikan perincian yang terlalu berat, seperti bentrok family parah alias trauma masa lalu, tanpa mempedulikan apakah Anda nyaman mendengarnya alias nggak.

3. Percakapan Terasa Satu Arah

Percakapan satu arah yang mendominasi hingga menguras daya pendengar/Foto : Pexels.com/https://kaboompics.com/

Dalam sesi curhat yang sehat, aliran komunikasinya selalu melangkah dua arah secara seimbang. Ada momen saling mendengarkan, saling merespons, dan memberi ruang satu sama lain tanpa ada pihak yang mendominasi secara berlebihan.

Nah, jika obrolannya dari awal nggak sehat, percakapannya murni hanya jalan satu arah. Kamu sama sekali nggak diberi kesempatan buat berbincang alias berbagi pendapat, sampai akhirnya seluruh energimu lenyap hanya buat mendengarkan orasi emosionalnya.

4. Membuatmu Merasa Bersalah Saat Menolak

Pelaku trauma dumping melakukan guilt-tripping saat ditolak/Foto : Pexels.com/Liza Summer

Sahabat yang niatnya murni curhat pasti bakal mengerti kapan waktunya Anda nggak punya daya buat mendengarkan. Mereka nggak bakal ngambek jika Anda meminta untuk cerita di lain hari saat kondisimu sudah lebih tenang.

Sebaliknya, saat Anda mencoba pasang boundaries ke pelaku trauma dumping, mereka condong melakukan guilt-tripping. Kamu bakal dibuat merasa jadi kawan yang jahat, nggak punya empati, dan tega meninggalkan mereka saat lagi susah.

5. Menuntut Kamu Jadi Terapis Gratisan

Menjadi individual therapy untuk orang yang meluapkan trauma/Foto : Pexels.com/Polina Zimmerman

Ada garis tegas antara jadi sahabat yang suportif dan tempat penampungan trauma. Curhat biasa tetap sangat menghargai kapabilitas dan keterbatasanmu sebagai orang awam yang punya pemisah lelah.

Namun, pelaku trauma dumping seolah memaksamu mengambil peran layaknya seorang psikolog alias terapis pribadi. Mereka menumpuk pemulihan trauma ke pundakmu, padahal masalah seberat itu jelas-jelas butuh penanganan profesional.

Ingat Beauties, menyayangi sahabat memang bagus, tapi bukan berfaedah Anda kudu mengorbankan kesehatan mental sendiri demi jadi tempat sampah emosional orang lain!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads