Apakah Paparan Produk Plastik Bisa Bikin Sulit Hamil? Simak Faktanya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 5 menit 507x dilihat
Apakah Paparan Produk Plastik Bisa Bikin Sulit Hamil? Simak Faktanya

Jakarta -

Bunda mungkin cukup sering menggunakan produk berbahan plastik dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari wadah makanan, botol minum, bungkusan makanan hingga beragam produk rumah tangga. Namun, pernahkah terpikir bahwa paparan bahan kimia tertentu dari plastik juga bisa berangkaian dengan kesuburan?

Sejumlah penelitian memang menemukan adanya hubungan antara paparan bahan kimia tertentu yang digunakan dalam produk plastik dengan kesehatan reproduksi. Dua golongan unsur yang paling banyak diteliti adalah bisphenol A (BPA)dan phthalates (ftalat).

Meski begitu, bukan berfaedah menggunakan satu wadah plastik kemudian otomatis membikin seseorang susah hamil. Hubungan antara paparan bahan kimia dan kesuburan cukup kompleks dan tetap terus diteliti.


Bahan kimia dalam plastik yang perlu diperhatikan

BPA merupakan bahan kimia yang dapat ditemukan pada sejumlah jenis plastik dan material yang bergesekan dengan makanan. Sementara itu, phthalates digunakan sebagai bahan tambahan untuk membikin plastik tertentu lebih elastis dan tahan lama.

Keduanya termasuk endocrine-disrupting chemicals (EDCs), ialah bahan kimia yang berpotensi mengganggu sistem hormon tubuh. Padahal, hormon mempunyai peran krusial dalam proses reproduksi, termasuk produksi sperma, pematangan sel telur dan ovulasi.

Karena itu, para peneliti tertarik memandang apakah paparan BPA dan phthalates dapat memengaruhi keahlian seseorang untuk mempunyai keturunan.

Benarkah plastik bisa memengaruhi kesuburan?

Jawabannya, ada indikasi hubungan, tetapi belum berfaedah paparan plastik menjadi penyebab tunggal infertilitas.

Salah satu penelitian terbaru pada 2026 yang diterbitkan dalam Reproductive Sciences menganalisis 38 penelitian dengan total lebih dari 55 ribu peserta. Hasil meta-analisis tersebut menemukan bahwa paparan BPA dan phthalates berangkaian dengan sejumlah parameter reproduksi, termasuk penurunan hormon AMH dan jumlah folikel antral pada perempuan. Paparan BPA juga berangkaian dengan penurunan nomor kehamilan klinis pada beberapa penelitian teknologi reproduksi berbantu.

Namun, penelitian tersebut juga menemukan bahwa hubungan antara paparan lingkungan dan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kehamilan (time to pregnancy) secara keseluruhan tidak signifikan. Artinya, bukti yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa paparan zat-zat tersebut pasti menyebabkan seseorang mengalami infertilitas.

Pada perempuan, perhatian peneliti terutama tertuju pada kemungkinan pengaruh bahan kimia pengganggu hormon terhadap kegunaan ovarium. Sebuah studi mengenai paparan phthalates dan kesehatan reproduksi wanita menunjukkan bahwa unsur tersebut berpotensi berangkaian dengan perubahan kegunaan hormon dan beragam aspek kesehatan reproduksi. Namun, hasil penelitian pada manusia tetap beragam sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.

Sementara itu, meta-analisis 2026 menemukan bahwa paparan BPA berangkaian dengan kadar anti-Müllerian hormone (AMH) yang lebih rendah, sedangkan paparan phthalates dikaitkan dengan jumlah folikel antral yang lebih rendah. Kedua parameter tersebut sering digunakan sebagai bagian dari penilaian persediaan ovarium.

Meski demikian, Bunda perlu ingat bahwa AMH alias jumlah folikel bukan satu-satunya penentu seseorang bisa alias tidak bisa hamil.

Bukan hanya perempuan, kesuburan laki-laki juga bisa terpengaruh

Kesuburan merupakan urusan pasangan, bukan hanya perempuan. Paparan bahan kimia tertentu juga sedang diteliti kaitannya dengan kualitas sperma.

