Jakarta -
Tidak semua anak bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan, Bunda. Sebagian memilih memendam emosi, sehingga orang tua perlu lebih peka mengenali tanda ketika anak memilih untuk menyembunyikan perasaannya.
Menurut psikoterapis Victoria Grinman, PhD, LCSW-R, anak menyembunyikan perasaannya mungkin lantaran merasa tidak kondusif untuk berkomunikasi secara bebas. Salah satu penyebabnya bisa lantaran pola yang sudah terbentuk sejak lama.
"Anak-anak belajar sejak awal apakah emosi mereka ditanggapi dengan rasa mau tahu alias koreksi," kata Grinman, dilansir Parents.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika seorang anak merasa bahwa kerentanannya ditanggapi dengan kritik, perbaikan, hukuman, alias apalagi tekanan berlebihan dari orang tua, mereka mungkin secara tidak sadar memutuskan bahwa lebih kondusif untuk memendam emosi tersebut," sambungnya.
Ya, kebiasaan yang orang tua memang dapat memengaruhi keputusan anak untuk menyembunyikan perasaannya, Bunda. Mengenali kebiasaan ini sangat krusial untuk koreksi diri agar pola pengasuhan berjalan baik.
Lantas, apa saja kebiasaan orang tua yang membikin anak suka menyembunyikan perasaannya? Simak penjelasannya berikut ini ya.
Kebiasaan orang tua yang bikin anak tertutup
Dilansir dari laman Times of India, berikut kebiasaan-kebiasaan orang tua yang bisa bikin anak jadi pribadi tertutup:
1. Mengabaikan emosi terlalu cepat
Orang tua yang sering mengabaikan emosi terlalu sigap bisa membikin anaknya merasa tidak aman. Pengabaian emosi ini bisa dalam corak ucapan, seperti "Itu bukan apa-apa" alias "Berhenti menangis, itu bukan masalah besar."
Orang tua sering mengatakan itu dengan niat baik, berambisi untuk menenangkan anak alias mengatasi kekecewaan kecil. Namun bagi anak, pesan tersebut dapat diterima dengan sangat berbeda. Mereka merasa emosinya diabaikan.
Ketika emosi terlalu sering diabaikan, anak-anak mulai meragukan sinyal emosional mereka sendiri. Mereka belajar bahwa mengekspresikan rasa sakit tidak bakal membawa kenyamanan. Akhirnya, mereka berakhir mengungkapkan emosi itu sama sekali.
2. Hanya memberi penghargaan pada emosi yang dianggap 'gampang'
Banyak orang tua bersikap hangat dan penuh kasih sayang ketika seorang anak ceria, patuh, alias penyayang. Namun suasana berubah ketika anak tantrum, cemburu, cemas, alias frustrasi. Tiba-tiba anak tersebut digambarkan sebagai sosok yang dramatis, kasar, alias sensitif.
Ketika anak-anak berulang kali menerima pesan bahwa hanya emosi tertentu yang dapat diterima, mereka mulai memisahkan pengalaman jiwa mana yang yang kondusif untuk diungkapkan dan mana yang kudu tetap tersembunyi. Akhirnya, anak merasa kudu menutup diri ketika mengalami emosi yang dianggap jelek oleh orang tuanya.
Perlu diketahui, anak-anak belajar untuk menyaring apa yang mereka ungkapkan berasas gimana orang dewasa merespons. Seiring waktu, penyaringan emosi ini dapat mempersulit anak-anak untuk mengenali, memahami, dan mengkomunikasikan emosi mereka dengan langkah yang sehat.
3. Mengubah emosi menjadi masalah disiplin
Bunda sering mendisiplinkan Si Kecil saat melakukan kesalahan? Sebelum melakukannya, pahami dulu perbedaan antara mengoreksi perilaku dan menghukum emosi.
Seorang anak dapat diajari bahwa memukul itu salah tanpa kudu diberi tahu bahwa kemarahan itu sendiri salah. Seorang anak menangis, dan sering kali orang tua meresponsnya dengan hukuman. Seorang anak berkata, "Aku marah" dan orang tua meresponsnya dengan berkata, "Jangan membantah."
Ketika setiap emosi yang kuat diperlakukan sebagai pembangkangan, anak-anak belajar untuk memutuskan hubungan dengan apa yang mereka rasakan apalagi sebelum mereka berbicara. Mereka mungkin berakhir menggunakan bahasa emosional sama sekali, lantaran mengungkapkan emosi tampaknya bisa berujung pada masalah.
4. Orang tua suka berpura-pura baik-baik saja saat mengalami kesulitan
Anak-anak lebih banyak mengawasi daripada mendengar. Jika mereka memandang orang dewasa menekan amarah, menyangkal kesedihan, alias berpura-pura semuanya baik-baik saja padahal tidak, mereka bakal sigap menyerap pola tersebut.
Pikiran anak-anak sering mempelajari kebiasaan emosional melalui pengamatan daripada instruksi. Bahkan pada momen-momen biasa, seperti gimana orang tua menanggapi frustrasi alias meminta maaf setelah perselisihan, anak secara diam-diam membentuk pemahamannya tentang emosi.
Pengalaman berulang tersebut dapat menjadi bagian dari 'cetak biru' emosional yang anak bawa hingga masa remaja dan dewasa. Orang tua yang tidak pernah membicarakan stres, tidak pernah mengakui kekecewaan, dan tidak pernah menunjukkan kerentanan mungkin tampak tenang, tetapi anak dapat menirunya sebagai perilaku memendam perasaan.
5. Orang tua tanpa sadar menjadikan anak sebagai tameng dari masalah
Beberapa anak belajar menyembunyikan emosi bukan lantaran emosi mereka ditolak, tetapi lantaran mereka menjadi 'pengasuh yang penuh perhatian' bagi orang tuanya. Jika orang tua kewalahan, rapuh, alias mudah tersinggung, anak mungkin dengan sigap memahami bahwa mengekspresikan kesedihan alias ketakutan bakal menambah tekanan.
Alih-alih mengungkapkan perasaan, anak tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan tenang. Mereka menelan keluhan dan berakhir bertanya. Mereka belajar membaca situasi dan mengatur kenyamanan orang lain sebelum memperhatikan kenyamanan dirinya sendiri. Ini adalah keahlian yang berat untuk dipikul seorang anak, dan sering kali dimulai dengan cinta yang bercampur dengan rasa takut.
6. Memberikan solusi secara berlebihan sebelum mendengarkan
Ketika anak-anak mulai terbuka, banyak orang tua langsung memberikan nasihat. Mereka berkata, "Abaikan saja mereka" alias "Berpikirlah positif". Niatnya sering kali berfaedah lantaran orang tua mau menyelesaikan masalah dengan cepat. Tak sedikit di antaranya menganggap itu sebagai corak kasih sayang.
Namun tanpa disadari, dengan melakukan itu, orang tua terkadang mengabaikan tindakan sederhana, ialah mendengarkan anak. Padahal, anak mau didengarkan terlebih dulu sebelum orang tua memberi solusi.
Ketika setiap pengungkapan emosi disambut dengan pidato alias nasihat, anak belajar bahwa emosi itu merepotkan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya.
7. Menggunakan rasa malu untuk mengendalikan ekspresi
Cara kita melontarkan kalimat ke anak bisa memengaruhi langkah pikirnya dalam mengungkap emosi. Komentar seperti "Kamu terlalu tua untuk menangis" alias "Mengapa Anda begitu lemah?", tidak hanya mengoreksi perilaku, tetapi juga melekatkan rasa malu pada emosi itu sendiri.
Rasa malu dapat memberi tahu seorang anak bahwa bukan hanya perasaannya yang salah, tetapi mereka juga salah lantaran merasakannya. Pesan itu dapat memperkuat selama bertahun-tahun. Banyak orang dewasa yang kesulitan mengekspresikan diri mereka sendiri berasal dari belajar bahwa kerentanan mengundang ejekan, bukan perhatian.
Itulah kebiasaan-kebiasaan orang tua yang membikin anak suka menyembunyikan perasaannya. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·