Jakarta -
Setiap orang tua tentu mau kelak anak bisa tumbuh menjadi sosok yang kuat dan percaya diri. Nah, gimana langkah mendidik anak handal yang tepat?
Karakter handal sebenarnya tidak muncul begitu saja lho, Bunda. Untuk mencapainya, anak perlu belajar menghadapi kekecewaan, kegagalan, serta situasi yang tidak sesuai harapan.
Situasi ini dapat dibangun dan dilatih sejak awal melalui pola asuh, hubungan yang hangat dengan orang tua, serta pengalaman sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu ketangguhan untuk anak?
Dikutip dari Raising Children, handal alias resilience adalah keahlian untuk bangkit kembali setelah menghadapi tantangan dan masa-masa sulit.
Hal ini juga berfaedah keahlian untuk beradaptasi dengan tantangan dan keadaan susah yang tidak dapat diubah, serta tetap melangkah terus meski susah menghadapinya.
Tingkat ketangguhan anak dapat naik dan turun pada waktu yang berbeda. Mereka juga mungkin lebih bisa bangkit kembali dari beberapa tantangan dibandingkan tantangan lainnya.
Secara garis besar, anak bisa melatih ketangguhannya saat mempunyai faktor-faktor berikut:
- Hubungan yang kuat dan suportif dari orang tua dan lingkungan terdekat
- Keterampilan emosional
- Pola pikir dan sikap yang positif
Bagi anak-anak, tantangan dan masa susah dapat berupa pengalaman seperti mulai bersekolah, pindah ke sekolah alias rumah baru, serta saat menyambut kehadiran adik dalam keluarga.
Tantangan juga dapat berupa pengalaman yang lebih serius seperti perundungan (bullying), masalah dalam keluarga, alias kematian personil keluarga.
Mengapa membangun ketangguhan krusial untuk anak?
Anak yang mempunyai jiwa handal bisa pulih dari kegagalan dan kembali menjalani kehidupannya dengan lebih cepat.
Ketika anak sukses mengatasi masalah, perihal tersebut bakal membangun rasa percaya diri mereka dan membantu mereka merasa lebih bisa menghadapi masalah berikutnya.
Selain itu, ketika sesuatu tidak melangkah sesuai angan dan anak merasa cemas, sedih, kecewa, alias takut, ketangguhan membantu mereka memahami bahwa emosi tersebut tidak bakal berjalan selamanya.
Mereka juga condong tidak menghindari masalah alias menghadapinya dengan langkah yang tidak sehat, seperti bersikap melindungi alias agresif.
Cara mendidik anak agar tangguh
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan agar anak tumbuh menjadi sosok yang tangguh:
1. Bangun rasa kondusif anak
Penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan pengasuhan yang hangat, responsif, dan konsisten bakal mengembangkan keahlian izin emosi serta keahlian menghadapi masalah yang lebih baik seiring waktu.
"Rasa kondusif memberikan anak landasan yang stabil untuk memandang hubungan dalam hidup mereka sebagai sesuatu yang lebih dapat diprediksi," kata psikolog Joseph Laino, PsyD, dikutip dari Parents.
Hal ini juga menumbuhkan tingkat kepercayaan yang sehat terhadap diri sendiri dan orang lain, meningkatkan rasa percaya diri, serta membantu izin emosi yang lebih baik.
Ketika anak merasa aman, mereka lebih berani mengambil akibat yang sesuai dengan usianya, seperti mencoba berasosiasi dalam tim olahraga sekolah, mengerjakan tugas yang menantang, alias menghadapi bentrok sosial.
Bunda bisa membangun bonding dengan anak dengan menatap mata mereka saat mengobrol, memvalidasi emosi mereka alih-alih meremehkannya, serta konsisten dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
2. Dorong anak agar percaya diri
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal American Psychologist tentang growth mindset menunjukkan tentang pentingnya percaya diri bagi anak.
Anak yang percaya kemampuannya dapat berkembang melalui usaha, bakal lebih bisa memperkuat setelah mengalami kegagalan. Mereka juga condong memandang tantangan sebagai kesempatan untuk belajar.
"Growth mindset mengubah langkah pandang terhadap tantangan menjadi sebuah peluang," kata Laino.
Orang tua dapat menumbuhkan pola pikir ini dengan berfokus pada usaha, strategi, dan ketekunan, bukan hanya keahlian bawaan anak.
