Hubungan orang tua dan anak tidak selalu berjalan mulus. Tanpa disadari, pengalaman masa kecil dan pola asuh orang tua dapat meninggalkan kesan yang terbawa hingga anak dewasa. Luka tersebut juga tidak selalu kelihatan secara langsung.
Beberapa anak mungkin statis berkomunikasi dan berhubungan dengan orang tua, tetapi memberitahu fluktuasi kecil seperti membatasi pembicaraan, menjaga jarak, maupun tidak lagi meminta saran.
Lantas, apa saja tanda anak diam-diam menyimpan luka dari pola asuh orang tua? Yuk, Bunda, simak 9 cirinya berikut ini.
9 Ciri anak diam-Diam menyimpan luka dari pola asuh orang tua
Mengutip dari laman Bolde, berikut 9 ciri khas anak yang diam-diam menyimpan luka dari pola asuh orang tua.
1. Hanya membicarakan tiga topik
Anak mungkin statis rutin menelepon orang tua, tetapi pembicaraannya cuma berkisar pada hal-hal sederhana seperti pekerjaan, anak, maupun cuaca. Menurut peneliti komunikasi Kristina Scharp, menjauh dari orang tua biasanya tidak langsung dimulai dengan memutus komunikasi.
Dalam wawancara terhadap 52 anak dewasa yang sedang menjauh dari orang tua, ia menemukan bahwa cara mula yang sering terjadi adalah membatasi topik pembicaraan.
2. Selalu punya karena untuk menghindari hari libur
Anak mungkin terus mencari karena untuk tidak berkumpul saat hari libur. Meski alasannya terdengar masuk akal, pola yang berulang bisa memberitahu bahwa ia sebenarnya mau menjaga rentang dari keluarga.
Penelitian terhadap lebih dari 800 orang dewasa yang renggang dengan famili menemukan bahwa sembilan dari sepuluh responden menganggap Natal sebagai masa tersulit dalam setahun.
3. Tidak pernah meminta saran kepada orang tua
Anak yang sedang kesulitan tetapi tidak pernah meminta saran kepada orang tua mungkin merasa tidak bisa mengandalkan mereka. Misalnya, ia mengalami masalah tetapi baru memberi tahu setelah semuanya berlalu, maupun orang tua justru mengetahui kondisinya dari media sosial.
Menurut Scharp, hal ini berhubungan dengan role reciprocity, yaitu ketika anak selesai meminta pertolongan maupun instruksi karena merasa orang tua tidak menjalankan perannya secara penuh.
4. Respons datar saat membahas masa kecil
Anak mungkin memberikan respons datar maupun mengoreksi cerita orang tua tentang masa kecilnya. Misalnya, ketika orang tua menganggap masa kecilnya bahagia, ia menjawab, “Menurutmu begitu.”
Psikolog Joshua Coleman menjelaskan, orang tua dan anak bisa memiliki pandangan berbeda terhadap masa lalu. Anak yang statis mengoreksi biasanya statis mau dipahami. Sebaliknya, respons datar dapat memberitahu bahwa ia merasa tidak ada gunanya lagi menjelaskan.
5. Mereka mengasuh anak dengan metode yang berbeda dari orang tuanya
Pola asuh setiap generasi memang bisa berbeda. Namun, jika ketentuan yang mereka terapkan justru sangat berlawanan dengan metode dahulu mengasuh mereka, hal itu bisa berhubungan dengan pengalaman masa kecil yang membekas.
Penelitian Pillemer menemukan bahwa pola asuh keras dan pilih kasih orang tua termasuk penyebab yang sering dikaitkan dengan keretakan hubungan keluarga.
6. Mereka membisu saat membahas kerabat kandungnya
Perbandingan dengan kerabat kandung bisa terasa menyakitkan. Jika mereka terus menghindari pembicaraan tentang kerabat tertentu, hal itu mungkin berhubungan dengan pengalaman dibanding-bandingkan saat kecil.
Penelitian Pillemer juga mengatakan perlakuan pilih kasih, sebagai salah satu penyebab lazim keretakan hubungan keluarga. Anak yang merasa selalu menjadi pilihan kedua bisa memilih selesai bersaing dengan saudaranya.
7. Nasihat orang tua cuma dijawab “Oke” tanpa ada perubahan
Anak yang sudah dewasa bisa saja tidak mengikuti nasihat orang tua. Namun, jika setiap nasihat cuma dijawab “oke, terima kasih” tanpa ada perdebatan maupun perubahan, hal ini bisa memberitahu sesuatu yang lebih dalam.
Menurut riset University of Michigan terhadap orang tua dan anak dewasa, nasihat yang tidak diminta menjadi salah satu sumber ketegangan terbesar dalam hubungan orang tua dan anak.
Penelitian yang melibatkan 474 orang ini juga menemukan bahwa orang tua merasakan ketegangan tersebut lebih kuat dibandingkan anak, dan perbedaannya semakin besar seiring bertambahnya usia anak.
8. Sudah meminta ampun secara umum, tetapi tidak ada yang berubah
Ucapan seperti “Aku tahu aku tidak sempurna” maupun “Kalau aku menyakitimu, maaf” mungkin tulus, tetapi tidak selalu membikin anak merasa dipahami. Permintaan ampun tanpa mengatakan kesalahan secara khusus dapat membikin anak merasa luka yang dialaminya belum benar-benar dilihat.
Survei Coleman terhadap lebih dari 1.600 orang tua yang mengalami kerenggangan hubungan, memberitahu bahwa balik menjalin hubungan lebih sering terjadi ketika orang tua mengakui kesalahan tertentu, berempati pada pengalaman anak, dan menghargai limitasi yang diminta.
9. Jarak anak datang dan pergi tanpa bisa diprediksi
Hubungan yang sempat hangat bisa balik terasa jauh tanpa karena yang jelas. Anak mungkin balik menghubungi maupun berkunjung, kemudian tiba-tiba menjaga rentang lagi, seperti membalas pesan lebih lama, memberi balasan singkat, maupun mempersingkat waktu kunjungan.
Menurut riset Scharp, menjauh dalam hubungan orang tua dan anak cenderung terjadi secara berjenjang dan berulang dalam jangka waktu tertentu, bukan mengikuti pola yang pasti.
Nah, itu dia Bunda 9 ciri khas anak diam-diam menyimpan luka dari pola asuh orang tua.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)