Jakarta -
Anak tunggal kerap mendapat label sebagai sosok yang manja, egois, hingga mudah merasa kesepian. Stereotipe tersebut diberikan lantaran anak tunggal tidak mempunyai kerabat dan mendapatkan pengasuhan terpusat dari orang tuanya.
Selama beberapa generasi, gambaran anak tunggal yang manja, egois, hingga canggung secara sosial, telah berulang kali muncul dalam percakapan tentang pengasuhan anak. Padahal, tidak ada satu pun kepribadian anak tunggal yang 'tunggal' alias sudah pasti negatif.
Psikiater dewasa Dr. Allen Masry, mengatakan bahwa salah satu kesalahan terbesar yang beredar adalah bahwa hanya anak-anak yang mempunyai satu jenis kepribadian, dan dapat diperlakukan sebagai satu kesatuan.
"Penelitian tidak menunjukkan bahwa anak tunggal pada dasarnya kesepian, manja, alias kurang bisa bersosialisasi," katanya kepada Newsweek.
Menurut Masry, hasil dari kepribadian anak bakal berjuntai pada style pengasuhan, hubungan keluarga, dan pengalaman secara keseluruhan. Jadi, bukan lantaran kehadiran kerabat kandung, Bunda.
Hal yang sama juga disampaikan psikolog Rachel Loftin. Menurutnya, anak tunggal tidak selalu manja lantaran terbukti bisa kompeten secara sosial.
"Penelitian secara konsisten menemukan bahwa anak tunggal umumnya sehat secara psikologis, kompeten secara sosial, dan bisa beradaptasi dengan baik seperti orang yang tumbuh berbareng kerabat kandung," ungkap Loftin.
Sering dianggap punya kepribadian seperti orang dewasa
Masry mengatakan bahwa anak tunggal condong lebih sering berinteraksi dengan orang dewasa. Hal itu dapat membikin mereka nyaman bercakap-cakap dengan orang dewasa sejak dini, dan menggunakan kosakata yang lebih luas lebih cepat.
Pengalaman seperti itu dapat disalahartikan sebagai 'tumbuh lebih cepat'. Padahal, perihal tersebut tidak selalu mencerminkan perkembangan emosional yang sigap dari seorang anak.
Psikolog klinis Dr. Liz Nissim mengatakan bahwa anak-anak tunggal yang dibesarkan di lingkungan rumah tangga yang lebih tenang, mungkin menganggap dinamika golongan yang ramai alias bentrok seperti kerabat kandung di antara kawan sebaya terlalu menguras energi. Hal itu membikin mereka lebih suka menjalin persahabatan dengan orang yang lebih tua, alias orang dewasa. Itu merupakan suatu preferensi, bukan kekurangan sosial.
Stereotip anak tunggal yang salah
Beberapa penelitian mengungkap stereotip anak tunggal yang sebenarnya salah. Simak penjelasannya berikut ini, seperti melansir dari laman Times of India:
1. "Anak tunggal sudah pasti manja"
Stereotip ini sudah sering didengar dalam percakapan tentang pola pengasuhan. Anggapan tersebut berasal dari akhir tahun 1800-an, ketika psikolog G. Stanley Hall menyatakan bahwa menjadi anak tunggal adalah 'penyakit'.
Namun, bukti ilmiah mengatakan bahwa sebagian besar dugaan itu salah. Salah satu tinjauan yang dipimpin oleh psikolog Dr. Toni Falbo pernah menganalisis nyaris 200 studi, yang membandingkan anak tunggal dengan anak-anak dari family besar. Tinjauan tersebut tidak menemukan bukti berfaedah bahwa anak tunggal lebih manja, egois, alias kurang beruntung secara psikologis dibandingkan kawan sebaya.
2. "Anak tunggal itu kesepian"
Anak tunggal juga sering diasumsikan kesenyapan lantaran hidup tanpa kerabat kandung. Namun, penelitian tidak menemukan kaitan antara kedua perihal tersebut, Bunda.
Sebuah studi yang diterbitkan di The American Journal of Orthopsychiatry tahun 2021 menemukan bahwa anak tunggal justru melaporkan tingkat kesenyapan yang lebih rendah dibandingkan peserta yang mempunyai kerabat kandung. Menurut peneliti, perihal itu mungkin disebabkan oleh ikatan dan investasi orang tua yang lebih dekat dengan anak.
3. "Anak tunggal tidak tahu langkah bersosialisasi"
Banyak orang tua cemas anak semata wayangnya mungkin tidak tahu langkah bersosialisasi lantaran tidak mempunyai kerabat kandung. Tetapi, menurut sebuah ulasan yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA), para psikolog telah berulang kali menemukan bahwa anak tunggal tidak berbeda secara signifikan dari anak-anak yang mempunyai kerabat kandung dalam perihal penyesuaian sosial.
Anak-anak bisa mempelajari keahlian sosial tidak hanya di rumah. Mereka bisa berbaur dan bersosialisasi di banyak tempat, seperti sekolah, taman bermain, dan lingkungan sekitar.
4. "Anak tunggal lebih dekat dengan orang tua mereka"
Stereotip ini juga banyak ditujukan ke anak tunggal. Menurut APA, stereotip ini muncul lantaran anak tunggal tidak perlu berbagi waktu dan perhatian orang tua dengan kerabat kandung. Mereka sering kali mempunyai hubungan yang lebih sering dan intensif dengan orang tua mereka.
Hal krusial yang perlu dicatat adalah bahwa ukuran family saja tidak menentukan kualitas hubungan. Pola pengasuhan yang hangat dan responsif jauh lebih krusial daripada jumlah anak dalam rumah tangga.
Demikian ulasan tentang stereotip anak tunggal yang sering disalahartikan oleh banyak orang. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·