Adab Cara Titip Doa Ke Orang Yang Naik Haji Dan Hukumnya Dalam Islam

May 05, 2026 07:40 AM - 1 minggu yang lalu 9320

Jakarta -

Kebiasaan titip angan kepada kerabat yang berangkat haji sudah lama dikenal di kalangan umat muslim di Indonesia. Tradisi ini kerap dilakukan dengan harapan-harapan tersebut dapat dipanjatkan di tempat yang dianggap mustajab.

Tak mengherankan lagi, momen keberangkatan ke Tanah Suci sering dimanfaatkan untuk menyampaikan beragam permohonan, Bunda.

Meski terdengar sederhana, kebiasaan itu rupanya mempunyai landasan yang perlu dipahami lebih dalam. Mulai dari pandangan norma dalam Islam, jejak sejarah, hingga etika yang perlu Bunda ketahui.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hukum titip angan kepada orang yang naik haji dalam Islam

Dilansir dari laman detikcom, Buya Yahya mengungkap bahwa secara hukum, asal meminta alias menitipkan angan kepada orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah diperbolehkan.

Meski begitu, Buya Yahya mengingatkan bahwa jika satu orang menitipkan daftar angan yang panjang, bayangkan jika ada seribu orang yang melakukan perihal sama. Hal ini tentu dapat membebani konsentrasi dan waktu ibadah jemaah tersebut.

Tradisi titip angan sudah ada sejak era nabi

Dalam kitab 200 Motivasi Nabi & Kisah Inspiratif Pembangunan Jiwa karya As-Samarqandi, tradisi titip angan rupanya sudah ada sejak era Nabi, di mana pada saat Umar bin Khattab berpamitan kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan umrah.

Saat itu, Rasulullah meminta agar didoakan dan dilibatkan dalam setiap angan yang dipanjatkan oleh Umar.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَن عَمَرَ أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ النبي صلى الله عليه وسلم في العُمْرَةِ فَقَالَ يَا أَخِي أَشْرِكْنَا فِي دُعَائِكَ وَلَا تَنْسَنَا

Artinya:

“Dari Ibnu Umar dari Umar, sesungguhnya Umar minta izin kepada Nabi melakukan umrah, maka Nabi bersabda, 'Wahai saudaraku sertakan kami dalam doamu dan jangan lupa mendoakan kami'.” (HR Tirmidzi)

Sementara itu, tradisi titip angan kepada orang yang pergi haji sudah ada sejak masa Rasulullah SAW di tempat yang berjulukan Tsaniyatul Wada’, tempat yang juga menjadi letak para sahabat menunggu Rasulullah sepulang dari perperangan.

Dalam kitab Syarh Shahih Al-Bukhari karya Imam Ibnu Bathal, dijelaskan secara khusus, bahwa Tsaniyatul Wada’ menjadi tempat para sahabat mengantarkan jemaah haji.

انما سميت بذلك لأنهم كانوا يشيعون الحاج والغزاة اليها ويودعونهم عندها

Artinya:

“Dinamakan Tsaniyatul Wada' lantaran para sahabat mengantarkan orang yang berhaji dan bertempur dan menitipkan kepada mereka (doa).”

Adab langkah titip angan ke orang tua yang naik haji

Buya Yahya pernah menjelaskan bahwa meskipun menitipkan angan kepada orang tua yang bakal berangkat haji diperbolehkan, tetap ada etika yang perlu diperhatikan. Salah satunya tidak memberatkan orang tua.

“Minta angan boleh, tapi jangan repotkan, doanya satu gembok begitu, tidak kebaca kelak bingung. Serahkan suruh doain gitu saja. Kalau suruh baca (kertas), tidak kudu seperti itu, ngerepoti itu,” ungkapnya.

Selain itu, dia juga mengingatkan untuk tidak meminta oleh-oleh alias menitipkan peralatan kepada jemaah haji.

Hal ini dinilai dapat merepotkan, terutama lantaran ada keterbatasan bagasi. Permintaan yang terlihat sepele ini juga bisa menjadi beban jika dilakukan oleh banyak orang.

Alih-alih membebani para jemaah, Buya Yahya justru menyarankan untuk memberikan support kepada mereka dengan membantu alias memberikan bekal.

Nah, itulah etika langkah titip angan kepada orang tua yang naik haji. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Selengkapnya