Ketika anak percaya bahwa dirinya bisa berkembang, mereka bakal jauh lebih mungkin mencoba lagi setelah mengalami kekecewaan, yang merupakan salah satu komponen utama dari ketangguhan.
3. Beri kesempatan anak untuk gagal
Melihat anak kandas alias kesulitan memang tidak mudah ya, Bunda? Namun faktanya terlalu sigap orang tua turun tangan, ini justru dapat menghalang perkembangan ketangguhan anak.
"Membangun ketangguhan bukan berfaedah menyelamatkan anak dari situasi susah dan menyelesaikan semua masalah mereka," pesan Laino.
Jika demikian, anak susah mengembangkan kekuatan emosional yang diperlukan untuk menghadapi tantangan hidup lainnya.
Di sisi lain, ini juga bukan berfaedah membiarkan anak menghadapi semuanya sendirian. Orang tua perlu berupaya menemukan keseimbangan di antara kedua perihal tersebut.
"Intinya adalah belajar menyeimbangkan kebutuhan anak untuk berupaya mencari solusi, sembari tetap memberikan support agar mereka tidak merasa sendirian dalam proses tersebut," sambungnya.
4. Tanggapi rasa kecewa anak
Ketika anak sedang kecewa, misalnya lantaran kandas dalam ujian alias kalah dalam pertandingan, orang tua sering kali terburu-buru mencoba memperbaiki perasaannya dengan langsung mengambil kesimpulan.
Padahal mengabaikan alias meremehkan kekecewaan tanpa disadari dapat mengajarkan anak untuk juga menekan emosinya sendiri.
"Ketika anak mengalami kegagalan alias kekecewaan, jangan menyangkal pengalaman mereka alias langsung masuk ke mode pemecahan masalah," ujar Laino.
Sebaliknya, mulailah dengan empati. Katakan seperti 'Hasilnya tidak seperti yang Anda harapkan, ya? Pasti rasanya sangat mengecewakan.'
Pendekatan yang dikenal sebagai active listening ini membantu anak merasa dipahami dan didukung.
Setelah intensitas emosinya mulai menurun, Bunda dapat perlahan membujuk mereka untuk merefleksikan pengalaman tersebut dengan mengusulkan pertanyaan seperti rencana berikutnya.
Dengan memvalidasi emosi terlebih dulu dan baru kemudian mencari solusi, Bunda mengajarkan anak bahwa emosi dapat dikelola dan bukan sesuatu yang kudu ditakuti alias dihindari.
5. Menjadi contoh yang sehat
Anak bakal selalu memperhatikan gimana orang tua dan orang dewasa di sekitarnya merespons masalah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychology menunjukkan bahwa contoh yang diberikan orang tua sangat memengaruhi langkah anak mengatur emosinya sendiri.
Misalnya saat Bunda sedang stres, sampaikan bahwa Bunda sedang butuh waktu rehat sebentar. Tapi Bunda bakal bangkit kembali nanti.
Sikap ini memberikan contoh yang dapat diserap dan diterapkan oleh anak. Seiring waktu, bunyi Bunda apalagi bisa menjadi bunyi jiwa mereka.
6. Atur keseimbangan rutinitas anak
Ketangguhan tidak hanya dibangun melalui momen-momen emosional yang besar, tapi juga melalui kebiasaan sehari-hari.
"Menjaga kualitas tidur yang baik, mengonsumsi makanan bergizi secara teratur, dan rutin berolahraga dapat menjadi fondasi yang kuat untuk anak menghadapi beragam tekanan sehari-hari," sambung Laino.
Rutinitas yang dapat diprediksi juga memberikan rasa stabil bagi anak, terutama saat mereka sedang menghadapi perubahan. Di waktu senggang, Bunda bisa membujuk anak bermain permainan kooperatif seperti mainan balok, kartu, atau board game.
Permainan seperti ini dapat membantu anak berlatih bergantian dan belajar menghadapi rasa kekecewaan, tapi dalam lingkungan yang aman.
"Seperti banyak perihal lainnya dalam hidup, kuncinya adalah menemukan keseimbangan dan mempelajari cara-cara adaptif untuk menghadapi beragam tantangan yang mungkin muncul," pesan Laino.
Itulah penjelasan tentang cara-cara mendidik anak handal tanpa kudu terlalu keras. Ingatlah bahwa ketangguhan tidak terbentuk dengan menghilangkan semua pemicu stres, tapi terbentuk ketika anak merasa didukung, mampu, dan dipercaya saat belajar menghadapi beragam tantangan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·