Hiperemesis Gravidarum: Penyebab, Gejala, Cara Mencegah dan Mengobati

Aug 05, 2026 05:55 PM - 11 jam yang lalu 54

Jakarta -

Mual dan muntah merupakan keluhan yang sering dialami Bunda selama awal kehamilan. Kondisi ini umumnya dikenal sebagai morning sickness dan biasanya bakal membaik memasuki trimester kedua.

Namun, jika mual dan muntah terjadi terus-menerus hingga Bunda kesulitan makan, minum, mengalami penurunan berat badan, apalagi kudu dirawat di rumah sakit, bisa jadi itu merupakan hiperemesis gravidarum.

Hiperemesis gravidarum adalah kondisi yang lebih serius dibanding morning sickness biasa. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi, kekurangan nutrisi, hingga mengganggu kesehatan ibu mengandung dan janin.


Lantas, apa penyebab hiperemesis gravidarum dan gimana langkah mengatasinya? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa itu hiperemesis gravidarum?

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berat selama kehamilan yang menyebabkan Bunda kehilangan lebih dari 5 persen berat badan sebelum hamil, mengalami dehidrasi, serta ketidakseimbangan elektrolit.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kondisi ini hanya dialami sebagian mini ibu hamil, tetapi memerlukan penanganan medis lantaran dapat mengganggu kesehatan ibu maupun perkembangan janin jika berjalan dalam waktu lama.

Berbeda dengan morning sickness, hiperemesis gravidarum membikin Bunda susah mempertahankan makanan maupun minuman di dalam tubuh sehingga kegiatan sehari-hari menjadi terganggu.

Studi lainnya yang diterbitkan dalam The Lancet tahun 2026 menegaskan bahwa hiperemesis gravidarum merupakan kondisi yang kompleks, melibatkan aspek genetik, hormon, serta respons metabolisme tubuh. Penanganan sekarang lebih difokuskan pada penilaian tingkat keparahan gejala, pencegahan dehidrasi, pemenuhan kebutuhan nutrisi, dan pemberian obat antimual yang terbukti kondusif selama kehamilan.

Tingkatan hiperemesis gravidarum

Hiperemesis gravidarum dapat dibagi menjadi tiga tingkatan berasas tingkat keparahan indikasi yang dialami ibu hamil. Semakin tinggi tingkatannya, semakin besar pula akibat komplikasi sehingga memerlukan penanganan medis yang lebih intensif.

Dilansir dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) menjelaskan bahwa pembagian hiperemesis gravidarum berasas tingkat 1, 2, dan 3 sebenarnya sudah tidak banyak digunakan dalam praktik klinis modern.

Saat ini, master lebih sering menilai tingkat keparahan berasas kondisi klinis ibu, seperti derajat dehidrasi, keahlian makan dan minum, penurunan berat badan, serta hasil pemeriksaan laboratorium. Selain itu, tenaga kesehatan juga dapat menggunakan instrumen seperti Pregnancy-Unique Quantification of Emesis (PUQE) alias HyperEmesis Level Prediction (HELP) untuk mengukur tingkat keparahan indikasi secara lebih objektif.

Tingkatan 1

Pada hiperemesis gravidarum tingkat 1, Bunda mengalami mual dan muntah yang lebih berat dibanding morning sickness, tetapi kondisi umum tubuh tetap relatif baik.

Beberapa indikasi yang dapat muncul meliputi:

  • Mual dan muntah terjadi beberapa kali dalam sehari.
  • Nafsu makan mulai menurun.
  • Berat badan mulai berkurang.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Aktivitas sehari-hari mulai terganggu.

Pada tahap ini, Bunda tetap perlu berkonsultasi dengan master agar indikasi tidak semakin berat. Penanganan biasanya berupa perubahan pola makan, rehat yang cukup, serta pemberian vitamin alias obat antimual jika diperlukan.

Tingkatan 2

Pada tingkat 2, mual dan muntah semakin berat sehingga mulai memengaruhi kondisi kesehatan Bunda. Tubuh mulai mengalami dehidrasi dan kekurangan cairan.

Gejalanya antara lain:

  • Muntah terus-menerus sehingga susah makan dan minum.
  • Berat badan turun lebih banyak.
  • Mulut dan bibir terasa kering.
  • Urine menjadi lebih sedikit dan berwarna pekat.
  • Jantung berdebar lebih cepat.
  • Pusing saat berdiri dan tubuh terasa sangat lemas.

