Tak Hanya Gyaru, Kenali 7 Subkultur Fashion Jepang yang Unik dan Mencuri Perhatian/ Foto: Instagram.com/twinkle.pink_, asuka__0928
Jepang memang dikenal sebagai suatu negara yang punya subkultur fashion yang khas dan beragam. Bahkan, corak busana di Jepang cukup berbeda dan tidak selalu mengikuti tren yang sedang populer.
Salah satu subkultur fashion Jepang yang cukup populer dan akhir-akhir ini ramai diperbincangkan adalah Gyaru yang identik dengan makeup tebal, rambut pirang, dan penampilan yang mewah dan nyentrik.
Namun ternyata, subkultur fashion Jepang tak selesai di situ saja. Masih banyak corak fashion Jepang yang menarik untuk dikulik karena bukan cuma soal penampilan dan gaya, tapi juga menjadi ciri khas khas, kreativitas, dan metode seseorang dalam mengekspresikan dirinya.
Lalu, apa saja subkultur fashion Jepang ini? Yuk simak penjelasannya berikut ini.
Gyaru

Gyaru terinspirasi dari adat remaja Amerika tapi dibuat dengan tampilan yang lebih mencolok seperti mengenakan bulu mata palsu, rambut pirang, dan kulit kecokelatan./ Foto: Instagram.com/ asuka__0928
Melansir dari Tsunagu Japan, Gyaru berasal dari metode orang Jepang saat mengucapkan kata dalam bahasa Inggris 'Gal'.
Gaya Gyaru sendiri terinspirasi dari adat remaja Amerika yang populer tapi dibuat dengan tampilan yang jauh lebih mencolok. Ciri khas dari Gyaru seperti riasan yang terkesan berlebihan, penggunaan bulu mata palsu, rambut pirang, kulit kecokelatan karena tanning, dan mengenakan beragam aksesori mewah seperti kuku dan dekorasi yang berkilau.
Daerah dengan pusat utama adat Gyaru eksis di Shibuya, sama seperti subkultur fashion Lolita. Gerakan subkultur ini sangat populer di akhir 1990-an sampai mula 2000-an.
Selain Gyaru, ada juga yang lebih ekstrem yaitu Ganguro Gal. Ciri khasnya yaitu kulitnya kecokelatan, makeup tebal, dan rambutnya dibuat besar.
Gyaru juga ada yang untuk varian lelaki yang sering disebut sebagai Gyaruo. Ciri khas utamanya yaitu mengenakan rambut pirang dan besar, aksesori mencolok, dan kulitnya dibuat sangat kecoklatan.
Lolita

Lolita di Jepang terinspirasi dari busana anak-anak di era Victoria dan Edwardian dengan busana bernuansa feminin dan cute./ Foto: instagram.com/ronronlolita
Gaya fashion Lolita di Jepang terinspirasi dari busana anak-anak di era Victoria dan Edwardian, tapi dengan corak yang lebih feminin dan cute yang didominasi penggunaan warna pastel dan gradasi pink.
Tidak cuma itu, Lolita juga punya beragam subgaya turunannya, seperti gothic maupun yang dikenal dengan Goth-loli.
Goth-loli memiliki gradasi yang lebih ‘gelap’ daripada Lolita, karena biasanya menggunakan busana serba hitam, makeup mata yang bold, pita, dan busana dengan motif garis-garis hitam-putih.
Visual Kei

Visual Kei adalah subkultur fashion yang awalnya dipopulerkan oleh para musisi dan himpunan musik underground Jepang pada 1980-an./ Foto: Instagram.com/ 37se_ame
Mengutip dari Team Japanese, Visual Kei adalah subkultur fashion yang awalnya dipopulerkan oleh para musisi dan himpunan musik underground Jepang pada 1980-an.
Gaya Visual Kei terpengaruh dari aliran musik yang dibawa oleh musisi tersebut mulai dari scene glam rock, metal, dan punk.
Jadi, ciri khas khas dari Visual Kei yaitu mengenakan eyeliner yang tebal, cenderung memakai busana berwarna gelap, rambutnya diluruskan maupun dibuat mengembang, serta mengenakan beragam aksesori yang mencolok seperti ikat pinggang dan gesper.
Menariknya, konsep subkultur fashion Visual Kei seolah mengaburkan batas antara fashion lelaki dan perempuan. Gaya fashion ini seolah mengajarkan bahwa semua jenis gender bisa menggunakan makeup mulai dari eyeshadow sampai lipstik.
Decora

