Bunda, tidak semua sikap positif selalu membawa akibat baik. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan memaksakan pikiran positif justru dapat membikin seseorang mengabaikan emosi yang sedang dirasakan.
Kondisi tersebut dikenal sebagai toxic positivity, ialah kecenderungan menolak, menekan, alias mengesampingkan emosi negatif demi terlihat baik-baik saja.
Seseorang apalagi bisa merasa kudu selalu senang meski sedang menghadapi masalah, kehilangan, alias situasi yang berat.
Toxic positivity bukan istilah alias pemeriksaan resmi dalam psikologi, melainkan pola perilaku yang dapat muncul dalam diri sendiri maupun dari tekanan orang lain.
Mengenali tandanya krusial agar seseorang tetap bisa menerima emosi yang kurang menyenangkan tanpa merasa bersalah lantaran tidak selalu berpikir positif.
Apa itu toxic positivity?
Dilansir Medical News Today, toxic positivity terjadi ketika seseorang menganggap berpikir positif sebagai satu-satunya langkah untuk menghadapi masalah.
Kondisi ini membikin seseorang dituntut untuk menghindari pikiran negatif alias tidak menunjukkan emosi yang kurang menyenangkan.
Penelitian tentang berpikir positif umumnya membahas faedah mempunyai pandangan optimistis saat menghadapi masalah.
Berbeda dengan itu, toxic positivity menuntut seseorang untuk tetap positif apa pun situasi yang sedang dihadapi. Akibatnya, emosi yang sebenarnya bisa terabaikan dan seseorang menjadi enggan mencari support dari orang lain.
Adapun beberapa contoh orang tersebut mengalami toxic postiivity. Berikut di antaranya:
- Mengatakan kepada orang tua yang kehilangan anak agar tetap senang lantaran tetap bisa mempunyai anak lagi.
- Mengatakan setelah terjadi musibah bahwa semua terjadi lantaran ada alasannya.
- Meminta seseorang hanya memandang sisi positif dari kehilangan yang sangat menyakitkan.
- Menyuruh seseorang segera melupakan kesedihan alias penderitaannya dan lebih konsentrasi pada hal-hal baik dalam hidup.
- Menganggap orang yang selalu terlihat positif alias jarang menunjukkan emosinya sebagai pribadi yang lebih kuat alias disukai.
- Mengabaikan kekhawatiran seseorang dengan mengatakan, “Masih ada yang lebih buruk”.
5 Tanda orang mengalami toxic postivity
Sikap yang umumnya positif sebenarnya tidak bahaya. Namun, orang yang merasa kudu selalu berpikir positif bisa saja mengabaikan masalah serius alias tidak menyadari adanya masalah kesehatan mental yang perlu ditangani.
Untuk mengatasi masalah ini, ada beberapa tanda peringatan yang sebaiknya segera dikenali, sebagai berikut:
1. Mengabaikan masalah yang sebenarnya
Tinjauan terhadap 29 penelitian tentang kekerasan dalam rumah tangga pada 2020 menemukan bahwa pandangan yang terlalu positif dapat membikin korban meremehkan tingkat keparahan kekerasan yang dialami dan tetap memperkuat dalam hubungan tersebut.
Sikap terlalu optimistis, berambisi semuanya bakal membaik, alias mudah mengampuni dapat meningkatkan kemungkinan seseorang tetap berbareng pelaku meski kekerasan semakin parah.
2. Meremehkan rasa kehilangan
Kesedihan merupakan perihal yang wajar ketika seseorang mengalami kehilangan. Jika terus-menerus diminta untuk move on alias kembali bahagia, seseorang bisa merasa orang lain tidak peduli dengan dukanya.
3. Merasa terasing dan malu
Orang yang merasa kudu selalu tersenyum meski sedang menghadapi masalah mungkin menjadi enggan mencari dukungan.
Mereka bisa merasa sendirian alias malu dengan emosinya sendiri sehingga memilih tidak meminta bantuan. Stigma terhadap masalah kesehatan mental juga dapat membikin seseorang enggan mencari pertolongan.
4. Mengganggu komunikasi
Setiap hubungan pasti mempunyai masalah. Toxic positivity dapat membikin seseorang memilih mengabaikan persoalan dan hanya berfokus pada sisi positif.
Jika terus dilakukan, langkah ini dapat menghalang komunikasi serta menyulitkan pasangan alias orang terdekat dalam mencari solusi bersama.
Emosi negatif merupakan bagian alami dari kehidupan. Toxic positivity mendorong seseorang untuk menekan emosi tersebut, padahal emosi yang terus dipendam justru bisa terasa semakin kuat. Ketika tidak bisa merasa positif, seseorang apalagi dapat menganggap dirinya gagal.
Cara menghindari toxic positivity
Dilansir Psychology Today, untuk menghindari toxic positivity, cobalah untuk mengakui, menerima, dan mengubah perspektif pandang emosi negatif,
Misalnya, alih-alih mengatakan “Berpikir positif”, katakan sesuatu seperti, “Perasaanmu itu wajar. Bagaimana saya bisa membantu?” pendekatan yang sama dapat diterapkan pada pikiran Bunda sendiri.
Jika secara konsisten mengalami kesulitan dalam perihal ini, ada baiknya membahas topik ini dengan seorang terapis.
Nah, itulah beberapa perihal yang dapat Bunda kenali tentang toxic positivity. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)