Sebanyak 69% pekerja di Indonesia rupanya sudah menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu pekerjaan mereka dalam satu tahun terakhir. Bahkan, 16% di antaranya menggunakan AI setiap hari.
Di tengah teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, muncul pertanyaan menarik: ketika AI bisa membantu melakukan banyak hal, seberapa krusial peran manusia? Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu sorotan IdeaFest 2026.
Yuk, simak gimana IdeaFest 2026 memandang hubungan antara manusia, AI, kreativitas, dan masa depan!
Baca juga: IdeaFest 2026 Siap Digelar, Angkat Tema ‘ReHumanize’ dan Hadirkan Banyak Tokoh Inspiratif
IdeaFest 2026 Angkat Tema “Re: Humanize”
Sumber foto: IdeaFest 2026IdeaFest kembali digelar untuk ke-15 kalinya pada 4–6 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Selatan. Tahun ini, pagelaran imajinatif tersebut mengusung tema “Re: Humanize” yang membujuk masyarakat untuk kembali memandang pentingnya manusia di tengah perkembangan teknologi, khususnya AI.
Tema ini terasa relevan dengan kondisi saat ini. AI semakin sering digunakan untuk membantu beragam aktivitas, mulai dari mencari ide, membikin konten, mengolah informasi, hingga menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat.
PwC mencatat bahwa 69% pekerja di Indonesia telah menggunakan AI untuk pekerjaan mereka dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, 16% pekerja apalagi menggunakannya setiap hari.
Di sisi lain, perkembangan AI juga membuka kesempatan baru bagi industri kreatif. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat bahwa ekonomi imajinatif Indonesia telah berkontribusi lebih dari Rp1.500 triliun terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 26,5 juta tenaga kerja.
AI pun dinilai bisa membantu mempercepat penemuan di beragam bagian kreatif, seperti:
- Desain
- Animasi
- Gim
- Aplikasi
- Digital marketing
Namun, semakin canggih teknologi bukan berfaedah peran manusia menjadi hilang. Justru, IdeaFest 2026 mau membujuk publik memandang gimana teknologi dapat membantu manusia berkembang tanpa menghilangkan kreativitas, empati, dan makna.
“Selama 15 tahun, IdeaFest telah mempertemukan lebih dari 2.500 pembicara nasional dan internasional melalui lebih dari 1.000 sesi, dan menjadi bagian dari perjalanan lebih dari 200.000 pengunjung. Tahun ini, melalui “Re: Humanize”, kami mau membujuk publik memandang kembali apa yang membikin manusia tetap krusial di tengah perkembangan AI dan gimana teknologi dapat memperluas potensi manusia tanpa kehilangan kreativitas, empati, dan makna,” ujar Ben Soebiakto, Co-Chair IdeaFest.
Lebih dari 500 Pembicara Bahas Masa Depan di Era AI
Sumber foto: IdeaFest 2026Semangat “Re: Humanize” juga menjadi benang merah dalam beragam sesi yang dihadirkan di IdeaFest 2026.
Tahun ini, terdapat lebih dari 500 pembicara yang bakal datang dalam 160+ sesi IdeaTalks. Berbagai topik bakal dibahas, mulai dari perkembangan AI, kreativitas, bisnis, entertainment, budaya, teknologi, komunitas, hingga perubahan langkah manusia bekerja dan menciptakan karya.
Deretan pembicara yang datang juga datang dari beragam latar belakang dan industri. Beberapa nama yang bakal menjadi bagian dari IdeaFest 2026 antara lain:
- Tom Lembong
- Najwa Shihab
- Tony Fernandes
- Pandji Pragiwaksono
- Kamila Andini
- Dian Sastrowardoyo
- Jovial da Lopez
- Sherina Munaf
- Veronica Utami
- Agnes Rahajeng
- Herald van der Linde
- Vikram Sinha
- Kavindra Airlangga
Keragaman pembicara tersebut membikin pembahasan di IdeaFest enggak hanya memandang teknologi dari sisi teknis. AI juga bakal dibicarakan dari perspektif pandang yang lebih dekat dengan kehidupan manusia, termasuk dampaknya terhadap kreativitas, budaya, bisnis, entertainment, dan langkah kita menjalani kehidupan sehari-hari.
Menurut Firdza Radiany, Content Lead & BrainTrust IdeaFest, proses kurasi tahun ini berangkat dari pertanyaan mengenai gimana manusia dapat tetap menjadi pusat di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Karena itu, IdeaFest mempertemukan beragam perspektif dari industri dan generasi yang berbeda untuk membuka percakapan tentang masa depan.
AI Bisa Membantu, tapi Manusia Tetap Menentukan Arah
Sumber foto: IdeaFest 2026Salah satu pesan utama yang dibawa IdeaFest 2026 adalah memandang AI sebagai enabler alias perangkat yang membantu manusia, bukan sebagai pihak yang menggantikan seluruh peran manusia.
Perkembangan AI memang memungkinkan banyak perihal dilakukan dengan lebih cepat. Namun, manusia tetap mempunyai peran untuk menentukan tujuan, arah, dan akibat dari teknologi yang digunakan.
Indonesia sendiri mempunyai kesempatan besar dalam pemanfaatan teknologi. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat terdapat sekitar 185 juta pengguna internet dan 139 juta pengguna media sosial di Indonesia.
Jumlah tersebut membuka banyak kemungkinan baru, terutama dalam pemanfaatan AI untuk beragam subsektor ekonomi kreatif.
Ovidia Nomia, SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, mengatakan bahwa AI membuka langkah baru bagi masyarakat dan industri untuk bekerja lebih pandai dan menciptakan inovasi.
“AI memberi kita keahlian untuk melakukan lebih banyak perihal dengan lebih cepat. Namun, manusialah yang tetap menentukan arah, tujuan, dan dampaknya. Kami percaya, ketika keahlian teknologi berpadu dengan potensi manusia, lebih banyak kemungkinan dapat diwujudkan. Di situlah Indosat mengambil peran, membuka akses dan kesempatan agar teknologi dapat memberdayakan lebih banyak orang. Inilah semangat #LebihBaikIndosat,” ujar Ovidia.
Kreativitas Manusia Masih Punya Peran Penting
Sumber foto: IdeaFestDari sisi industri kreatif, AI memang dapat mempercepat proses kerja dan membantu eksplorasi ide. Namun, karya enggak hanya berbincang soal seberapa sigap sesuatu dibuat.
Galih Sulistyaningra, CEO and Co-Founder of Smartick Indonesia, memandang bahwa perspektif, pengalaman, emosi, intuisi, dan pemahaman manusia terhadap konteks tetap menjadi bagian krusial dalam menghasilkan karya yang mempunyai identitas dan makna.
Hal inilah yang membikin manusia tetap mempunyai peran yang enggak bisa dipisahkan dari perkembangan teknologi.
AI mungkin bisa membantu memberikan banyak pilihan. Namun, manusia yang menentukan mana yang relevan. AI bisa membantu membikin sesuatu dengan cepat, tetapi pengalaman dan perspektif pandang manusia yang bisa memberikan konteks pada sebuah karya.
Bukan Hanya Diskusi, Ada Berbagai Kolaborasi Menarik
Sumber foto: IdeaFest 2026IdeaFest 2026 enggak hanya menghadirkan diskusi. Berbagai kerjasama juga menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.
Salah satunya adalah IdeaFest Picks, hasil kerjasama IdeaFest berbareng JKTGo. Area ini menjadi market yang mempertemukan visitor dengan beragam brand lokal, UMKM, dan pelaku kreatif.
Pengunjung enggak hanya bisa memandang produk, tetapi juga mengenal cerita, nilai, dan proses di kembali karya yang dibuat para pelaku kreatif.
“Kami mau IdeaFest menjadi ruang yang enggak hanya memberikan inspirasi lewat diskusi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi visitor untuk mengalami, berinteraksi, dan menemukan sesuatu secara langsung. Karena sering kali, buahpikiran baru muncul dari pertemuan dan pengalaman yang enggak kita rencanakan,” ujar Olivia Febrina, Festival Director of IdeaFest.
Selain itu, ada juga kerjasama berbareng Collect Con yang mempertemukan kreator, kolektor, komunitas, dan pelaku industri kreatif.
IdeaFest x ESCAPE: Pengunjung Diajak Menjadi Bagian dari Pengalaman
Sumber foto: instagram.com/at.escapeMelalui IdeaFest X, ESCAPE juga menghadirkan beragam pengalaman interaktif. Pengunjung enggak hanya menjadi penonton, tetapi dapat ikut terlibat dalam instalasi dan interactive activities yang menggabungkan seni, kreativitas, teknologi, dan interaksi.
“Bagi kami, pengalaman terbaik lahir ketika seseorang enggak hanya memandang alias mendengar sebuah ide, tetapi juga merasakannya secara langsung. Itulah yang mau kami bawa ke IdeaFest tahun ini.” ujar Verren Ornela, ESCAPE Representative.
Pada akhirnya, perkembangan AI memang bakal terus membawa perubahan dalam langkah manusia bekerja, belajar, dan berkreasi. Namun, IdeaFest 2026 mau mengingatkan bahwa teknologi tetap memerlukan manusia untuk menentukan arah dan maknanya.
Melalui tema “Re: Humanize”, IdeaFest membujuk kita untuk memandang manusia sebagai creator, thinker, collaborator, dan decision-maker di tengah perkembangan teknologi. AI bisa menjadi perangkat yang membantu membuka lebih banyak kemungkinan, tetapi kreativitas, empati, pengalaman, dan keahlian manusia untuk memahami konteks tetap menjadi bagian krusial dalam menciptakan sesuatu yang bermakna.
Buat Anda yang tertarik dengan bumi kreatif, teknologi, bisnis, dan beragam perubahan yang sedang terjadi saat ini, IdeaFest 2026 bisa menjadi ruang untuk mendengar banyak perspektif sekaligus memandang gimana manusia dan AI dapat melangkah bersama.
Baca juga: 5 Alasan Fast Fashion Harus Ditinggalkan, Tren Quality over Quantity Makin Dipilih
Jadi, jika Anda mau memperluas perspektif tentang bumi imajinatif dan teknologi yang terus berubah, jangan lewatkan beragam pengalaman yang dihadirkan IdeaFest 2026.
—
Gabung organisasi Girls Beyond Circle dan dapatkan info ter-update lainnya!