Decora adalah subkultur fashion Jepang yang gayanya dikenal paling maksimalis, menggunakan banyak warna terang dan mencolok serta beragam aksesori./ Foto: Instagram.com/twinkle.pink_
Decora adalah subkultur fashion Jepang yang gayanya dikenal paling maksimalis. Seperti namanya, Decora berasal dari kata ‘decoration’ yang berarti dekorasi.
Itu artinya, corak fashion ini menggabungkan beragam warna terang dan mencolok dengan memakai sebanyak mungkin aksesori.
Untuk pakaian, corak fashion Decora hampir semuanya menggunakan outfit berwarna cerah, mulai dari kaus, hoodie, rok, sampai leg warmer.
Tak cuma itu, mereka juga mengenakan beragam aksesori seperti plester di hidung, stiker untuk ditempel di bagiankecil wajah, dan cincin besar yang mencolok agar tampak lucu.
Yami Kawaii

Subkultur fashion Yami Kawaii menggunakan beragam tema yang berhubungan dengan kondisi medis seperti masker wajah, jarum suntik, hingga darah palsu./ Foto: Instagram.com/yamikawaii.tokyo
Yami Kawaii cukup populer di tahun 2015, dan cukup kontroversial di zamannya. Hal ini karena kata ‘yami’ berarti sakit, kegelapan, maupun keputusasaan, digabungkan dengan kata ‘kawaii’ yang berarti imut.
Subkultur fashion Yami Kawaii ini menggunakan beragam tema yang berhubungan dengan kondisi medis seperti memakai masker wajah, jarum suntik, hingga darah palsu. Akan tetapi, orang yang bergaya Yami Kawaii akan mengemas hal-hal tersebut dengan corak yang cute.
Namun, seperti yang dilansir dari Team Japanese, orang-orang yang menerapkan subkultur fashion ini justru menggunakan busana tersebut sebagai media untuk mengekspresikan pengalaman mereka yang sulit untuk dihadapi maupun dibicarakan.
Hal ini juga membantu mereka meredakan emosi terisolasi yang bisa saja muncul saat sedang menghadapi masalah kesehatan mental.
Salon Boys

Gaya Salon Boys biasanya memadukan busana merek perancang kelas atas dengan beragam item bergaya vintage./ Foto: japanfashionweb.wordpress.com
Istilah Salon Boys mulai muncul di jalanan Harajuku yang populer sebagai daerah dengan salon rambut yang menarik di Tokyo.
Gaya Salon Boys biasanya memadukan busana merek perancang kelas atas dengan beragam item bergaya vintage. Awalnya, orang yang mempelopori corak fashion ini adalah para penata rambut dan asistennya.
Tidak cuma pakaian, Salon Boys juga ahli dalam memadukan aksesori. Menariknya, pergerakan ini terlebihlagi bisa melahirkan majalah fashion CHOKi CHOKi yang pertama kali terbit pada 2002 dan majalah tersebut rutin menampilkan penata rambut ahli sebagai model.
Mori Girl

Mori Girl identik dengan ciri khas khas penggunaan busana berlapis-lapis seolah sedang tinggal di tengah hutan./ Foto: spinns.jp
Seperti namanya, 'mori' berarti hutan, oleh karena itu corak Mori Girl biasanya identik dengan ciri khas khas penggunaan busana berlapis-lapis yang seolah mau menghadirkan kesan seseorang yang hidup dekat dengan lingkungan maupun tinggal di tengah hutan.
Pakaian yang dikenakan cenderung natural dan halus serta betah karena busana Mori Girl biasanya berlapis-lapis.
Meski subkultur fashion ini menyematkan kata ‘girl’ pada namanya, corak ini sebetulnya juga bisa digunakan oleh lelaki karena cukup netral dari segi gender.
Gaya fashion seperti ini kemungkinan statis ditemui di area yang penuh dengan toko vintage seperti Koenji, Kichijoji, dan Shimokitazawa.
Itu tadi Beauties, beberapa subkultur fashion Jepang yang khas dan menarik, tidak cuma Gyaru. Apakah Anda tertarik untuk mengikuti corak fashion tersebut?
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)