Jakarta -
Sebagian orang tua mungkin sibuk memikirkan PR anak, waktu bermain gadget, alias apakah Si Kecil sudah cukup makan sayur. Namun, ada juga pengasuhan yang berbeda, terlebih saat membesarkan anak yang cerdas.
Sebagian orang tua mengira anak pandai selalu berada di bawah tekanan alias dididik terlalu keras. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu lantaran setiap anak punya kebutuhan emosional yang berbeda.
Kisah ini dialami oleh Bunda Nandini Kochhar, yang mempunyai anak berjulukan Aaryaveer Kochhar. Aaryaveer diketahui masuk dalam daftar siswa "paling pandai di dunia" di usianya yang baru menginjak 9 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip dari laman The Times of India, daftar tersebut dirilis oleh Johns Hopkins Center for Talented Youth (CTY) yang berbasis di Amerika Serikat. Penilaian dilakukan berasas pengetesan tingkat kelas terhadap lebih dari 15.300 siswa berbakat dari 76 negara.
Aaryaveer sendiri sukses meraih skor di persentil ke-99 pada bagian Matematika. Di usianya yang tetap sangat muda, dia bisa beragam konsep seperti penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan dua langkah.
Anak masuk daftar siswa paling pandai di dunia, Bunda ini ceritakan perjalanannya
Sejak kecil, orang tua Aaryaveer mulai menyadari ada perihal yang berbeda dari anaknya. Ia sudah bisa membaca kata tiga huruf dan mengerjakan soal matematika sederhana di usia yang sangat dini.
"Kami mulai menyadari perihal ini sejak usia sangat awal ketika kami memandang dia sudah bisa membaca kata-kata tiga huruf dan mengerjakan soal matematika sederhana pada usia dua tahun," ungkap Kochhar.
Seiring bertambahnya usia, keahlian Aaryaveer terus berkembang dengan cepat. Ia kemudian masuk dalam kategori anak berbakat luar biasa yang menempatkannya di jejeran 0,2 persen teratas di dunia.
"Di usianya yang baru 11 tahun, dia telah diidentifikasi sebagai anak berbakat luar biasa, menempatkannya di 0,2 persen teratas di seluruh dunia," katanya.
Tidak hanya itu, prestasinya juga membuatnya diterima di dua organisasi IQ tinggi dunia, lho. Ia berasosiasi dengan Mensa dan Intertel serta dipercaya menjadi duta dunia untuk anak berbakat.
"Ia juga diterima di dua perkumpulan IQ tinggi paling bergengsi di dunia, Mensa dan Intertel, yang bukanlah prestasi kecil. Kini dia dinobatkan sebagai duta dunia untuk anak-anak berbakat," jelas Kochhar.
Namun di kembali kepintaran tersebut, ada juga tantangan dalam kehidupan sosialnya. Anak-anak berbakat seperti Aaryaveer sering kali tidak mudah berbaur dengan kawan seusianya, Bunda.
Secara sosial, mereka lebih nyaman berada di lingkungan dengan minat yang sama. Jika tidak, mereka memilih bumi mereka sendiri dan lebih banyak menghabiskan waktu sendiri.
"Putra saya sangat sosial dan terlibat dengan antusias ketika dia menemukan kawan yang cocok dengannya, tetapi ini condong orang-orang seperti guru besar IIT, matematikawan, alias astronom, sangat jarang anak-anak lain," ujar Kochhar.
Cara unik Bunda dalam mengasuh anak cerdas
Dalam mendampingi anaknya, Bunda Kochhar lebih menjaga suasana hati sang anak agar tetap tenang. Sang Bunda berupaya agar anaknya tidak terbebani meski mempunyai keahlian akademik yang baik.
"Peran utama saya adalah memastikan dia tidak merasa tertekan. Meskipun putra saya paling senang saat meneliti matematika alias mempelajari benda-benda langit, saya berupaya memastikan lingkungan rumah kami menyenangkan, ringan, dan yang terpenting, damai," kata Kochhar.
Karena anaknya sudah cukup mandiri, dia tidak terlalu banyak memberi dorongan unik soal urusan belajar. Justru, dia lebih konsentrasi menghadirkan momen kebersamaan yang menyenangkan di rumah.
"Karena dia mandiri, saya tidak perlu memotivasi kegiatan akademiknya. Jadi saya mencurahkan daya saya untuk merencanakan kegiatan yang menyenangkan, malam menonton film, petualangan di luar ruangan, malam bermain gim, dan hal-hal lain yang kami semua nantikan sebagai keluarga," ujarnya.
Dalam kesehariannya, Kochhar juga cukup elastis dengan agenda kegiatan anaknya. Ia menyesuaikan waktu sekolah dan kegiatan lainnya agar tidak saling memberatkan satu sama lain.
"Saya juga memastikan bahwa ketika dia mempunyai tenggat waktu untuk kegiatan di luar sekolah, saya mengizinkannya untuk mengambil beberapa hari libur dari sekolah. Dan ketika ada tenggat waktu sekolah, saya memastikan dia menghentikan beberapa aktivitasnya yang lain," katanya.
Baginya, yang paling krusial bukan soal prestasi, tetapi juga kebahagiaan anak. Sebagai seorang Bunda, Kochhar hanya mau anaknya tetap merasakan masa mini meski mempunyai keahlian di atas rata-rata.
"Pada dasarnya, konsentrasi saya tetap pada menjaga kebahagiaannya dan memberinya masa mini yang normal meskipun prestasinya melampaui usianya," tuturnya.
Bunda ini bagikan tips mengatasi stres pada anak
Dalam mendidik anaknya, Bunda Nandini Kochhar lebih memfokuskan sikap rendah hati sejak dini. Ia mau anaknya tetap sederhana meski telah mempunyai banyak prestasi.
"Sejak awal, bagi kedua anak saya, kerendahan hati telah menjadi bagian utama dari didikan saya. Meskipun saya merayakan prestasi putra saya dengan penuh antusiasme, saya juga meluangkan waktu untuk memastikan dia tidak menjadi sombong," ujarnya.
"Dia kudu tetap rendah hati dan membumi, mengakui dan menghargai keahlian dan prestasi orang lain juga. Dengan langkah ini, saya merasa dia tidak bakal terlalu memendam kekalahan," lanjutnya.
Ia juga percaya bahwa suasana rumah mempunyai peran dalam membantu anak mengatur stres. Lingkungan yang selaras membikin anak lebih tenang dalam menghadapi tekanan.
"Saya sungguh percaya bahwa kunci untuk mengelola stres dan emosi anak, terutama ketika mereka berkompetisi di tingkat internasional pada usia muda, adalah sesuatu yang sederhana seperti rumah yang senang dan family yang erat," tuturnya.
Dukungan family juga menjadi perihal yang tak kalah krusial bagi tumbuh kembang anak. Lambat laun, mereka bisa lebih percaya diri dan tidak mudah tertekan saat menghadapi tantangan.
"Apa pun yang dihadapinya, mengetahui bahwa dia mempunyai ibu, ayah, dan kerabat laki-laki yang mencintainya tanpa syarat, yang bakal merayakan kemenangannya dan menghiburnya setelah kekalahan, bakal membikin perbedaan besar. Ketika dia memasuki kompetisi, ujian, alias tes tanpa tekanan sama sekali dari keluarganya, dia bakal tampil dengan bebas dan dengan pikiran yang jernih," pungkasnya.
Itulah penjelasan mengenai anak yang masuk dalam daftar siswa paling pandai di bumi serta langkah unik sang Bunda dalam mengasuhnya. Semoga bisa menjadi inspirasi, ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·