Bahaya Kabut Asap untuk Kesehatan Anak, Lakukan Ini untuk Mencegah Risikonya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 507x dilihat
Bahaya Kabut Asap untuk Kesehatan Anak, Lakukan Ini untuk Mencegah Risikonya

Kebakaran rimba sangat berakibat di beragam aspek, terutama bagi lingkungan dan kesehatan. Pasalnya, asap tebal tersebut dapat menyebar ke beragam daerah dan bisa menimbulkan penurunan kualitas udara. 

Kesehatan anak-anak perlu sangat diperhatikan saat kabut asap terjadi. Paru-paru mereka tetap dalam tahap perkembangan sehingga rentan mengalami gangguan kesehatan dalam kondisi udara yang tidak sehat. 

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat alias Environmental Protection Agency (EPA), asap, abu, dan partikel lain hasil kebakaran rimba sangat berpengaruh dan rentan terhadap paru-paru anak lantaran dapat mengganggu sistem pernafasan. 


“Mereka (anak) menghirup lebih banyak udara, minum lebih banyak air, dan makan lebih banyak daripada orang dewasa.” kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

Karena anak tetap dalam masa pertumbuhan, mereka memerlukan lebih banyak udara dan asupan setiap hari. Kondisi ini juga membikin anak berisiko terpapar polutan dalam jumlah yang lebih besar. Paparan polusi, terutama akibat kebakaran hutan, tentu tidak boleh dianggap sepele lantaran dapat menimbulkan beragam akibat jelek bagi kesehatan anak.

Dampak kebakaran rimba bagi anak-anak

 Simak ulasan selengkapnya berikut ini!

1. Polusi beracun

Asap dari kebakaran rimba mengandung bahan kimia berbisa yang berasal dari rumah, kendaraan, alias material lain yang terbakar. Dikutip dari detikcom, UNICEF menyatakan kebakaran rimba dapat melepaskan campuran polutan beracun, termasuk karbon monoksida, nitrogen oksida, senyama organik volatil, logam berat, dan partikel lembut (PM2.5). 

Dikutip dari USA Today, Asap kebakaran rimba mengandung partikel yang sangat mini yang berupa campuran dari partikel padat dan tetesan cairan yang mini yang cukup untuk menembus jauh ke dalam paru-paru. Sehingga ketika dihirup, paru-paru anak dapat menyebabkan iritasi dan masalah pernapasan, termasuk asma alias alergi.

UCHealt University of Colorado Hospital, juga menyatakan bahwa asap kebakaran dapat menyebabkan peradangan yang mempersempit saluran pernafasan. Hal ini dapat menyebabkan seseorang merasa sesak nafas dan sesak di dada.

Catatan dari UNICEF menunjukkan bahwa asap kebakaran lahan secara dunia telah menelan nyaris 27.000 nyawa anak di bawah usia lima tahun.

2. Perkembangan otak dan kesehatan terganggu

Dokter ahli Pulmonologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Sumardi, Sp PD-KP, mengatakan jika kabut asap bisa mengganggu perkembangan otak anak sehingga kepintaran bisa terkena dampaknya.

Selain itu, asap kebakaran rimba dapat mengganggu kesehatan ibu dan bayi dalam kandungan. Ibu mengandung terancam terkena gangguan hipoksia, yang membikin pasokan oksigen dalam tubuh berkurang.

“Perkembangan otak maupun organnya terganggu dan kebanyakan terlahir dengan berat badan lahir rendah.” ucap dr. Sumardi.

Selain itu, EPA menyebut jika asap kebakaran rimba dapat mengganggu kesehatan anak. Ketika anak menghirup asap tersebut, kemungkinan besar anak bakal mengalami sesak dada, kesulitan bernafas, batuk, pusing, sensasi terbakar di hidung dan tenggorokan, dan mata yang terasa panas.

Cara melindungi anak dari asap kebakaran hutan

Karena kebakaran rimba bukan perihal yang lumrah terjadi, mungkin kebanyakan orang tua banyak yang tidak mengalaminya sehingga tidak memikirkan langkah menanggulangi alias mencegah perihal tersebut. 

Kini, orang tua perlu melindungi anak mereka dengan menciptakan ruang aman. Dengan begitu, diharapkan Si Kecil bisa jauh dari akibat asap kebakaran yang bisa merugikan kesehatannya. CDC mempunyai saran untuk menjaga keselamatan anak, dengan penjelasan sebagai berikut.

  • Pantau indeks kualitas udara: Bunda perlu memantau kualitas udara melalu iqair.com alias aplikasi serupa lainnya untuk memandang kualitas udara di daerah Bunda. Ketika udara memburuk sebaiknya pantau alias ubah kegiatan Si Kecil untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.
  • Jaga anak tetap berada di dalam ruangan: Jika anak mempunyai asma, alergi, alias masalah pernapasan lainnya, alangkah lebih baik menjaga anak untuk tetap berada di dalam ruangan ketika udara semakin buruk.
  • Jaga kebersihan udara di dalam ruangan: Pastikan Bunda menutup jendela dan matikan saluran udara segar pada AC.
  • Waspadai masalah: gejala yang menjadi penanda paparan asap kebakaran rimba pada anak, meliputi batuk, sesak dada, kesulitan bernafas, mata alias tenggorokan terasa terbakar, dan tanda serupa lainnya. Jika Bunda merasa anak muncul indikasi tersebut, segera cari perawatan medis, ya, Bunda.

Menurut EPA, anak tidak disarankan berjuntai pada masker sebagai pelindung dari asap. Hal ini lantaran masker tidak dirancang untuk melindungi seseorang dari asap kebakaran hutan. Maka dari itu, orang tua kudu menyadari masalah yang disebabkan oleh asap dan panas dari kebakaran hutan.

“Gabungan panas dan asap kebakaran rimba menciptakan akibat nyata bagi anak-anak lantaran dua perihal itu terjadi berbarengan dan keduanya saling memengaruhi.” ucap Laura Schifter, peneliti senior di The Aspen Institute sekaligus pendiri dan kepala This Is Planet Ed.

Itulah ancaman kabut asap untuk kesehatan anak dan beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk mencegah risikonya. Semoga membantu, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan