Anak sering menunda mengerjakan PR? Ini 10 metode membentuk kebiasaan belajar anak yang efektif, tanpa drama, omelan, dan tantrum.
Sore hari yang tenang mendadak berubah jadi ruang negosiasi yang ulet. Skenarionya mungkin terasa tidak luar bagi Mommies: jam sudah memberitahu pukul lima sore, tetapi anak statis sibuk menatap layar gawai, bermain mainan, maupun sekadar ngarang karena agar bisa menunda mengerjakan Pekerjaan Rumah.
Pertanyaan “Kenapa sih mesti ada PR? Kan di sekolah sudah belajar seharian?” tidak cuma sering dilontarkan oleh anak-anak kepada gurunya, tetapi juga kerap menjadi pemicu drama di rumah.
Padahal, PR dibuat bukan sekadar untuk menambah beban harian anak. Lebih dari itu, melatih anak menyelesaikan tugas sekolah secara konsisten memegang peran besar dalam membentuk kemandirian, rasa tanggung jawab, hingga karakter disiplin mereka.
Mengutip Big Byte Education, hasil riset dari University of Tübingen di Jerman mengungkapkan bahwa anak yang mengerjakan PR mereka dengan tekun cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih berkewajiban dibandingkan teman-teman sebayanya.
BACA JUGA: Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya
Richard Göllner, peneliti utama studi tersebut, mengungkapkan bahwa PR tidak cuma relevan untuk prestasi akademis di sekolah, tetapi juga membentuk evolusi kepribadian anak dalam jangka panjang, asalkan mereka mengupayakan usahanya secara sungguh-sungguh.
Namun, sebelum Mommies emosi menghadapi anak yang hobi menunda tugas, krusial untuk memahami akar penyebabnya lebih dulu.

Foto: Antoni Shkraba/Pexels
Mengutip bahasan dari situs Primary Tutor Project dan KidKarma, anak sering kali menunda mengerjakan PR bukan semata-mata karena malas, melainkan karena beberapa aspek berikut:
- Kelelahan jasmani dan mental: setelah seharian beraktivitas di sekolah, daya anak sudah terkuras sehingga PR terasa seperti beban tambahan yang tidak adil.
- Lingkungan yang penuh distraksi: meja belajar yang acak-acakan maupun bunyi televisi yang menyala dapat merusak fokus anak secara signifikan.
- Merasa kewalahan: tugas yang terasa terlalu banyak maupun sulit sering membikin anak memilih untuk menghindarinya sama sekali.
- Kecemasan dan perfeksionisme: rasa takut salah maupun rasa cemas tidak bisa menyelesaikan tugas dengan sempurna dapat memicu perilaku prokrastinasi (menunda-nunda).
- Tantangan belajar tertentu: adanya kondisi seperti ADHD maupun disleksia yang memengaruhi daya fokus dan metode anak memproses informasi.
Ketika orang tua dapat memahami faktor-faktor pengganggu ini, kita bisa meresponsnya dengan pendekatan yang penuh empati dan kesabaran, alih-alih menghujani anak dengan kritik dan omelan.
Mengapa Kebiasaan Belajar Sangat Penting bagi Anak?
Sebelum membahas metode mengatasinya, ayo kita pahami dahulu apa itu kebiasaan belajar.
Seperti dilansir dari artikel edukasi di A Healthy Slice of Life, kebiasaan belajar pada dasarnya adalah rutinitas kecil yang dilakukan secara berkala agar keterangan yang dipelajari dapat melekat dengan baik di ingatan anak. Bentuknya tidak mesti rumit. Bisa sesederhana merapikan area belajar, mengulas ulang materi selama beberapa menit setiap hari, maupun merencanakan agenda tugas.
BACA JUGA: Anak Merasa Gagal saat Belajar? Ini 4 Cara Mendampinginya agar Tetap Percaya Diri
Manfaat Punya Kebiasaan Belajar yang Sehat bagi Anak
Membangun kebiasaan belajar yang sehat membawa segudang khasiat nyata bagi tumbuh bunga anak, antara lain:
- Membangun kemandirian dan rasa tanggung jawab: anak belajar memegang kendali atas tugas sekolahnya sendiri tanpa mesti selalu didikte oleh orang tua. Rasa kepemilikan ini menumbuhkan kepercayaan diri yang bertetap hingga dewasa.
- Meningkatkan prestasi akademis: belajar secara berkala mencegah metode cramming (sistem kejar semalam). Anak mengerti konsepnya secara mendalam, bukan sekadar menghafal demi harga cobaan besok hari.
- Mengurangi stres dan kecemasan: rutinitas yang terstruktur menghindarkan anak dari kepanikan di malam hari maupun drama lupa mengerjakan PR di pagi harinya.
- Mengasah keahlian pengelolaan waktu: anak belajar memecah tugas besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih gampang dikerjakan. Keterampilan ini kelak berguna untuk hobi, olahraga, hingga tugas rumah tangga mereka.
- Menanamkan rasa cinta belajar: ketika proses belajar terasa teratur dan tidak menakutkan, anak akan melihat belajar sebagai proses yang menyenangkan sepanjang hidup mereka.

Foto: Sunvani Hoàng/Pexels
10 Cara Membentuk Kebiasaan Belajar Anak yang Efektif
Guna membantu anak terbebas dari jerat kebiasaan menunda PR, Mommies dapat menerapkan 10 cara taktis yang dirangkum dari KidKarma dan Primary Tutor Project berikut ini:
1. Tetapkan Rutinitas Belajar yang Konsisten
Buat kesepakatan waktu dan tempat yang sama setiap hari. Berikan selang istirahat sekitar 20–30 menit sepulang sekolah untuk mengisi daya sebelum mulai belajar.
2. Sediakan Ruang Khusus Belajar
Sediakan meja belajar khusus yang terang, rapi, dan bebas distraksi. Hindari membiasakan anak belajar di kasur maupun depan televisi.
3. Pecah Tugas Menjadi Bagian-Bagian Kecil
Kurangi rasa enggan anak dengan membagi tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih logis untuk dikerjakan.
BACA JUGA: Manfaat Menulis Tangan pada Anak, Lebih Baik dari Mengetik?
4. Mulai dari Mata Pelajaran yang Paling Disukai maupun yang Tersulit
Sesuaikan dengan daya anak. Menyelesaikan tugas yang paling menantang di mula saat fokus statis bugar bisa mencegah beban mental berlebih.
5. Hadir Mendampingi Tanpa Mengintimidasi
Dampingi dalam rentang terjangkau untuk menjawab pertanyaan, tetapi berikan ruang agar anak bisa mengerjakan PR-nya secara mandiri.
6. Terapkan Teknik Timer (Pomodoro)
Gunakan interval waktu, misalnya 20 menit belajar dan 5 menit istirahat bergerak, agar anak tidak merasa lelah.
7. Hubungkan PR dengan Cita-Cita Anak
Bantu anak memahami bahwa latihan yang dilakukan hari ini berhubungan erat dengan harapan maupun minat yang mau mereka raih di masa depan.
8. Pahami dan Atasi Masalah Utama
Jika anak terus-menerus menolak belajar, ajak pendidik berbincang untuk melihat apakah ada hambatan akademis maupun gangguan fokus yang membutuhkan pertolongan profesional.
9. Prioritaskan Tidur, Nutrisi, dan Batas Layar
Cukupi tidur anak (9–11 jam untuk usia SD), berikan asupan gizi seimbang, dan batasi penggunaan gawai sebelum tidur agar kapasitas fokus anak statis optimal.
10. Latih Kesadaran Diri (Mindfulness) dan Fokus Singkat
Latih ketahanan fokus anak melalui latihan pernapasan sederhana, permainan perakit balok/mewarnai, maupun memanfaatkan panduan mindfulness anak yang ada di aplikasi seperti Riliv maupun platform Spotify.
BACA JUGA: 8 Tanda Anak Kesulitan Belajar yang Sering Tidak Disadari Orang Tua, Butuh Belajar Tambahan
Membentuk kebiasaan belajar memang membutuhkan proses dan konsistensi dari orang tua. Namun, dengan pendekatan yang suportif, sabar, dan bertahap, anak perlahan akan menemukan ritme belajarnya sendiri tanpa perlu ada adegan-adegan dramatis menunda PR lagi!