7 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Menyembunyikan Perasaannya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 24505x dilihat
7 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Menyembunyikan Perasaannya

Tidak semua anak mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan, Bunda. Sebagian memilih menyimpan emosi, sehingga orang tua perlu lebih peka mengenali tanda ketika anak cenderung menyembunyikan perasaannya.

Menurut psikoterapis Victoria Grinman, PhD, LCSW-R, anak menyembunyikan perasaannya bisa terjadi karena lingkungan yang kurang mendukung komunikasi emosional. Salah satu pemicunya adalah pola pengasuhan yang sudah terbentuk sejak lama.

"Anak-anak belajar sejak awal apakah emosi mereka ditanggapi dengan rasa mau tahu alias koreksi," kata Grinman, dilansir Parents.


"Jika seorang anak merasa bahwa kerentanannya ditanggapi dengan kritik, perbaikan, hukuman, alias apalagi tekanan berlebihan dari orang tua, mereka mungkin secara tidak sadar memutuskan bahwa lebih kondusif untuk memendam emosi tersebut," sambungnya.

Kebiasaan orang tua dapat memengaruhi keputusan anak untuk menyembunyikan perasaannya. Mengenali kebiasaan ini penting agar orang tua bisa melakukan koreksi dan membangun komunikasi yang lebih aman bagi anak.

Lalu, apa saja kebiasaan orang tua yang membuat anak kerap menyembunyikan perasaannya? Simak penjelasan berikut.

Kebiasaan orang tua yang membuat anak menyembunyikan perasaannya

Dilansir dari laman Times of India, berikut kebiasaan-kebiasaan orang tua yang kerap membuat anak menjadi lebih tertutup:

1. Mengabaikan emosi terlalu cepat

Orang tua yang sering menanggapi emosi anak dengan kalimat seperti "Itu bukan apa-apa" atau "Berhenti menangis, itu bukan masalah besar" sebenarnya berisiko membuat anak merasa tidak didengar. Walau dimaksudkan untuk menenangkan, pesan seperti itu bisa membuat anak berpikir emosinya tidak penting.

Jika emosi terus-menerus diabaikan, anak mulai meragukan sinyal emosionalnya sendiri dan belajar bahwa mengungkapkan perasaan tidak memberi kenyamanan. Akibatnya, mereka cenderung menyimpan perasaan dan mengurangi komunikasi emosional.

2. Hanya memberi penghargaan pada emosi yang dianggap 'gampang'

Banyak orang tua memberi perhatian hangat saat anak bahagia atau patuh, namun bereaksi berbeda ketika anak menunjukkan kecemasan, frustrasi, atau cemburu. Jika anak sering menerima sinyal bahwa hanya emosi tertentu yang boleh ditunjukkan, mereka belajar memilah-milah perasaan mana yang layak diungkapkan.

Seiring waktu, penyaringan ini membuat anak kesulitan mengenali dan mengekspresikan berbagai emosi secara sehat, sehingga cenderung menyembunyikan perasaannya yang dianggap "tidak diterima."

3. Mengubah emosi menjadi masalah disiplin

Penting membedakan antara mengoreksi perilaku dan menghukum emosi. Ketika orang tua menganggap setiap reaksi emosional sebagai pembangkangan—misalnya menangis atau marah selalu mendapat hukuman—anak belajar untuk memutuskan hubungan dengan perasaannya sebelum sempat diungkapkan.

Akibatnya, anak mungkin berhenti menggunakan bahasa emosional sama sekali karena mengekspresikan perasaan tampak selalu berujung pada masalah disiplin.

4. Orang tua suka berpura-pura baik-baik saja saat mengalami kesulitan

Anak lebih banyak meniru apa yang mereka lihat daripada yang mereka dengar. Jika mereka menyaksikan orang dewasa menyangkal kesedihan atau menekan amarah, anak akan menyerap pola itu dan menirunya—yakni menahan perasaan daripada mengungkapkannya.

Kebiasaan orang tua yang tidak pernah menunjukkan kerentanan atau membahas stres bisa menjadi bagian dari 'cetak biru' emosional yang mendorong anak menyembunyikan perasaannya hingga dewasa.

5. Orang tua tanpa sadar menjadikan anak sebagai tameng dari masalah

Beberapa anak belajar menyembunyikan perasaan karena mereka diharapkan menjadi penopang emosional orang tua. Jika orang tua sedang kewalahan atau rapuh, anak mungkin menilai bahwa menampakkan kesedihan atau ketakutan akan menambah beban, sehingga mereka menahan diri demi orang dewasa.

Perilaku ini membuat anak sering menomorduakan kebutuhan emosionalnya sendiri, yang pada akhirnya mendorong kebiasaan menyimpan perasaan.

6. Memberikan solusi secara berlebihan sebelum mendengarkan

Banyak orang tua langsung memberi saran begitu anak mulai bercerita—misalnya "Abaikan saja" atau "Berpikirlah positif". Meski niatnya baik, tindakan itu sering menggantikan kebutuhan dasar anak: didengar terlebih dulu.

Jika setiap pengungkapan direspons dengan nasihat panjang, anak belajar bahwa berbagi perasaan hanya merepotkan orang lain, sehingga akhirnya memilih menyembunyikan perasaannya.

7. Menggunakan rasa malu untuk mengendalikan ekspresi

Cara orang tua melontarkan kata-kata dapat membuat anak merasa malu atas emosinya. Kalimat seperti "Kamu terlalu tua untuk menangis" atau "Mengapa Anda begitu lemah?" tidak hanya mengoreksi perilaku tetapi juga menstigma emosi itu sendiri.

Rasa malu mengajarkan anak bahwa tidak hanya perasaannya yang salah, tetapi mereka sebagai pribadi juga salah karena merasakannya. Pesan ini dapat terus terbawa hingga dewasa dan menghambat kemampuan mereka mengungkapkan kerentanan.

Itulah kebiasaan-kebiasaan orang tua yang kerap membuat anak menyembunyikan perasaannya. Semoga penjelasan ini membantu Bunda lebih waspada terhadap pola pengasuhan yang perlu diperbaiki.

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan