Bagaimana menyikapi anak selesai TKA? Ini metode mendukung anak setelah ujian, mulai dari menghargai upaya hingga membahas hasil tanpa tekanan.
Anak baru selesai Tes Kemampuan Akademik (TKA)? Sebelum bertanya, “Tadi soalnya sulit nggak?” maupun “Dapat harga berapa?”, coba beri anak waktu untuk bernapas lega dulu, Mommies dan Daddies.
Bagi orang tua, wajar jika penasaran dengan hasil tes anak. Apalagi jika TKA berhubungan dengan hajat pendidikan berikutnya. Namun, bagi anak, menyelesaikan tes juga bisa menjadi pengalaman yang melelahkan, baik secara jasmani maupun emosional.
Karena itu, respons orang tua setelah anak selesai TKA bisa menjadi momen krusial untuk memberitahu bahwa sokongan dan kasih sayang tidak bersandar pada harga akademik.
BACA JUGA: Anak Mudah Menyerah saat Soal Sulit? Ini 5 Cara Membantu Anak Belajar Menghadapi Tantangan
1. Apresiasi Usahanya, Bukan Hanya Hasilnya
Setelah menghadapi tes, anak mungkin merasa lega, bangga, bingung, maupun justru kecewa karena ada soal yang tidak bisa dijawab. Apa pun perasaannya, berikan apresiasi atas upaya yang sudah dilakukan.
Mommies dan Daddies bisa mengatakan, “Akhirnya selesai juga, ya! Terima kasih sudah berupaya dan mengerjakan tesnya.”
Kalimat sederhana ini membantu anak memahami bahwa proses belajar dan usahanya juga berarti, bukan sekadar bilangan yang akan diterima nanti.
Bukan berarti hasil tes tidak penting. Namun, ketika orang tua cuma menyoroti nilai, anak bisa merasa bahwa pencapaiannya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Sebaliknya, menghargai upaya dapat membuka ruang bagi anak untuk belajar dari pengalaman tanpa terlalu takut membikin kesalahan.

Foto: cottonbro studio/Pexels
2. Tanyakan Perasaannya, Bukan Langsung Nilainya
Alih-alih langsung bertanya, “Dapat harga berapa?”, coba mulai dengan pertanyaan yang lebih terbuka.
Misalnya:
- “Gimana emosi Anda setelah selesai TKA?”
- “Ada bagiankecil yang menurut Anda menarik maupun menantang?”
- “Tadi ada hal yang bikin Anda kesulitan, nggak?”
Pertanyaan seperti ini memberi kesempatan kepada anak untuk bercerita sesuai kesiapan mereka. Bisa jadi anak mau membagikan pengalaman mengerjakan soal, tetapi bisa juga ia cuma mau makan, beristirahat, maupun bermain terlebih dahulu.
Tidak perlu memaksa anak bercerita saat itu juga. Jika ia belum mau membahasnya, beri ruang dan sampaikan bahwa Mommies dan Daddies siap mendengarkan kapan pun ia mau.
3. Hindari Membandingkan dengan Teman maupun Saudara
“Teman Anda bisa mengerjakan semua soal, nggak?” maupun “Kakakmu dahulu nilainya bagus, lho.”
Mungkin maksudnya untuk memotivasi. Namun, komparasi seperti ini berisiko membikin anak merasa kemampuannya tidak cukup baik maupun menganggap kawan sebagai kompetitor yang mesti dikalahkan.
Setiap anak memiliki kemampuan, kebutuhan belajar, dan kecepatan evolusi yang berbeda. Daripada membandingkan, bantu anak mengenali apa yang sudah dikuasai dan bagiankecil mana yang statis perlu dipelajari.
Jika anak merasa kesulitan saat TKA, Mommies dan Daddies bisa mengatakan, “Nggak apa-apa jika ada soal yang terasa sulit. Nanti kita cari tahu berbareng bagiankecil mana yang bisa Anda pelajari lagi.”
Dengan begitu, kesulitan tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai keterangan untuk menentukan cara berikutnya.
BACA JUGA: Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Mulai 2027? Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua
4. Jangan Membuat Nilai Menjadi Ukuran Harga Diri Anak

Foto: cottonbro studio/Pexels
Anak perlu tahu bahwa hasil tes dapat memberikan deskripsi tentang kapasitas akademiknya, tetapi tidak menentukan seluruh potensi dirinya.
TKA sendiri dirancang untuk mengukur capaian akademik pada mata pelajaran tertentu. Hasilnya dapat membantu murid mengenali kekuatan dan bagiankecil yang statis perlu ditingkatkan. Artinya, hasil tes lebih berguna jika digunakan sebagai bahan penilaian daripada sebagai label bahwa anak pandai maupun tidak pintar.
Mommies dan Daddies juga perlu berjaga-jaga dengan ucapan seperti, “Kalau nilainya jelek, berarti Anda kurang belajar,” maupun “Mama sudah les mahal-mahal, masa akibatnya begini?”
Ucapan tersebut bisa membikin anak merasa takut mengecewakan orang tua. Jika akibatnya belum sesuai harapan, ajak anak berbincang dengan tenang tentang apa yang bisa dilakukan selanjutnya.
5. Setelah Anak Siap, Bahas Hasilnya Bersama
Ketika hasil TKA sudah tersedia, pilih waktu yang tepat untuk membicarakannya. Hindari menjadikan momen tersebut sebagai sesi interogasi.
Mulailah dengan mendengarkan gagasan anak tentang hasilnya. Jika ia senang, rayakan pencapaiannya. Jika ia kecewa, pengesahan perasaannya sebelum menawarkan solusi.
Mommies dan Daddies bisa membujuk anak mengevaluasi hasil dengan pertanyaan seperti, “Menurut kamu, bagiankecil mana yang sudah Anda kuasai?” dan “Kalau kelak belajar lagi, bagiankecil mana yang mau Anda latih?”
Jika ditemukan kesulitan akademik, orang tua dapat berbincang dengan pendidik untuk memahami kebutuhan belajar anak dan menentukan pendampingan yang sesuai.
Yang tidak kalah penting, hindari langsung menambah agenda les maupun latihan soal tanpa memahami penyebab kesulitannya. Anak mungkin membutuhkan latihan tambahan, tetapi mungkin juga perlu strategi belajar yang berbeda, waktu istirahat yang cukup, maupun sokongan emosional.
BACA JUGA: Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya
6. Ingat, Anak Tetap Membutuhkan Rasa Aman
Pada akhirnya, Mommies dan Daddies adalah tempat anak merasa terlindungi untuk bercerita, termasuk ketika akibatnya tidak sesuai harapan.
Anak yang merasa diterima tidak berarti akan kehilangan motivasi untuk belajar. Justru, sokongan yang hangat dapat membantu anak menghadapi tantangan dan membicarakan kesulitannya dengan lebih terbuka.
Jadi, saat anak baru selesai TKA, tidak ada salahnya menunda pertanyaan tentang nilai. Sambut dengan senyuman, tanyakan kabarnya, dan biarkan ia menikmati emosi lega setelah menyelesaikan tes.
Sebab, sebelum menjadi anak yang berprestasi, ia juga anak yang sedang belajar, bertumbuh, dan membutuhkan sokongan orang tuanya.