8 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Bilang "Aku Baik-baik Saja" Padahal Tidak Menurut Psikolog

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 513x dilihat
8 Ciri Kepribadian Orang yang Sering Bilang "Aku Baik-baik Saja" Padahal Tidak Menurut Psikolog

Ketika ditanya berita oleh orang lain, kata “Aku baik-baik saja” menjadi kata yang paling sering diucapkan terlepas keadaan yang sebenarnya. Respon ini bisa saja sesuai keadaan, refleks diucapkan ketika ada yang bertanya, alias untuk menutupi kondisi yang sebenarnya.

Menurut psikolog, rupanya ada karakter kepribadian orang yang sering bilang baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang tidak dalam kondisi baik.

Ciri kepribadian orang yang sering bilang "Aku Baik-baik Saja"

Penasaran apa saja karakter kepribadian tersebut? Yuk, Bunda, simak informasinya selengkapnya.


1. Penghindaran konflik

Dalam sebuah perdebatan alias situasi yang memanas, kalimat “Aku baik-baik saja” bisa jadi karakter kepribadian orang yang sebenarnya sedang mengelak dari konflik.

Psikolog klinis sekaligus CEO Equilibria Leadership Consulting Dr. Nicole Lipkin, psyD, MBA, menyampaikan bahwa ucapan baik-baik saja bisa jadi tameng dibandingkan jujur soal kekesalan yang berujung pertengkaran.

“Mengakui bahwa mereka jengkel terasa seperti membuka pintu menuju pertengkaran, jadi 'Saya baik-baik saja' menjadi tamengnya,” ungkapnya.

2. Orang yang selalu berupaya menyenangkan orang lain

Ciri kepribadian selanjutnya adalah orang yang selalu berupaya menyenangkan orang lain. Terkadang orang yang berbicara baik-baik saja adalah langkah untuk menyenangkan alias menenangkan musuh bicaranya.

Ia sengaja menyembunyikan emosi sesungguhnya agar orang lain tidak cemas bakal kondisinya.

 “Jika mereka mengakui kesulitan yang mereka alami, mereka takut perihal itu bakal membebani orang lain.” ujar Dr. Lipkin.

3. Pengalihan emosi

Emosi yang berangkaian dengan kemarahan alias kekesalan seringkali dianggap negatif alias mengganggu ketenangan. Dengan berbicara baik-baik saja, ini dapat memendam emosi sebenarnya, seolah-olah kondisi sedang baik.

Padahal, yang terjadi adalah kita lebih memilih memendam dibanding merasakan alias membagikannya kepada orang lain.

“Seiring waktu, mereka belajar bahwa lebih kondusif untuk mengesampingkan emosi daripada mengambil akibat menunjukkan kerentanan,” kata Dr. Lipkin. 

4. Perfeksionis

Perfeksionis merupakan salah satu karakter kepribadian orang yang biasa berbicara baik-baik saja, tetapi sebenarnya tidak. Mengutip laman Parade, sebagian orang mungkin tidak nyaman dengan kesalahan, kegagalan, alias persepsi negatif.

Sehingga, respon baik-baik saja keluar agar orang lain beranggapan kita memang sedang dalam kondisi baik. Berkaitan dengan perihal ini, Dr. Lipkin juga berbicara bahwa:

“Ketika identitas Anda mengenai erat dengan penampilan yang sempurna, mengatakan 'Saya tidak baik-baik saja' terasa seperti kegagalan.”

“Jadi Anda terus tersenyum dan bersikeras bahwa semuanya baik-baik saja,” sambungnya.

5. Kewalahan secara emosi

Adanya emosi yang telah lama dipendam dapat menumpuk dan membikin seseorang menjadi kewalahan menghadapi emosinya. Ketika perihal ini terjadi, kalimat "Saya baik-baik saja" menjadi lebih mudah dikatakan sebagai respon cepat. Namun, sebenarnya ini hanya baik untuk pengaruh jangka pendek, Bun.

Psikolog dan Kepala Perawatan Klinis di Octave, Goole Abrishami, PhD berpendapat, mereka mungkin kewalahan secara emosional dan emosi itu terlalu besar untuk diproses saat itu juga.

"Jadi mereka meremehkannya dengan sebuah kalimat sederhana,” katanya.

6. Menghargai kemandirian

Seseorang yang terbiasa sendiri alias berdikari seringkali tidak nyaman berbagi emosi dengan orang lain. Mereka tidak nyaman untuk meminta support alias support dari orang-orang di sekitarnya.

“Mereka mungkin hanya merasa bangga lantaran bisa menangani semuanya sendiri,” ucap Dr. Abrishami.

“Mengatakan 'Saya baik-baik saja' bisa jadi merupakan jenis dari 'Saya bisa mengatasi ini sendiri.'” sambungnya.

7. Penyendiri

Hampir sama dengan karakter kepribadian sebelumnya, orang yang lebih senang menyendiri umumnya tidak mau menimbulkan masalah, terlihat lemah, alias menarik perhatian. Sayangnya, perihal itu dapat menyebabkan kesepian.

“Ada orang-orang yang telah belajar untuk hanya mengandalkan diri sendiri,” kata Dr. Lipkin. 

Dengan mengatakan baik-baik saja, seseorang sedang mempertahankan gambaran kekuatan dan kendali, meskipun di dalam hati mereka hancur berantakan.

8. Kewaspadaan

Kewaspadaan juga jadi karakter kepribadian orang yang sering bilang baik-baik saja. Ucapan ini dilontarkan demi menghindari kerentanan. Individu-individu ini umumnya condong membangun tembok pertahanan.

“Mengatakan 'Aku baik-baik saja' mencegah mereka melakukan percakapan yang lebih mendalam yang mungkin belum siap mereka lakukan,” kata Dr. Abrishami. 

Selain itu, sikap waspada dan takut bakal kerentanan itu bisa berasal dari rasa takut dihakimi. Ini juga bisa terjadi lantaran mereka telah belajar untuk mengatasinya secara pribadi.

Itulah karakter kepribadian orang yang sering bilang baik-baik saja, tetapi sebenarnya tidak. Ucapan baik-baik saja memang dapat digunakan dalam situasi yang tepat.

Namun, andaikan emosi tersebut terlalu berat untuk ditanggung sendiri, bakal lebih baik jika membaginya dengan orang-orang yang dipercaya. Dengan demikian, beban emosi yang dirasakan, bisa lebih terurai.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan