Benarkah Ai Mengurangi Lapangan Kerja? Fakta Terbaru Justru Sebaliknya

Jun 12, 2026 05:10 PM - 2 jam yang lalu 53

Banyak orang beranggapan AI membikin orang menjadi susah mendapat pekerjaan. Benarkah?

Kekhawatiran bahwa kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI) bakal menghilangkan jutaan pekerjaan terus menjadi perdebatan di beragam sektor industri. Seiring semakin luasnya penggunaan teknologi AI, banyak pihak cemas mesin dan sistem otomatis bakal menggantikan peran manusia di tempat kerja.

Pandangan tersebut mendapat tantangan dari CEO OpenAI Sam Altman. Menurutnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perusahaan yang paling aktif mengangkat AI justru menjadi perusahaan yang banyak merekrut tenaga kerja baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Temuan ini memberikan gambaran yang lebih kompleks dibanding dugaan bahwa AI secara langsung menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Yuk kita telaah lebih lanjut Bunda.

Perusahaan pengguna AI banyak rekrut karyawan

Dalam wawancara dengan CNBC beberapa waktu lalu, Sam Altman menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang sukses memanfaatkan AI secara maksimal umumnya tetap melakukan ekspansi tenaga kerja.

"Perusahaan-perusahaan yang saya kenal yang paling banyak mengangkat AI juga merupakan perusahaan yang paling banyak merekrut karyawan," kata Altman dilansir dari Times of India.

Sebaliknya, dia menilai perusahaan yang sering mengaitkan PHK dengan AI belum tentu merupakan pengguna teknologi tersebut secara intensif.

"Secara umum, perusahaan yang berbincang tentang melakukan PHK lantaran AI justru merupakan perusahaan yang paling sedikit mengangkat AI," ujarnya.

Altman apalagi menyebut AI terkadang menjadi argumen yang mudah digunakan perusahaan untuk menjelaskan keputusan pengurangan tenaga kerja kepada publik.

Pernyataan terbaru Altman ini menarik perhatian lantaran berbeda dengan sejumlah komentarnya terdahulu. Pada 2025, dia pernah memperingatkan bahwa beberapa kategori pekerjaan dapat lenyap sepenuhnya akibat perkembangan pemasok AI yang semakin canggih.

Dalam kesempatan lain, Altman juga sempat menyatakan bahwa sejumlah pekerjaan yang terdampak alias tergantikan oleh AI mungkin pada akhirnya tidak lagi dianggap sebagai corak pekerjaan yang relevan di masa depan.

Meski demikian, kebenaran di lapangan memandang langsung gimana perusahaan menggunakan beragam produk OpenAI membikin pandangannya berkembang. Ia sekarang memandang bahwa akibat AI terhadap bumi kerja tidak sesederhana menggantikan manusia dengan mesin.

AI tetap butuh peran manusia

Menurut Altman, keahlian AI saat ini memang sangat kuat untuk mengerjakan tugas tertentu, terutama yang berkarakter teknis seperti pemrograman. Namun teknologi tersebut tetap mempunyai keterbatasan dalam mengelola pekerjaan kompleks yang memerlukan pengawasan jangka panjang dan pengambilan keputusan berlapis.

"Saya rasa saya meremehkan sungguh tidak meratanya keahlian model-model ini. Mereka melakukan beberapa perihal dengan sangat baik, tapi tidak bisa mengawasi tugas kompleks jangka panjang dengan baik," jelasnya.

Sebagai contoh, penggunaan perangkat bantu pemrograman OpenAI seperti Codex. Berdasarkan pengamatannya, hasil terbaik justru diperoleh ketika AI digunakan sebagai perangkat pendukung yang dipadukan dengan skill manusia, bukan pengganti pekerja.

"Orang-orang yang sangat mahir menggunakan model AI dapat menyelesaikan pekerjaan dalam jumlah luar biasa dan menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan jika mereka bekerja tanpa model tersebut," kata Altman.

Pakar teknologi lain tetap ingatkan risiko

Meski demikian, kekhawatiran mengenai akibat AI terhadap lapangan kerja belum sepenuhnya mereda. Sejumlah tokoh industri teknologi tetap memperingatkan bahwa AI berpotensi mengubah struktur pasar tenaga kerja secara signifikan.

CEO Anthropic, Dario Amodei, serta CEO AI Microsoft, Mustafa Suleyman, termasuk di antara para master yang menilai AI dapat menggantikan sebagian pekerjaan yang ada saat ini.

Beberapa perusahaan teknologi besar seperti Salesforce, Cisco, Coinbase, Snap, dan Block juga pernah menyinggung pemanfaatan AI ketika membahas restrukturisasi alias pengurangan karyawan.

Manusia tetap menjadi sumber daya ekonomi terbaik

Meski teknologi terus berkembang, Altman meyakini manusia bakal tetap menjadi komponen utama dalam kegiatan ekonomi dan sosial. Ia menilai masyarakat pada dasarnya tetap menginginkan hubungan antarmanusia, baik dalam pekerjaan maupun ketika menjadi konsumen.

"Orang menyukai orang lain dan mau berinteraksi dengan orang lain. Mereka mau bekerja-sama dan bekerja berbareng orang lain," ujar Altman.

Ia juga menilai bahwa banyak orang tetap lebih menghargai karya yang dibuat manusia dibandingkan konten yang sepenuhnya dihasilkan AI. Menurutnya, publik tetap mau mengetahui sosok manusia yang berada di kembali sebuah karya alias produk.

"Saya pikir industri kami meremehkan seberapa besar keahlian kita untuk tetap menempatkan manusia di pusat segala perihal dalam ekonomi dan bumi yang semakin didukung oleh AI," ujar Altman.

Jadi, meski AI berpotensi mengubah langkah bekerja dan menggeser sejumlah jenis pekerjaan tertentu, pengalaman perusahaan-perusahaan pengguna AI menunjukkan bahwa teknologi ini lebih sering meningkatkan produktivitas manusia daripada menggantikannya sepenuhnya.

Tren terbaru itu mengindikasikan bahwa kombinasi antara AI dan skill manusia bisa menjadi kunci pembuatan nilai ekonomi masa depan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Selengkapnya