Sebuah systematic review tahun 2026 yang mengevaluasi 38 penelitian menemukan bahwa paparan phthalates, termasuk MEHP, DEHP dan DBP, dikaitkan dengan perubahan sejumlah parameter semen, seperti konsentrasi dan motilitas sperma. Para peneliti menduga mekanismenya berangkaian dengan gangguan hormon dan stres oksidatif, meski hasil penelitian antar-populasi tetap bervariasi.

Temuan tersebut sejalan dengan meta-analisis mengenai BPA yang mencakup 18 penelitian. Penelitian itu menemukan bahwa kadar BPA dalam urine berkorelasi negatif dengan konsentrasi sperma dan jumlah total sperma.

Menariknya, penelitian LIFE Study yang melibatkan 501 pasangan yang sedang berupaya mendapatkan kehamilan menemukan bahwa beberapa jenis phthalate pada laki-laki berangkaian dengan waktu menuju kehamilan yang lebih lama. Sementara itu, kadar BPA pada laki-laki maupun wanita tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan waktu menuju kehamilan dalam penelitian tersebut.

Jadi, paparan bahan kimia dari lingkungan berpotensi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam kesehatan reproduksi laki-laki maupun perempuan.

Bagaimana dengan pasangan yang menjalani program bayi tabung?

Hubungan antara paparan bahan kimia dari plastik dan keberhasilan program IVF juga mulai banyak diteliti.

Systematic review dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 terhadap pasien yang menjalani teknologi reproduksi berbantu menemukan bahwa sebagian besar metabolit phthalates yang diteliti mempunyai hubungan negatif dengan sejumlah parameter kesehatan reproduksi. Namun, peneliti menekankan bahwa penelitian yang tersedia tetap mempunyai keterbatasan dan diperlukan studi yang lebih besar.

Penelitian lain mengenai BPA dan IVF/ICSI menemukan adanya hubungan negatif antara paparan BPA dengan beberapa hasil reproduksi, khususnya tingkat fertilisasi normal dan jumlah embrio berbobot tinggi. Akan tetapi, penelitian tersebut tidak menemukan hubungan signifikan dengan nomor kehamilan klinis, pembentukan blastokista alias keberhasilan implantasi. Artinya, pengaruh BPA dan phthalates terhadap keberhasilan bayi tabung tetap belum bisa disimpulkan secara sederhana.

Haruskah berakhir menggunakan plastik?

Tidak perlu sampai panik alias menghindari seluruh produk plastik. Yang lebih krusial adalah mengurangi paparan yang tidak perlu.

Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Hindari memanaskan makanan menggunakan wadah plastik yang tidak dirancang untuk pemanasan.
  • Gunakan wadah kaca alias stainless steel untuk makanan dan minuman panas.
  • Jangan menggunakan wadah plastik yang sudah rusak, tergores berat alias berubah bentuk.
  • Ikuti petunjuk penggunaan pada kemasan, terutama mengenai microwave alias suhu tinggi.
  • Kurangi konsumsi makanan ultra-proses yang banyak menggunakan kemasan.
  • Bila memungkinkan, pilih produk yang mencantumkan info bebas BPA alias sesuai standar keamanan pangan.
  • Jangan hanya konsentrasi pada perempuan. Pasangan laki-laki juga dapat melakukan langkah yang sama untuk mengurangi paparan bahan kimia lingkungan.

Yang perlu digarisbawahi, mengurangi paparan bukan berfaedah menjamin seseorang bakal lebih subur. Kesuburan dipengaruhi banyak faktor, termasuk usia, kondisi hormonal, kualitas sperma dan sel telur, penyakit tertentu, berat badan, style hidup serta aspek genetik.

Jadi, Bunda tidak perlu takut berlebihan. Mulai saja dari langkah sederhana untuk mengurangi paparan, sembari tetap menjaga pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan jika sudah lama mencoba mengandung tetapi belum mendapatkan kehamilan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan