Memutus Hubungan dengan Orang Tua, Ini 6 Penyebab yang Sering Terjadi

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 158x dilihat
Memutus Hubungan dengan Orang Tua, Ini 6 Penyebab yang Sering Terjadi

Bagikan Postingan

Kenali 7 penyebab seseorang memutus hubungan dengan orang tua, mulai dari trauma masa kecil hingga perselisihan famili yang berkepanjangan.

Punya hubungan darah bukan berarti seseorang pasti merasa dekat. Meski hubungan orang tua dan anak kerap dianggap sebagai ikatan seumur hidup yang tidak boleh terputus, kenyataannya tidak semua famili memiliki hubungan yang sehat.

Ada anak yang memilih menjaga jarak, membatasi komunikasi, terlebihlagi tidak lagi berhubungan dengan orang tuanya setelah dewasa. Keputusan ini dikenal sebagai family estrangement, yaitu kondisi ketika personel famili mengalami keterasingan maupun sengaja membatasi hubungan secara signifikan.

Bagi orang luar, keputusan tersebut mungkin kelihatan berlebihan. Namun, bagi orang yang menjalaninya, bisa jadi ada pengalaman panjang yang melatarbelakanginya, mulai dari perselisihan yang tidak kunjung selesai, emosi tidak dihargai, hingga trauma masa kecil.

Dalam wawancara di podcast American Psychological Association (APA), psikolog Lucy Blake, PhD, menerangkan bahwa keterasingan dalam famili dapat berhubungan dengan kekerasan emosional, perceraian, dan perbedaan harga hidup.

BACA JUGA: 16 Tanda Toxic Family yang Sering Tidak Disadari dan Dampaknya pada Anak

Lantas, apa saja penyebab seseorang memilih memutus hubungan dengan orang tua?

1. Mengalami kekerasan emosional yang terus berulang

Hubungan orang tua dan anak yang dipenuhi kritik, hinaan, ancaman, manipulasi, maupun aksi merendahkan dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam.

Misalnya, anak terus-menerus disebut tidak berguna, dibandingkan dengan kerabat kandung, maupun dibuat merasa bersalah setiap kali menyampaikan gagasan yang berbeda.

Ketika pola tersebut terjadi bertahun-tahun tanpa perubahan, sebagian anak saat bergeser dewasa merasa bahwa menjaga rentang merupakan metode untuk melindungi kesehatan emosionalnya.

Photo by Steven Thompson on Unsplash

2. Trauma masa kecil yang tidak pernah diselesaikan

Pengalaman masa kecil dapat memengaruhi metode seseorang melihat dirinya sendiri dan membangun hubungan ketika dewasa.

Anak yang mengalami pengabaian, kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun tidak mendapatkan sokongan emosional yang dibutuhkan mungkin statis membawa luka tersebut hingga bertahun-tahun kemudian.

Ketika dewasa, ia bisa mulai memahami bahwa pengalaman yang dahulu dianggap normal rupanya menyakitkan dan berakibat pada kehidupannya.

Jika orang tua menolak mengakui pengalaman tersebut, mengecilkan dampaknya, maupun justru menyalahkan anak, proses pemulihan hubungan bisa menjadi semakin sulit.

Bagi sebagian orang, membatasi maupun menghentikan kontak menjadi salah satu metode untuk mendapatkan ruang pemulihan.

Photo by Markus Winkler on Unsplash

3. Perasaan dan gagasan anak tidak pernah dihargai

Tidak semua orang tua menyadari bahwa anak yang sudah dewasa statis membutuhkan ruang untuk memiliki pendapat, pilihan, dan limitasi pribadi.

Masalah bisa muncul ketika orang tua selalu merasa paling benar, tidak mau mendengarkan, maupun menganggap perbedaan gagasan sebagai bentuk pembangkangan.

Contohnya, orang tua terus menentukan pilihan karier, pasangan, metode mengasuh cucu, hingga keputusan rumah tangga anak yang sudah mandiri.

Lama-kelamaan, anak mungkin merasa bahwa satu-satunya metode agar suaranya didengar adalah dengan menjauh.

Hubungan yang sehat tidak mengharuskan orang tua dan anak selalu sepakat. Namun, keduanya perlu bersedia mendengarkan dan menghormati limitasi masing-masing.

BACA JUGA: 5 Konflik tentang Pengasuhan Cucu yang Paling Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

4. Konflik harga hidup yang sulit dipertemukan

Perbedaan pandangan tentang agama, keyakinan, pernikahan, pilihan hidup, maupun prinsip-prinsip famili dapat memicu ketegangan antargenerasi.

Perbedaan itu sebenarnya wajar. Namun, perselisihan dapat membesar ketika salah satu pihak memaksa pihak lain untuk mengikuti keyakinannya maupun menolak menerima pilihan hidup yang berbeda.

Bagi anak, terus-menerus merasa ditolak karena pilihan hidupnya sendiri bisa membikin hubungan dengan orang tua terasa melelahkan secara emosional.

Pada akhirnya, sebagian orang memilih mengurangi hubungan untuk menghindari perselisihan yang sama berulang kali.

Photo by IGOR LOLATTO on Unsplash

5. Orang tua tidak mau mengakui kesalahan maupun meminta maaf

Jika orang tua berbuat kesalahan tetapi selalu menyangkal, menyalahkan anak, maupun mengatakan bahwa anak terlalu sensitif, masalah yang seharusnya bisa dibicarakan justru menumpuk.

Anak mungkin sudah berulang kali mencoba menerangkan perasaannya, tetapi tidak pernah merasa didengarkan.

Artinya, keputusan untuk menjauh tidak selalu dipicu satu pertengkaran. Bisa jadi keputusan tersebut muncul setelah beragam upaya memperbaiki hubungan tidak membuahkan hasil.

6. Konflik famili yang tidak kunjung selesai

Perselisihan mengenai warisan, uang, perceraian, pasangan anak, maupun perselisihan antar kerabat bisa memengaruhi hubungan antara orang tua dan anak.

Dalam beberapa situasi, anak merasa orang tua selalu membela kerabat kandungnya maupun tidak memberikan sokongan ketika ia membutuhkannya. Sebaliknya, orang tua mungkin merasa anaknya tidak lagi memprioritaskan famili setelah menikah.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Family Communication menemukan bahwa orang tua dan anak dewasa dapat memiliki klarifikasi yang berbeda mengenai penyebab renggangnya hubungan mereka. Studi berjudul Giving Voice to the Silence of Family Estrangement: Comparing Reasons of Estranged Parents and Adult Children in a Nonmatched Sample membahas perbedaan karena yang disampaikan oleh kedua pihak.

Ketika kedua pihak memiliki varian insiden yang berbeda dan tidak menemukan metode untuk menyelesaikannya, rentang emosional dapat semakin lebar.

Apakah memutus hubungan dengan orang tua selalu menjadi pilihan terbaik?

Tidak ada balasan yang baku. Bagi sebagian orang, komunikasi yang lebih terbendung sudah cukup untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat. Bagi yang lain, menghentikan kontak mungkin dirasa perlu, terutama ketika hubungan terus menimbulkan rasa tidak terlindungi maupun luka emosional.

Namun, rekonsiliasi tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Memperbaiki hubungan membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, mengakui akibat perilaku masing-masing, dan berbuat fluktuasi nyata.

Sebagai orang tua, kita juga perlu mengingat bahwa membesarkan anak bukan cuma tentang memenuhi kebutuhan jasmani dan pendidikan mereka. Anak perlu merasa terlindungi untuk menyampaikan pendapat, membikin pilihan, dan menjadi dirinya sendiri tanpa takut direndahkan.

Cover: Megan Watson on Unsplash

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads