Apakah Perempuan Menopause masih Bisa Hamil? Simak Faktanya

Jun 15, 2026 12:30 PM - 1 bulan yang lalu 53579

Apakah menopause bisa hamil? Pertanyaan yang sering muncul pada wanita yang mulai mengalami perubahan siklus haid.

Banyak wanita yang mengira jika menstruasi sudah tidak teratur maka tak mungkin lagi hamil. Seperti apa faktanya?

Ketika wanita berumur 40 hingga 50 tahun kemungkinan memasuki masa menopause. Salah satu gejalanya adalah siklus menstruasi yang mulai tidak teratur. Padahal, indikasi ini belum tentu menandakan menopause. 


Sebelum Bunda memasuki masa menopause maka bakal melalui masa transisi yang disebut dengan perimenopause. Pada fase ini, kesempatan kehamilan memang menurun tapi belum sepenuhnya tak bisa sama sekali.

Untuk itu Bunda perlu memahami perbedaan antara perimenopause, menopause, serta postmenopause.

Mengenal perimenopause, menopause, dan postmenopause

Sebelum membahas tentang kemungkinan wanita tetap bisa mengandung saat menopause, ada baiknya memahami perbedaan masa yang dilalui perempuan. Sejak perimenopause, menopause, hingga postmenopause.

Perimenopause adalah masa transisi menuju menopause, dan dapat dimulai beberapa tahun sebelum menopause betul-betul terjadi. Massa ini seringkali terjadi di usia akhir 30-an alias 40-an, meskipun dapat dimulai lebih awal alias lebih lambat.

Melansir Cleveland Clinic, pada fase ini produksi hormon estrogen dan progesteron mulai menurun sehingga siklus menstruasi menjadi tidak teratur. Namun, ovarium tetap dapat melepaskan sel telur sehingga kehamilan tetap mungkin terjadi.

Sedangkan menopause adalah kondisi ketika wanita tidak lagi mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut tanpa penyebab medis lainnya.

Pada tahap menopause, ovarium sudah berakhir melepaskan sel telur sehingga keahlian reproduksi alami berakhir.

Sementara itu, postmenopause adalah fase setelah menopause. Pada momen ini kadar hormon reproduksi berada pada tingkat yang lebih rendah dan wanita tidak lagi mengalami ovulasi secara alami.

Ciri-ciri wanita menopause

Rata-rata, menopause terjadi sekitar usia 52 tahun. Tetapi perihal itu dapat sangat bervariasi. Setiap wanita juga dapat mengalami indikasi yang berbeda. Namun, beberapa tanda menopause yang paling umum meliputi:

  1. Siklus menstruasi yang tidak teratur hingga akhirnya berhenti.
  2. Mengalami hot flashes alias sensasi panas mendadak.
  3. Perubahan suasana hati.
  4. Keringat di malam hari.
  5. Gangguan tidur.
  6. Vagina terasa lebih kering.
  7. Penurunan antusiasme seksual.
  8. Sulit konsentrasi.

Gejala-gejala tersebut biasanya muncul secara berjenjang selama masa perimenopause sebelum menopause betul-betul terjadi.

Apakah wanita menopause tetap bisa hamil? 

Jawaban singkatnya tidak bisa mengandung secara alami setelah wanita betul-betul menopause. Dokter kandungan dan ahli menopause dari Cleveland Clinic, Catherine Caponero, DO, mengatakan bahwa kesuburan wanita menurun seiring bertambahnya usia, kesuburan tidak lenyap dalam semalam. 

Kesuburan menurun selama perimenopause, tapi tidak langsung menjadi nol. Jadi, kehamilan spontan tetap dapat terjadi sampai wanita mencapai periode menstruasi terakhir.

"Anda tidak lebih subur selama perimenopause, tetapi kesuburan tidak turun hingga nol sampai Anda mencapai menopause," kata Dr. Caponero.

Perempuan yang tidak mempunyai kondisi apa pun yang memengaruhi keahlian untuk hamil, tetap bisa mengandung sampai wanita mencapai menopause.

Melansir Healthline, menopause ditandai dengan tidak adanya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Pada kondisi ini, ovarium sudah tidak lagi melepaskan sel telur sehingga pembuahan alami tidak dapat terjadi.

Namun, banyak wanita keliru menganggap dirinya sudah menopause padahal tetap berada dalam fase perimenopause. Pada masa ini ovulasi tetap dapat terjadi meski tidak teratur.

Karena itu, kehamilan alami tetap mungkin terjadi meskipun peluangnya lebih rendah dibandingkan usia reproduktif yang lebih muda.

Apakah mungkin bayi tabung setelah menopause?

Perempuan tidak lagi mungkin mengandung setelah menopause. Setelah wanita mencapai menopause, kadar LH dan FSH tetap tinggi dan kadar estrogen dan progesteron tetap rendah. Perempuan tidak lagi berovulasi dan tidak dapat hamil.

Menurut Dr. Barry Aron, seorang master ahli kebidanan/ginekologi bersertifikasi ABMS, teknologi reproduksi berbantu seperti bayi tabung (IVF) dapat membuka kesempatan kehamilan pada sebagian wanita yang sudah menopause.

"Satu-satunya langkah untuk mengandung jika Anda sudah menopause adalah dengan fertilisasi in vitro dan donor sel telur (karena Anda sudah tidak mempunyai sel telur sendiri), sel telur beku, alias embrio beku. Sperma dapat berasal dari donor alias pasangan, tergantung kualitasnya," ujar Aron dilansir Healthline.

IVF setelah menopause telah sukses dibuktikan. Meski demikian, tidak semua wanita pascamenopause dapat menjalani prosedur ini.

Dokter bakal mempertimbangkan usia, kondisi jantung, tekanan darah, serta kesehatan secara keseluruhan sebelum merekomendasikan IVF.

Sel telur pascamenopause tidak lagi layak, tetapi tetap ada dua langkah agar dapat memanfaatkan IVF. Bunda dapat menggunakan sel telur yang telah dibekukan sebelumnya, alias dapat menggunakan sel telur donor segar alias beku.

Sebelum embrio ditanamkan, Bunda juga memerlukan terapi hormon untuk mempersiapkan tubuh untuk implantasi dan untuk membawa bayi hingga cukup bulan.

Dibandingkan dengan wanita pramenopause, wanita pascamenopause lebih mungkin mengalami komplikasi kehamilan ringan dan berat setelah IVF. Itu semua tergantung pada kondisi kesehatan Bunda secara keseluruhan. 

Risiko mengandung setelah menopause untuk janin dan Bunda

Kehamilan pada usia yang lebih tua, termasuk setelah menopause melalui IVF, berisiko lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada usia reproduktif yang lebih muda. Beberapa akibat yang dapat dialami Bunda antara lain:

  1. Kehamilan ganda, terutama jika menjalani IVF. Kehamilan dobel dapat mengakibatkan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan persalinan yang sulit.
  2. Diabetes gestasional, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan pada ibu dan bayi.
  3. Tekanan darah tinggi, yang memerlukan pemantauan yang jeli dan mungkin pengobatan untuk mencegah komplikasi.
  4. Plasenta previa, yang mungkin memerlukan rehat total, pengobatan, alias persalinan sesar.
  5. Keguguran alias lahir mati.
  6. Persalinan caesar.

Sementara pada janin, akibat yang dapat meningkat meliputi:

  • Berat badan lahir rendah
  • Kelahiran prematur
  • Komplikasi kehamilan tertentu yang berangkaian dengan usia ibu yang lebih lanjut.

Karena itu, wanita yang berencana mengandung pada usia mendekati alias setelah menopause perlu berkonsultasi terlebih dulu dengan master ahli obstetri dan ginekologi untuk mengetahui kesempatan serta akibat yang mungkin dihadapi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya