Jakarta -
Olahraga lari selalu dianggap membikin napas terengah-engah, lebih melelahkan, dan menyiksa fisik. Namun, sekarang dugaan tersebut mulai bergeser, Bunda.
Hal ini lantaran tengah viral sebuah tren olahraga baru di Korea Selatan yang dinamakan slow jogging. Apa yang dimaksud dengan tren olahraga slow jogging ini?
Seperti namanya, slow jogging merupakan belajar dengan sangat lambat, bisa mengobrol dengan santuy dan tertawa berbareng teman. Jadi secara teknis, kecepatan slow jogging hanya berkisar antara 3 hingga 5 kilometer per jam (km/jam). Hal ini berfaedah nyaris setara lebih sigap dari ritme jalan kaki santai, Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari detikcom, sebuah riset medis membuktikan jika slow jogging justru membakar daya jauh lebih besar. Ketika berlari perlahan, otot-otot besar seperti bokong, punggung bawah, dan paha depan disebut aktif bekerja secara konstan.
Aktivitas slow jogging ini disebut dapat mengeluarkan daya dan pembakaran kalori mencapai dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan jalan kaki biasa. Jika mau berupaya memangkas lemak perut, olahraga ini bisa menjadi solusi yang menyenangkan.
Sebetulnya metode olahraga slow jogging dikembangkan oleh mendiang Profesor Hiroaki Tanaka dari Departemen Ilmu Olahraga Universitas Fukuoka, Jepang, setelah melalui riset selama lebih dari 40 tahun.
Lantas seperti apa sejarah perkembangannya di Korea Selatan?
TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·