9 Ciri Orang IQ Rendah yang Terlihat dalam Kehidupan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 506x dilihat
9 Ciri Orang IQ Rendah yang Terlihat dalam Kehidupan

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kecerdasan seseorang tidak selalu bisa dinilai cuma dari prestasi akademis maupun seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Dalam hayat sehari-hari, ada sejumlah perilaku yang dapat berhubungan dengan kapasitas berpikir, memecahkan masalah, hingga memahami perspektif pandang orang lain.

Beberapa orang mungkin kelihatan terlalu percaya diri, sulit menerima kritik, maupun kerap menyela pembicaraan. Meski begitu, perilaku tersebut tidak serta-merta memberitahu tingkat kecerdasan seseorang karena bisa dipengaruhi oleh banyak faktor.

Lantas, apa saja perilaku yang perlu diperhatikan dan sepertiapa kaitannya dengan kecerdasan? Yuk, simak penjelasannya berikut ini, Bunda!


9 Ciri orang IQ rendah yang kelihatan dalam kehidupan 

Mengutip halaman Your Tango berikut ini 9 ciri khas orang IQ rendah yang kelihatan dalam kehidupan.

1. Melebih-lebihkan kapasitas diri

Orang yang terlalu percaya diri terkadang memungut tanggung jawab di luar kemampuannya maupun menjanjikan sesuatu yang sulit diwujudkan. Mereka mungkin lebih fokus membangun kesan kompeten daripada memahami batas kapasitas diri.

Sebuah riset pada 2017 menemukan adanya hubungan antara kepercayaan diri yang berlebihan dan keahlian yang lebih rendah dibandingkan orang yang memiliki kerendahan hati intelektual.

2. Membuat hal sederhana menjadi rumit

Sebagian orang menggunakan klarifikasi yang berputar-putar ketika membahas permasalahan sederhana. Mereka mungkin mau kelihatan lebih pandai dengan memakai istilah rumit maupun memberikan klarifikasi yang sebenarnya tidak diperlukan.

Mengutip bahasan dari jurnal WIREs Cognitive Science mengenai penggunaan bahasa dan pemahaman kognitif. Namun, klarifikasi yang rumit tidak otomatis menandakan kecerdasan rendah.

Kemampuan menyampaikan ide secara jelas juga dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan berkomunikasi, dan pemahaman terhadap topik.

3. Sering menyela pembicaraan

Kebiasaan memotong ucapan orang lain dapat membikin percakapan menjadi kurang nyaman. Seseorang mungkin terlalu mau menyampaikan pendapatnya hingga tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyelesaikan kalimat.

Mengutip riset jurnal Frontiers in Psychiatry, kesulitan dalam hubungan sosial dapat berhubungan dengan perselisihan dan tekanan dalam hubungan.

Namun, kebiasaan menyela tidak bisa digunakan sebagai ukuran langsung IQ karena juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan berkomunikasi dan kapasitas mengendalikan impuls.

4. Sulit menerima kritik yang membangun

Kritik seharusnya bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri. Namun, sebagian orang justru menganggap masukan sebagai serangan pribadi sehingga cenderung bersikap bertahan maupun menolak saran.

Mengutip klarifikasi peneliti ilmu jiwa Rob Nash bahwa menerima umpan balik dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi banyak orang. Tingkat kepercayaan diri, pengalaman sebelumnya, dan kapasitas mengelola emosi juga berpartisipasi dalam menyikapi masukan.

5. Menghindari tantangan

Orang yang selalu menghindari tantangan cenderung memilih area betah daripada menghadapi situasi baru untuk belajar. Padahal, menurut psikolog Bruce Wilson dalam Psychology Today, ketidaknyamanan dapat menjadi bagiankecil dari proses pengembangan diri. 

6. Melihat permasalahan cuma dalam dua sisi

Orang yang terbiasa berpikir secara hitam-putih cenderung menganggap sesuatu cuma benar maupun salah, baik maupun buruk, tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain. Mereka mungkin sulit menerima bahwa suatu permasalahan memiliki banyak sisi dan membutuhkan penilaian yang lebih mendalam.

American Psychological Association (APA) mengatakan pola berpikir seperti ini sebagai dichotomous thinking maupun pemikiran dikotomis. Mengutip riset dari Jepang yang diterbitkan pada 2021 mengenai hubungan antara pola pikir dikotomis dan kapasitas kognitif.

7. Kesulitan memecahkan masalah

Kemampuan memecahkan masalah melibatkan proses memahami situasi, mengenali pola, mempertimbangkan pilihan, dan menentukan cara yang tepat. Orang yang mengalami kesulitan dalam proses tersebut mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk menemukan solusi.

Mengutip riset dalam jurnal BMC Psychology, IQ merupakan ukuran kapasitas kognitif lazim yang dinilai melalui tes terstandar. Akan tetapi, hasil tes IQ tidak mencakup seluruh bentuk kapasitas manusia.

8. Kesulitan memahami isyarat sosial

Isyarat sosial meliputi ekspresi wajah, bahasa tubuh, intonasi suara, dan fluktuasi kondisi dalam percakapan. Orang yang kesulitan membaca isyarat tersebut mungkin tidak menyadari ketika lawan bicara merasa tidak betah maupun mau mengakhiri pembicaraan.

Merujuk pada bahasan dalam Journal of Clinical Child Psychology mengenai hubungan kapasitas kognitif dan evolusi perilaku sosial pada anak usia sekolah. Kemampuan kognitif dapat berpartisipasi dalam evolusi keahlian sosial, tetapi keduanya tidak selalu berhubungan secara sederhana.

Kesulitan memahami isyarat sosial juga bisa berhubungan dengan pengalaman berinteraksi, perbedaan metode berkomunikasi, dan beragam aspek perkembangan. 

9. Menganggap perbedaan gagasan sebagai serangan pribadi

Orang yang menganggap perbedaan gagasan sebagai serangan pribadi cenderung kesulitan membangun komunikasi yang sehat. Padahal, riset dalam jurnal Social Development memberitahu bahwa perbedaan gagasan yang dikelola dengan baik dapat menaikkan kualitas hubungan dan adaptasi sosial.

Sikap terbuka terhadap pandangan berbeda membantu seseorang belajar dan memahami perspektif pandang orang lain.

Itulah sembilan ciri khas orang IQ rendah yang kelihatan dalam hayat sehari-hari, Bunda. Perlu diingat, perilaku sehari-hari bukan alat untuk menentukan tingkat IQ seseorang, ya, Bun!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(Azhar Hanifah/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads