Jakarta -
Setiap orang tua pasti mau anaknya tumbuh jadi pribadi yang percaya diri dan selalu bahagia. Namun dalam keseharian, langkah bicara orang tua bisa punya akibat yang tidak disangka pada emosi anak.
Tanpa kita ketahui, ada kalimat yang sering kita ucapkan justru bisa membekas di hati anak. Apalagi di masa tumbuh kembang, anak tetap sangat peka dengan kata-kata dari orang terdekatnya.
Niatnya memang baik, seperti mau menasihati alias memberi dorongan agar anak lebih semangat. Jika penyampaiannya kurang tepat, anak malah merasa tertekan alias jadi ragu sama dirinya sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka dari itu, krusial sekali untuk lebih hati-hati dalam memilih kata saat berbincang dengan anak. Yuk, kita simak beberapa ucapan orang tua yang niatnya baik tapi bisa melukai mental anak.
Ucapan orang tua yang niatnya baik tapi bisa melukai mental anak
Menilik dari laman The Times of India, berikut ini beberapa ucapan orang tua yang niatnya baik, tetapi tanpa disadari bisa melukai mental anak. Berikut selengkapnya:
1. "Kamu pandai sekali!"
Meski memuji anak dengan kalimat seperti "kamu pandai sekali" terdengar positif, perihal ini bisa membikin anak mengaitkan nilai dirinya hanya dengan kepintaran. Lambat laun, anak menjadi takut salah alias enggan mencoba perihal baru.
Kalau anak terus-menerus disebut pintar, mereka merasa kudu selalu terlihat sempurna. Hal ini juga membikin mereka jadi takut salah dan menghindari tantangan yang sebenarnya bagus untuk perkembangan mereka.
Para mahir menyarankan agar orang tua lebih konsentrasi pada upaya anak daripada hasil akhirnya, Bunda.
2. "Mengapa Anda tidak bisa lebih seperti kakak/adikmu?"
Membandingkan anak-anak, apalagi secara lembut sekalipun, dapat merusak nilai diri mereka. Hal itu membikin anak merasa tidak bisa dan memicu persaingan antar kerabat kandungnya.
Saat anak terus dibandingkan, mereka bisa merasa tidak cukup baik dan kehilangan rasa percaya diri. Bunda perlu tahu, setiap anak sebenarnya punya kelebihan dan karakter yang berbeda-beda.
Oleh lantaran itu, lebih baik konsentrasi pada perkembangan masing-masing anak agar mereka merasa dihargai apa adanya. Misalnya dengan mengatakan, "Bunda bangga dengan langkah Anda mengatasi situasi itu" alias "Kamu betul-betul telah meningkat dalam perihal ini".
3. "Ini bukan masalah besar, berhentilah menangis"
Ketika anak menangis lantaran perihal yang terlihat kecil, orang tua biasanya langsung mau menenangkan dengan langkah cepat. Padahal bagi anak, emosi itu tetap terasa besar, Bunda.
Jika emosi mereka diabaikan, anak pun belajar menahan emosi tanpa mengetahui gimana langkah mengaturnya. Lama-kelamaan, mereka jadi susah mengenali apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Lebih baik, Bunda memberi ruang agar anak merasa didengar dan dipahami terlebih dulu. Kabar baiknya, anak belajar bahwa semua emosi itu wajar dan boleh disampaikan.
4. "Kamu bisa melakukan lebih baik lain kali"
Meskipun ungkapan ini terdengar seperti menyemangati, kadang anak justru menangkapnya sebagai tanda bahwa usahanya belum cukup. Mereka merasa apa yang sudah dilakukan belum dihargai sepenuhnya.
Padahal, anak yang sudah berupaya tetap butuh pengakuan atas proses yang dijalani, bukan hanya hasil akhirnya. Jika terlalu sering diarahkan untuk "lebih baik lagi", anak bisa merasa selalu kurang.
Sebagai gantinya, orang tua dapat mengatakan, "Bunda bisa memandang seberapa besar upaya yang telah Anda lakukan" alias "Apa yang Anda pelajari dari ini?".
5. "Biar Bunda yang melakukannya untukmu"
Selanjutnya, orang tua cukup sering mengatakan ini atas dasar cinta, mau menyelamatkan anak mereka dari frustrasi. Namun, kombinasi tangan terus-menerus justru menghilangkan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar kemandirian.
Dalam perihal ini, Bunda bisa membimbing mereka dengan mengatakan, "Bunda bakal membantumu mencari solusinya" alias "Kamu bisa mencobanya, dan Bunda bakal ada di sini jika Anda membutuhkan".
6. "Karena Bunda yang bilang begitu"
Meskipun sering dipakai saat mau menegaskan aturan, kalimat ini justru membikin anak berakhir bertanya dan tidak mengerti argumen di kembali keputusan tersebut.
Jika dibiarkan terus, anak jadi terbiasa menerima patokan tanpa tahu makna alias tujuannya. Hal ini juga bisa membikin mereka kurang terbiasa untuk berpikir kritis, Bunda.
Akan lebih baik jika orang tua memberi penjelasan tentang argumen di kembali aturan. Misalnya, "Kita lakukan ini agar lebih aman" alias "Ini agar semua di rumah tetap nyaman".
7. "Jangan takut alias tidak ada yang perlu ditakutkan"
Orang tua biasa mengatakan kalimat ini untuk menenangkan anak yang sedang merasa takut. Meskipun niatnya baik, anak bisa saja merasa bahwa rasa takut yang dia alami itu tidak wajar.
Hal seperti ini tentu membikin anak merasa malu dengan perasaannya sendiri. Anak jadi berpikir bahwa dia tidak semestinya takut, padahal setiap orang bisa merasakan perihal tersebut.
Sebaiknya, orang tua perlu mengakui emosi anak terlebih dahulu. Misalnya dengan mengatakan, "Bunda mengerti Anda merasa takut, tapi Bunda ada di sini menemanimu".
Itulah penjelasan mengenai ucapan orang tua yang niatnya baik, tetapi tanpa disadari bisa berakibat pada kondisi emosional dan mental anak. Semoga bisa membantu, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·