Akhirnya Saya Menyerah! Microsoft Edge Resmi Saya Hapus Dari Elementary Os

Jul 20, 2026 11:43 AM - 1 hari yang lalu 1668

Beberapa hari lampau saya sempat membahas mengenai bug yang saya temukan ketika menggunakan Microsoft Edge di elementary OS,

Baca Juga : Microsoft Edge dan Dock elementary OS Tidak Sinkron? Ini yang Saya Temukan

Nah saya mengira masalah tersebut hanya bug mini yang bisa saya abaikan, apalagi saya sempat mencoba beragam langkah untuk memperbaikinya, mulai dari mengecek WM_CLASS, memperbaiki launcher .desktop, menambahkan StartupWMClass, hingga membikin script otomatis agar Dock Pantheon bisa mengenali Edge dengan benar.

Sayangnya, masalahnya rupanya tidak berakhir sampai di situ, tetap ada glitch pada window control, ada bug pada Vertical Tabs yang berbenturan dengan parameter workspace, dan beberapa perihal mini lain yang mungkin terdengar sepele, tetapi cukup mengganggu jika digunakan setiap hari.

Karena itulah, akhirnya saya memutuskan sesuatu yang cukup sederhana, saya kembali ke Firefox.

Bukan Karena Firefox Lebih Cepat

Nah keputusan ini sebenarnya bukan lantaran Firefox lebih cepat, bukan juga lantaran Edge jelek, namun justru sebaliknya, jika kita bicara fitur, Microsoft Edge menurut saya tetap menjadi salah satu browser Chromium terbaik saat ini, sinkronisasi akun Microsoft melangkah sangat baik, Workspace sangat berfaedah dan Vertical Tabs juga tetap menjadi fitur favorit saya.

Tetapi semua kelebihan itu menjadi kurang berfaedah ketika browser tersebut tidak bisa bergabung dengan desktop environment yang saya gunakan dan di Linux, integrasi seperti ini justru sangat penting.

Dan disinilah argumen kenapa saya memilih Firefox, lantaran di elementary OS nyaris semuanya langsung bekerja sebagaimana mestinya, ikon di Dock tampil normal, window control terlihat rapi, tidak ada launcher ganda, tidak ada glitch pada workspace, dan saya juga tidak perlu lagi memperbaiki launcher alias konfigurasi secara manual.

Jujur saja, pengalaman seperti inilah yang akhirnya membikin saya lebih nyaman menggunakan Firefox, lantaran semuanya langsung melangkah sebagaimana yang diharapkan tanpa kudu terus-menerus berurusan dengan bug mini setiap hari.

Selain itu, polling kemarin membantu saya mengambil keputusan lantaran saya mendpatkan cukup banyak masukan, ada yang menyarankan Firefox, banyak juga yang merekomendasikan Brave, apalagi tidak sedikit pula yang membujuk mencoba Zen Browser, Floorp, apalagi browser-browser yang sebelumnya belum pernah saya lirik.

Dan setelah membaca beragam komentar dan mencoba beberapa browser tersebut selama beberapa hari, akhirnya saya memutuskan untuk kembali menggunakan Firefox sebagai browser utama.

Akhirnya Saya Hapus Total Microsoft Edge di Linux

Karena sudah memutuskan untuk beranjak ke Firefox, akhirnya saya memilih untuk menghapus Microsoft Edge sepenuhnya dari sistem. Dan bukan hanya menghapus aplikasinya, tetapi juga membersihkan seluruh konfigurasi, launcher, cache, repository, hingga key Microsoft yang sebelumnya terpasang di sistem.

Tapi apakah saya bakal kembali menggunakan Edge di Linux ini?, jawabannya kemungkinan iya, kenapa? saya tetap suka Microsoft Edge, lantaran memang integrasinya yang sangat baik, dan fitur Memory Saver nya yang cukup saya suka dan jika suatu saat Microsoft memperbaiki beragam bug tersebut, bukan tidak mungkin saya bakal kembali menggunakannya dan apalagi di Windows 11 saya tetap menggunakan Edge sebagai browser utama.

Di Windows browser utama Edge > Firefox dan Zen sebagai browser kedua, sementara di elementary OS ini, Firefox jadi yang utama dan Zen sebagai browser kedua.

Kenapa saya tidak melirik Chrome?, entah kenapa ya, jika dibandingkan dengan browser lain, Chrome tetap royal memory, jadi saya sudah tidak pakai browser tersebut lagi. Dan dari hasil polling kemarin, ada satu browser yang menarik untuk saya coba, Brave Origin, mungkin kelak saya coba.

Pada akhirnya, saya mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk teman-teman pembaca WinPoin yang sudah meluangkan waktu mengisi polling, memberikan komentar, berbagi pengalaman, hingga merekomendasikan beragam browser Linux.

Jujur saja, tulisan polling tersebut awalnya saya buat lantaran memang sedang bingung menentukan browser utama, dan tidak menyangka respons yang diberikan begitu banyak serta sangat membantu saya mengambil keputusan, dan mungkin beberapa waktu ke depan saya juga bakal mencoba browser-browser lain yang direkomendasikan, termasuk Brave, Floorp, maupun browser menarik lainnya.

Jadi jika kelak ada review alias pengalaman baru, tentu bakal saya bagikan lagi di WinPoin


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.

Written by

Gylang Satria

Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux, dan Samsung S24. Punya pertanyaan alias butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]

Post navigation

Previous Post

Selengkapnya