Urusan micin sering menjadi perbincangan publik. Meski ada anggapan bahwa penyedap rasa ini bisa menurunkan fungsi otak, bukti ilmiah menunjukkan tidak ada hubungan langsung dengan penurunan kecerdasan asalkan dikonsumsi dalam batas wajar.
Bahan yang kerap jadi sorotan itu bernama monosodium glutamate (MSG), yaitu garam natrium dari asam amino L-glutamat. Micin terbuat dari apakah? Proses pembuatannya bersifat alami lewat fermentasi tetes tebu, serupa proses pembuatan tempe, kecap, atau yogurt. MSG murni umumnya berupa kristal sekitar 99 persen yang diproduksi secara higienis. Glutamat bukan zat asing bagi tubuh karena berperan dalam fungsi sel imun, kerja otak, dan pengaturan rasa kenyang; unsur ini juga ditemukan secara alami pada tomat, jamur, keju, rumput laut, bahkan di dalam ASI.
Benarkah Micin Bikin Bodoh?
Foto: Shutterstock.com
Cerita soal micin yang membuat orang dianggap 'tolol' berakar dari sebuah surat pada 1968 di New England Journal of Medicine oleh Dr. Robert Ho Man Kwok, yang melaporkan keluhan pusing setelah makan di restoran Cina. Istilah "Chinese Restaurant Syndrome" muncul dari sana dan memicu kekhawatiran serta stigma terhadap MSG.
Pada kenyataannya, pandangan ilmiah jauh berbeda. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (US FDA) telah memasukkan MSG ke dalam kategori Generally Recognized As Safe (GRAS) sejak 1958. Ketika penelitian mencoba membandingkan reaksi orang yang mengaku sensitif terhadap MSG dengan plasebo, respons yang dilaporkan ternyata tidak konsisten antara pemberian MSG dan plasebo.
Penelitian Minoru Kouzuki dan tim menilai pengaruh MSG pada kemampuan berpikir pasien demensia di rumah sakit dan panti jompo. Sebanyak 159 pasien dilibatkan; kelompok intervensi mendapat MSG tiga kali sehari dengan dosis 0,9 gram, sementara kelompok kontrol menerima garam dapur sebanyak 0,26 gram. Perlakuan dilakukan selama 12 minggu dan diikuti pemantauan 4 minggu tanpa pemberian zat tersebut.
Pemeriksaan fisik, analisis darah, kuesioner perilaku, dan tes kognitif dilakukan sebelum serta setelah periode pemantauan. Hasil studi menunjukkan konsumsi MSG jangka panjang terkait dengan peningkatan fungsi kognitif, khususnya pada pasien yang mengalami perbaikan nafsu makan.
Selain itu, Nutrisionis Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes menjelaskan bahwa glutamat dalam MSG identik dengan glutamat yang terdapat pada sayuran, buah, dan daging. Dengan porsi yang tepat, tidak ada alasan untuk cemas; penggunaan MSG justru dapat membantu mengurangi pemakaian garam meja karena memberikan rasa umami yang kuat.
Batas Aman Konsumsi Micin alias MSG
Foto: Shutterstock.com
Meskipun diakui aman oleh lembaga internasional seperti WHO dan FAO, konsumsi MSG tetap perlu dibatasi. WHO menetapkan kisaran asupan harian yang dianggap aman sebesar 0 sampai 120 mg per kilogram berat badan. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyarankan batas maksimal sekitar 5–6 gram per hari untuk orang dewasa, setara sekitar setengah sendok teh.
Dari sisi regulasi, posisi MSG di Indonesia kuat: Peraturan Kepala BPOM No. 11 Tahun 2019 mengizinkan penggunaannya, dan MSG juga memiliki Sertifikat Halal MUI nomor 07870398 Tahun 2010. Landasan kebijakan lain yang mendukung penggunaannya antara lain SK Kementerian Kesehatan No: 235/Menkes/PER/DL/79 dan SK Kementerian Agama No: B VI/02/2444/1976.
Konsumsi berlebihan efeknya mirip jika mengonsumsi garam secara berlebih karena keduanya mengandung natrium yang berisiko meningkatkan tekanan darah. Namun secara perbandingan bobot, kandungan natrium dalam MSG hanya sekitar sepertiga dari jumlah natrium pada berat yang sama dengan garam dapur. Pemanfaatan MSG secara bijak bahkan dapat mengurangi asupan garam hingga 30–40 persen tanpa mengurangi kenikmatan rasa, yang bermanfaat untuk kesehatan jangka panjang jantung dan ginjal.
Jika sesekali muncul keluhan ringan seperti pusing atau tidak nyaman setelah konsumsi berlebih, umumnya gejala bersifat sementara. Penanganan sederhana adalah menghentikan konsumsi, memastikan asupan air yang cukup, dan kembali mengonsumsi makanan bergizi seimbang.