Batuk lantaran Polusi Udara alias Flu? Ini Bedanya Menurut Dokter

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 2 menit 511x dilihat
Batuk lantaran Polusi Udara alias Flu? Ini Bedanya Menurut Dokter

Bunda, mungkin belakangan sering mendengar alias apalagi mengalami sendiri keluhan batuk yang tak kunjung reda. Di tengah kualitas udara yang sedang buruk, polusi bisa menjadi salah satu pemicunya. Paparan polutan dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga membikin batuk muncul dan susah mereda.

Sayangnya, sebagian besar orang sering menganggap keluhan ini sebagai serangan flu biasa (influenza) yang bakal sembuh dengan sendirinya, sehingga memutuskan untuk tidak memeriksakan diri ke dokter. Padahal, kekeliruan dalam mengenali penyebab batuk dapat berujung pada penanganan yang lambat dan meningkatkan akibat perburukan kondisi paru-paru.

Batuk lantaran polusi dan flu mempunyai indikasi berbeda

Dokter ahli alergi dan imunologi, Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD, KAI, FINASIM, memaparkan bahwa perbedaan mendasar antara batuk akibat flu dan iritasi polusi dapat dikenali dari indikasi sistemik yang muncul. Pasien influenza umumnya mengalami demam tinggi dengan suhu tubuh melampaui 37 hingga 38 derajat Celsius, yang kerap disertai nyeri otot dan lemas.


Sebaliknya, paparan polusi udara tidak memicu respon demam pada tubuh, melainkan menyebabkan peradangan lokal pada mukosa saluran pernapasan.

Selain itu, parameter pembeda krusial lainnya terletak pada karakter dan warna dahak yang diproduksi oleh tubuh. Pada jangkitan virus flu, batuk umumnya berkarakter kering alias menghasilkan sekresi bening.

Namun, jika batuk mulai mengeluarkan dahak berwarna hijau, perihal tersebut menandakan adanya penyelundupan sel neutrofil dan enzim mieloperoksidase sebagai respons terhadap iritasi kronis alias jangkitan sekunder, sebuah kondisi yang kerap dipicu oleh paparan materi partikulat polusi.

"Kalau sudah lebih dari 10 hari, demam, pilek, dan batuk tidak kunjung membaik, itu pasti bukan influenza. Influenza mempunyai masa inkubasi yang sigap dan biasanya membaik dalam kurun waktu tersebut. Jika dibiarkan tanpa penanganan tepat, kondisi akibat paparan polusi ini bisa memicu komplikasi yang jauh lebih berat," ujar dr Sukamto dalam perbincangan dengan detikcom beberapa waktu lalu.

TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan