Cara mengatasi anak tegang dengan kondusif menurut master ahli anak. Ketahui posisi tubuh, perihal yang tidak boleh dilakukan, dan kapan kudu ke IGD.
Saat anak mengalami kejang, wajar jika Mommies merasa panik. Namun, krusial untuk tetap tenang agar dapat mengambil langkah yang tepat. Kejang pada anak biasanya berjalan singkat, tetapi penanganan yang keliru bisa memperburuk keadaan.
Untuk membantu Mommies, berikut pedoman dari dr. Reza Abdussalam, Sp.A., master ahli anak dari Brawijaya Hospital Antasari, tentang langkah menghadapi anak tegang dengan aman.
1. Letakkan Anak di Tempat Datar
Langkah pertama yang kudu Mommies lakukan adalah memastikan anak berada di tempat yang datar. Ini krusial untuk meminimalkan akibat cedera akibat aktivitas kejang. Selain itu, jauhkan benda-benda rawan seperti mainan keras alias perabotan yang tajam.
BACA JUGA: 10 Kecemasan Anak Balita yang Harus Orang Tua Pahami, Biar Nggak Drama
2. Jangan Masukkan Apa Pun ke Mulut Anak

Foto: pvproductions on Freepik
Mungkin Mommies pernah mendengar saran untuk memasukkan sendok, jari, alias kopi ke mulut saat kejang. Namun, perihal ini sebaiknya dihindari lantaran sangat berisiko.
“Saat anak kejang, dia tidak sadar. Jika kita memasukkan barang apa pun, seperti sendok alias kopi, itu bisa membikin anak tersedak. Bahkan, cairan seperti kopi bisa menghalang saluran napas,” ujar dr. Reza. Jadi, biarkan mulut anak tetap kosong dan konsentrasi pada posisi tubuhnya.
3. Posisikan Anak dalam Posisi Miring
Setelah memastikan anak berada di tempat yang datar, langkah selanjutnya adalah memiringkan tubuh anak. “Memiringkan posisi anak yang tegang sangat krusial untuk menjaga saluran napas tetap terbuka. Jangan lupa untuk menekuk kaki agar posisi tubuh lebih stabil,” kata dr. Reza. Dengan posisi miring, akibat muntah alias cairan masuk ke saluran napas bisa dikurangi.
BACA JUGA: Picky Eater dan Selective Eater, Ini Bedanya yang Perlu Orang Tua Tahu
4. Perhatikan Durasi Kejang
Sebagian besar tegang pada anak berjalan singkat, hanya beberapa detik hingga menit. Namun, Mommies kudu tetap memperhatikan durasinya. “Kejang yang berjalan lebih dari 15–30 menit bisa memengaruhi kegunaan otak, sehingga kudu segera mendapatkan penanganan medis,” jelas dr. Reza. Catat waktu mulai dan berakhirnya tegang untuk memberikan info yang jeli kepada dokter.
5. Rekam dan Identifikasi Jenis Kejang

Foto: Freepik
Jika memungkinkan, rekam kejadian tegang menggunakan ponsel. Rekaman ini bisa membantu master memastikan diagnosis. “Kadang orang tua salah mengartikan tegang dengan menggigil. Dengan video, kita bisa memastikan apakah itu betul tegang alias bukan,” terang dr. Reza. Setelah itu, ukur suhu tubuh anak untuk mengetahui apakah tegang disertai demam alias tidak.
Anak yang tegang dengan demam biasanya mengalami tegang demam, yang bisa disebabkan oleh jangkitan seperti meningitis. Namun, jika tegang terjadi tanpa demam, bisa jadi itu adalah epilepsi, yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
6. Tetap Tenang, Kejang Singkat Biasanya Tidak Berbahaya
Menurut dr. Reza, sebagian besar tegang pada anak berjalan singkat dan tidak berbahaya. “Kejang selama satu hingga dua menit umumnya tidak memengaruhi perkembangan otak anak. Jadi, jangan terlalu khawatir,” jelasnya.
BACA JUGA: 5 Tanda Anak Kurang Perhatian Orang Tua, Ketahui Cara Mengatasinya
Menghadapi tegang memang memerlukan ketenangan dan pemahaman yang tepat. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Mommies dapat membantu si mini melewati situasi ini dengan aman. Jangan ragu untuk segera mencari support medis jika tegang berjalan lama alias disertai indikasi lain yang mengkhawatirkan, seperti kesulitan bernapas alias tegang berulang dalam waktu singkat.
Jika Mommies mempunyai pengalaman alias pertanyaan tentang penanganan tegang pada anak, yuk, bagikan di kolom komentar. Diskusi berbareng dapat membantu sesama orang tua menjadi lebih siap menghadapi situasi serupa.