Pada kondisi ini, master mungkin bakal menyarankan rawat inap agar Bunda mendapatkan cairan infus, elektrolit, serta obat antimual melalui pembuluh darah.

Tingkatan 3

Hiperemesis gravidarum tingkat 3 merupakan kondisi paling berat dan memerlukan penanganan segera di rumah sakit. Selain mengalami dehidrasi berat, Bunda juga berisiko mengalami gangguan metabolisme dan kekurangan nutrisi yang serius.

Gejala yang dapat muncul meliputi:

  • Muntah terus-menerus hingga tidak dapat mengonsumsi makanan maupun minuman.
  • Penurunan berat badan yang signifikan.
  • Dehidrasi berat.Gangguan keseimbangan elektrolit.
  • Penurunan kesadaran alias kebingungan.
  • Tekanan darah menurun dan degub nadi meningkat.

Pada kasus yang sangat berat dapat terjadi gangguan kegunaan hati maupun ginjal.

Bunda dengan hiperemesis gravidarum tingkat 3 biasanya memerlukan perawatan intensif, pemberian cairan dan nutrisi melalui infus, serta pemantauan ketat oleh master kandungan untuk menjaga kondisi ibu dan janin.

Patofisiologi hiperemesis gravidarum

Patofisiologi hiperemesis gravidarum adalah proses biologis yang menjelaskan gimana perubahan dalam tubuh ibu mengandung dapat memicu mual dan muntah berlebihan. Patofisiologi hiperemesis gravidarum hingga sekarang tetap terus diteliti. Para mahir meyakini bahwa kondisi ini tidak disebabkan oleh satu aspek saja, melainkan merupakan hasil hubungan antara perubahan hormon, aspek genetik, sistem saraf, serta respons metabolisme tubuh selama kehamilan.

Selama bertahun-tahun, peningkatan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dianggap sebagai penyebab utama hiperemesis gravidarum lantaran gejalanya sering muncul saat kadar hormon ini mencapai puncak pada trimester pertama. Selain itu, hormon estrogen dan progesteron juga diduga berkedudukan dengan memperlambat pengosongan lambung sehingga mual dan muntah menjadi lebih berat.

Namun, penelitian terbaru mengungkapkan sistem yang lebih kompleks. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 2023 menemukan bahwa hormon Growth Differentiation Factor-15 (GDF15) yang diproduksi oleh plasenta mempunyai peran krusial dalam terjadinya hiperemesis gravidarum.

Peneliti menemukan bahwa ibu mengandung yang mempunyai sensitivitas tinggi terhadap GDF15 alias sebelumnya mempunyai kadar GDF15 yang rendah lebih berisiko mengalami mual dan muntah berat. Hormon ini bekerja pada pusat pengatur mual di batang otak sehingga memicu rasa mual yang berlebihan.

Selain aspek hormonal, penelitian juga menunjukkan adanya pengaruh aspek genetik. Variasi gen yang mengatur produksi GDF15 dan reseptornya (GFRAL) dikaitkan dengan meningkatnya akibat hiperemesis gravidarum. Hal ini menjelaskan kenapa kondisi tersebut lebih sering ditemukan pada ibu yang mempunyai riwayat family dengan hiperemesis gravidarum.

Muntah yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan, elektrolit, dan persediaan energi. Akibatnya, tubuh mulai memecah lemak sebagai sumber daya sehingga menghasilkan keton yang dapat ditemukan pada urine.

Jika berjalan lama, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, defisiensi vitamin terutama vitamin B1 (tiamin) hingga gangguan kegunaan hati. Pada kasus yang berat dan tidak segera ditangani, komplikasi seperti ensefalopati Wernicke, gangguan ginjal, maupun malnutrisi dapat terjadi, meski kasusnya tergolong jarang.

Perbedaan morning sickness dan hiperemesis gravidarum

Mual dan muntah menjadi salah satu keluhan yang sering dialami ibu hamil, terutama pada trimester pertama. Banyak Bunda mengenalnya sebagai morning sickness. Morning sickness adalah mual dan muntah yang umum terjadi selama kehamilan, terutama pada trimester pertama. Meski disebut morning sickness, keluhan ini sebenarnya tidak hanya muncul pada pagi hari, tetapi bisa terjadi kapan saja.

Kondisi ini terjadi akibat perubahan hormon selama kehamilan, terutama meningkatnya kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dan estrogen. Pada sebagian besar Bunda, morning sickness tetap tergolong ringan dan tidak membahayakan. Biasanya, Bunda tetap dapat makan dan minum meski mungkin kudu mengurangi porsi makanan.

Namun, ada kondisi lain yang mempunyai indikasi serupa tetapi jauh lebih berat, ialah hiperemesis gravidarum. Kondisi ini bukan sekadar mual biasa lantaran dapat membikin Bunda susah makan, susah minum, mengalami penurunan berat badan, hingga memerlukan perawatan medis.

Lantas, apa perbedaan morning sickness dan hiperemesis gravidarum?

Walaupun sama-sama menyebabkan mual dan muntah, kedua kondisi ini mempunyai perbedaan yang cukup jelas.

1. Tingkat keparahan mual dan muntah

Pada morning sickness, mual dan muntah biasanya tetap dapat dikendalikan. Bunda mungkin merasa tidak nyaman, tetapi tetap bisa menjalankan kegiatan sehari-hari.

Sementara pada hiperemesis gravidarum, muntah dapat terjadi terus-menerus hingga mengganggu kegiatan dan kondisi tubuh.

2. Kemampuan makan dan minum

Bunda yang mengalami morning sickness biasanya tetap dapat makan dan minum meski dalam jumlah lebih sedikit.

Sedangkan pada hiperemesis gravidarum, muntah yang berulang dapat membikin Bunda tidak bisa mempertahankan makanan maupun cairan di dalam tubuh.

3. Dampak terhadap berat badan

Morning sickness umumnya tidak menyebabkan penurunan berat badan yang signifikan.

Sebaliknya, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan berat badan turun lebih dari 5 persen dari berat badan sebelum mengandung akibat kurangnya asupan nutrisi.

4. Risiko dehidrasi

Pada morning sickness, akibat dehidrasi relatif rendah lantaran tubuh tetap mendapatkan cukup cairan.

Namun, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan dehidrasi lantaran tubuh kehilangan banyak cairan akibat muntah terus-menerus.

5. Penanganan yang dibutuhkan

Morning sickness biasanya dapat dikurangi dengan langkah sederhana, seperti:

  • Makan dalam porsi mini tetapi sering.
  • Menghindari makanan pemicu mual.
  • Istirahat cukup.
  • Mengonsumsi makanan ringan sebelum bangun tidur.

Sementara itu, hiperemesis gravidarum memerlukan penanganan dokter. Pada kondisi tertentu, Bunda mungkin memerlukan obat antimual, cairan infus, hingga perawatan di rumah sakit.

Penyebab hiperemesis gravidarum

Penyebab pasti hiperemesis gravidarum tetap belum diketahui. Namun, para mahir menduga kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi perubahan hormon, aspek genetik, dan kondisi kesehatan tertentu. 

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature menemukan bahwa hiperemesis gravidarum lebih erat kaitannya dengan hormon growth differentiation factor-15 (GDF15) yang diproduksi oleh plasenta. Risiko mengalami hiperemesis gravidarum dipengaruhi oleh kadar GDF15 selama kehamilan dan sensitivitas tubuh ibu terhadap hormon tersebut. Temuan ini membuka kesempatan pengembangan terapi baru di masa depan.

Beberapa penyebab dan aspek yang diduga berkedudukan antara lain:

1. Perubahan hormon kehamilan

Kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG) yang meningkat pesat pada awal kehamilan diduga menjadi salah satu penyebab utama mual dan muntah berat. Selain itu, peningkatan hormon estrogen juga diduga ikut memengaruhi munculnya gejala.

2. Faktor genetik

Bunda mempunyai akibat lebih tinggi mengalami hiperemesis gravidarum jika ibu kandung alias kerabat wanita pernah mengalami kondisi yang sama saat hamil.

3. Hamil kembar

Kehamilan kembar alias kondisi mengandung anggur (mola hidatidosa) umumnya mempunyai kadar hormon hCG yang lebih tinggi sehingga akibat hiperemesis gravidarum juga meningkat.

4. Pernah mengalami hiperemesis gravidarum

Jika pada kehamilan sebelumnya Bunda pernah mengalami hiperemesis gravidarum, kemungkinan kondisi tersebut muncul kembali pada kehamilan berikutnya juga lebih besar.

5. Memiliki riwayat mabuk perjalanan alias migrain

Beberapa penelitian menemukan bahwa ibu mengandung yang mudah mabuk kendaraan alias mempunyai migrain lebih rentan mengalami mual muntah berat selama kehamilan.

Gejala hiperemesis gravidarum

Sebagian besar ibu mengandung mengalami kondisi yang dikenal sebagai morning sickness dan keluhannya biasanya tetap bisa dikendalikan. Namun, pada beberapa Bunda, mual dan muntah dapat berkembang menjadi lebih berat hingga mengganggu keahlian makan, minum, apalagi kegiatan sehari-hari.

Kondisi inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Berbeda dengan mual muntah biasa saat hamil, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dan nutrisi sehingga memerlukan penanganan medis.

Lantas, apa saja indikasi hiperemesis gravidarum yang perlu Bunda waspadai?

1. Mual dan muntah terus-menerus

Gejala utama hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang terjadi secara berulang dan susah dikendalikan.

Berbeda dengan morning sickness yang biasanya hanya muncul sesekali, Bunda dengan hiperemesis gravidarum dapat mengalami muntah acapkali dalam sehari hingga susah melakukan kegiatan normal.

2. Tidak bisa makan dan minum

Salah satu tanda unik hiperemesis gravidarum adalah tubuh susah menerima asupan makanan maupun cairan.

Bunda mungkin bakal mengalami:

  • Selalu muntah setelah makan alias minum.
  • Tidak nafsu makan.
  • Sulit mempertahankan makanan di dalam tubuh.
  • Merasa takut makan lantaran cemas kembali muntah.

Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan daya dan nutrisi yang dibutuhkan selama kehamilan.

3. Penurunan berat badan

Muntah yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan berat badan turun secara signifikan.

Menurut beberapa pedoman medis, hiperemesis gravidarum sering dikaitkan dengan penurunan berat badan lebih dari 5 persen dari berat badan sebelum mengandung akibat berkurangnya asupan makanan dan cairan.

4. Tanda-tanda dehidrasi

Karena kehilangan banyak cairan akibat muntah, Bunda dapat mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti:

  • Mulut dan bibir terasa kering.
  • Rasa haus berlebihan.
  • Jarang buang air kecil.
  • Urine berwarna lebih gelap.Pusing alias merasa mau pingsan.
  • Tubuh terasa sangat lemas.

Dehidrasi perlu segera ditangani lantaran dapat memengaruhi kondisi kesehatan ibu dan kehamilan.

5. Tubuh terasa sangat lelah

Kekurangan cairan, kalori, dan nutrisi dapat membikin Bunda merasa sangat lemas meskipun sudah beristirahat.

Beberapa ibu mengandung dengan hiperemesis gravidarum apalagi mengalami kesulitan melakukan kegiatan sederhana seperti bekerja, mengurus rumah, alias menjalani rutinitas harian.

6. Pusing dan jantung berdebar

Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit akibat kehilangan cairan terus-menerus.

Akibatnya, Bunda dapat mengalami:

  • Pusing saat berdiri.
  • Jantung berdebar.
  • Tekanan darah menurun.
  • Tubuh terasa tidak bertenaga.

7. Munculnya keton dalam urine

Ketika tubuh tidak mendapatkan cukup daya dari makanan, tubuh mulai memecah lemak sebagai sumber energi.

Proses ini menghasilkan unsur berjulukan keton yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan urine. Adanya keton menjadi salah satu tanda bahwa tubuh mengalami kekurangan asupan energi.

8. Sensitif terhadap aroma tertentu

Sebagian Bunda dengan hiperemesis gravidarum juga mengalami peningkatan sensitivitas terhadap bau, seperti aroma makanan, parfum, alias asap.

Bau tertentu dapat menjadi pemicu munculnya rasa mual dan muntah yang lebih berat.

Diagnosis hiperemesis gravidarum 

Saat Bunda mengalami mual dan muntah berlebihan selama kehamilan, master perlu melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah kondisi tersebut tetap termasuk morning sickness alias sudah mengarah pada hiperemesis gravidarum.

Diagnosis hiperemesis gravidarum tidak hanya dilihat dari seberapa sering Bunda muntah, tetapi juga mempertimbangkan kondisi tubuh secara keseluruhan, seperti keahlian makan dan minum, perubahan berat badan, tanda dehidrasi, hingga hasil pemeriksaan penunjang.

1. Wawancara riwayat kesehatan

Langkah pertama dalam pemeriksaan hiperemesis gravidarum adalah melakukan wawancara mengenai keluhan yang dialami Bunda.

Dokter biasanya bakal menanyakan beberapa hal, seperti:

  • Kapan mual dan muntah mulai terjadi.
  • Berapa kali muntah dalam sehari.
  • Apakah Bunda tetap bisa makan dan minum.
  • Apakah terjadi penurunan berat badan.
  • Apakah terdapat riwayat hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya.
  • Apakah ada keluhan lain seperti pusing, lemas, alias berkurangnya gelombang buang air kecil.

Informasi tersebut membantu master menilai tingkat keparahan kondisi Bunda.

2. Pemeriksaan fisik

Dokter juga bakal melakukan pemeriksaan bentuk untuk memandang apakah tubuh mengalami akibat dampak muntah berlebihan. Beberapa tanda yang dapat diperiksa antara lain:

  • Berat badan turun.
  • Tekanan darah menurun.
  • Denyut jantung meningkat.
  • Mulut dan kulit tampak kering.
  • Tanda-tanda dehidrasi.
  • Kondisi tubuh yang tampak sangat lemah.

Pemeriksaan ini krusial lantaran hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

3. Pemeriksaan laboratorium

Untuk mengetahui akibat muntah berlebihan terhadap tubuh, master dapat melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium, seperti:

  • Pemeriksaan urine

Pemeriksaan urine dapat membantu memandang adanya keton, ialah unsur yang terbentuk ketika tubuh kekurangan daya lantaran asupan makanan berkurang.

Selain itu, pemeriksaan urine juga dapat membantu menilai tingkat dehidrasi.

  • Pemeriksaan darah

Tes darah dapat dilakukan untuk mengetahui:

  • Kadar elektrolit seperti natrium dan kalium.
  • Fungsi ginjal.
  • Fungsi hati.
  • Kadar gula darah.
  • Kondisi kekurangan nutrisi tertentu.

Hasil pemeriksaan ini membantu master menentukan tingkat keparahan dan kebutuhan terapi.

  • Pengukuran tingkat keparahan gejala

Dokter juga dapat menggunakan perangkat penilaian unik untuk mengukur tingkat mual dan muntah yang dialami Bunda. Salah satu metode yang sering digunakan adalah Pregnancy-Unique Quantification of Emesis (PUQE). Skor ini menilai:

  • Berapa lama rasa mual berlangsung.
  • Seberapa sering muntah terjadi.
  • Seberapa sering mengalami muntah tanpa mengeluarkan isi lambung.
  • Semakin tinggi skor PUQE, semakin berat tingkat indikasi yang dialami.

Pemeriksaan USG kehamilan

Pada beberapa kondisi, master dapat melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk memastikan kondisi kehamilan.

USG dapat membantu mengevaluasi:

  • Usia kehamilan.
  • Jumlah janin (misalnya kehamilan kembar).
  • Kondisi janin.
  • Kemungkinan kondisi lain yang dapat menyebabkan kadar hormon hCG meningkat, seperti kehamilan mola.

Diagnosis Banding Hiperemesis Gravidarum

Sebelum memastikan diagnosis, master juga perlu menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yang dapat menyebabkan mual dan muntah berat, seperti:

  • Infeksi saluran pencernaan.
  • Gangguan tiroid.
  • Radang usus buntu.
  • Gangguan hati alias pankreas.
  • Infeksi saluran kemih.

Hal ini krusial agar Bunda mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyebabnya.

Cara mengobati hiperemesis gravidarum

Pada kondisi hiperemesis gravidarum, keluhan tidak hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga dapat menyebabkan tubuh kekurangan cairan dan nutrisi.

Karena itu, pengobatan hiperemesis gravidarum bermaksud untuk mengurangi mual muntah, mengembalikan cairan tubuh, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta menjaga kesehatan Bunda dan janin.

Penanganan yang diberikan master bakal disesuaikan dengan tingkat keparahan indikasi yang dialami.

1. Mengubah pola makan dan minum

Pada kasus ringan, perubahan pola makan dapat membantu mengurangi keluhan mual dan muntah.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan Bunda, antara lain:

  • Makan dalam porsi mini tetapi lebih sering.
  • Hindari membiarkan perut kosong terlalu lama.
  • Pilih makanan tinggi protein dan karbohidrat yang mudah diterima tubuh.
  • Hindari makanan berlemak, pedas, alias mempunyai aroma kuat yang dapat memicu mual.
  • Minum sedikit demi sedikit tetapi lebih sering.
  • Konsumsi camilan ringan seperti biskuit sebelum bangun dari tempat tidur.

Meski terlihat sederhana, menjaga asupan makanan dan cairan krusial untuk mencegah kondisi semakin berat.

2. Konsumsi vitamin dan suplemen

Dokter dapat memberikan vitamin tertentu untuk membantu mengurangi indikasi sekaligus mencegah kekurangan nutrisi.

Salah satu yang sering digunakan adalah vitamin B6 (piridoksin) lantaran dapat membantu mengurangi rasa mual pada sebagian ibu hamil.

Pada Bunda yang mengalami muntah berkepanjangan, master juga dapat memberikan vitamin B1 (tiamin) untuk mencegah komplikasi akibat kekurangan vitamin tersebut.

3. Obat antimual dari dokter

Jika perubahan pola makan belum cukup membantu, master dapat memberikan obat antimual yang kondusif digunakan selama kehamilan.

Beberapa obat yang dapat diresepkan antara lain vitamin B6 dengan alias tanpa doxylamine dan antiemetik seperti ondansetron, metoklopramid, alias obat lain sesuai kondisi Bunda.

Pemilihan obat bakal mempertimbangkan usia kehamilan, tingkat keparahan gejala, serta kondisi kesehatan ibu. Bunda sebaiknya tidak mengonsumsi obat antimual tanpa berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter.

4. Pemberian cairan infus

Pada hiperemesis gravidarum sedang hingga berat, Bunda mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan cairan melalui infus.

Terapi cairan bermaksud untuk:

  • Mengatasi dehidrasi.
  • Mengembalikan keseimbangan elektrolit.
  • Membantu tubuh mendapatkan daya kembali.
  • Mengurangi akibat komplikasi akibat muntah terus-menerus.

Dokter juga dapat memantau kondisi Bunda melalui pemeriksaan darah dan urine.

5. Pemberian nutrisi tambahan

Jika Bunda tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi melalui makanan dan minuman, master dapat memberikan support nutrisi tambahan. Pada kondisi tertentu, nutrisi dapat diberikan melalui:

  • Selang makan (enteral nutrition).
  • Cairan nutrisi melalui pembuluh darah (parenteral nutrition).

Namun, metode ini hanya dilakukan pada kasus berat ketika langkah lain tidak berhasil.

6. Istirahat dan menghindari pemicu mual

Selain pengobatan medis, perubahan kebiasaan sehari-hari juga dapat membantu mengurangi gejala.

Bunda dapat mencoba:

  • Mendapatkan waktu rehat yang cukup.
  • Menghindari aroma yang memicu mual.
  • Mengurangi stres.
  • Meminta support family jika kegiatan sehari-hari terasa berat.
  • Tidak memaksakan diri ketika tubuh memerlukan istirahat.

Komplikasi hiperemesis gravidarum

hiperemesis gravidarum yang tidak ditangani dapat menyebabkan beragam komplikasi lantaran tubuh Bunda kehilangan banyak cairan, elektrolit, dan nutrisi penting. Kondisi ini tidak hanya berakibat pada kesehatan Bunda, tetapi dalam kasus tertentu juga dapat memengaruhi kondisi janin.

1. Dehidrasi berat

Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi akibat hiperemesis gravidarum adalah dehidrasi.

Muntah terus-menerus membikin tubuh kehilangan banyak cairan sehingga Bunda dapat mengalami:

  • Rasa haus berlebihan.
  • Mulut dan bibir kering.
  • Jarang buang air kecil.
  • Urine berwarna gelap.
  • Pusing hingga nyaris pingsan.
  • Tubuh terasa sangat lemas.

Jika tidak segera ditangani, dehidrasi berat dapat mengganggu kegunaan organ tubuh.

2. Gangguan keseimbangan elektrolit

Saat muntah berulang, tubuh juga kehilangan mineral krusial seperti natrium, kalium, dan klorida.

Ketidakseimbangan elektrolit dapat menyebabkan:

  • Kelemahan otot.
  • Kram.
  • Jantung berdebar.
  • Gangguan irama jantung pada kondisi berat.
  • Gangguan kegunaan tubuh lainnya.

Karena itu, ibu mengandung dengan hiperemesis gravidarum sedang hingga berat sering memerlukan pemeriksaan darah dan pemberian cairan infus.

3. Kekurangan nutrisi dan penurunan berat badan

Bunda yang mengalami hiperemesis gravidarum dapat kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi lantaran makanan dan minuman sering kembali dimuntahkan. Akibatnya, tubuh dapat mengalami:

  • Penurunan berat badan.
  • Kekurangan protein.
  • Kekurangan vitamin dan mineral.Tubuh semakin lemah.

Kekurangan nutrisi dalam waktu lama perlu diperhatikan lantaran nutrisi ibu berkedudukan krusial dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.

4. Kekurangan vitamin B1 (tiamin) dan ensefalopati wernicke

Muntah berkepanjangan dapat menyebabkan tubuh kekurangan vitamin B1 alias tiamin. Pada kasus yang jarang tetapi serius, kekurangan tiamin dapat menyebabkan ensefalopati Wernicke, ialah gangguan pada otak dengan indikasi seperti:

  • Kebingungan.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Gangguan koordinasi tubuh.
  • Perubahan kesadaran.

Karena akibat ini, master dapat memberikan suplementasi vitamin B1 pada Bunda yang mengalami muntah berat dalam waktu lama.

5. Gangguan kegunaan hati dan ginjal

Hiperemesis gravidarum yang berat dapat menyebabkan perubahan sementara pada kegunaan organ tubuh.

Muntah terus-menerus dan dehidrasi dapat memengaruhi:

  • Fungsi hati.
  • Fungsi ginjal.
  • Keseimbangan metabolisme tubuh.

Pemeriksaan darah biasanya dilakukan untuk memantau kondisi tersebut.

6. Dampak pada kesehatan mental bunda

Selain berakibat secara fisik, hiperemesis gravidarum juga dapat memengaruhi kondisi emosional Bunda.

Mual muntah yang berjalan lama dapat menyebabkan:

  • Stres.
  • Cemas.
  • Sulit tidur.
  • Perasaan tertekan.
  • Kesulitan menikmati masa kehamilan.

Dukungan dari pasangan, keluarga, dan tenaga kesehatan sangat krusial agar Bunda tidak menghadapi kondisi ini sendirian.

7. Risiko pada janin

Pada sebagian besar kasus, hiperemesis gravidarum yang mendapatkan penanganan tepat tidak menyebabkan masalah serius pada bayi.

Namun, jika kondisi berjalan lama dan menyebabkan kekurangan nutrisi berat, beberapa akibat pada janin dapat meningkat, seperti:

Berat badan lahir rendah.Pertumbuhan janin terhambat.Risiko kelahiran prematur pada kondisi tertentu.

Karena itu, pemantauan kehamilan secara rutin sangat krusial bagi Bunda yang mengalami hiperemesis gravidarum.

Cara mencegah hiperemesis gravidarum

Sayangnya, hiperemesis gravidarum belum dapat dicegah sepenuhnya lantaran penyebabnya berangkaian dengan beragam faktor, seperti perubahan hormon, genetik, dan respons tubuh terhadap kehamilan. Meski begitu, beberapa langkah dapat dilakukan untuk membantu mengurangi akibat serta mencegah indikasi berkembang menjadi lebih berat.

1. Kenali indikasi sejak awal kehamilan

Salah satu langkah krusial untuk mencegah hiperemesis gravidarum menjadi lebih parah adalah mengenali tanda-tandanya sejak dini.

Bunda sebaiknya memperhatikan jika mengalami:

  • Mual dan muntah yang semakin sering.
  • Sulit mempertahankan makanan alias minuman.
  • Nafsu makan menurun drastis.
  • Berat badan mulai turun.
  • Buang air mini lebih sedikit dari biasanya.

Semakin sigap kondisi dikenali, semakin sigap pula master dapat memberikan penanganan yang sesuai.

2. Jangan membiarkan perut kosong terlalu lama

Perut kosong dapat memperburuk rasa mual pada sebagian ibu hamil. Karena itu, Bunda dapat mencoba makan dalam porsi mini tetapi lebih sering.

Beberapa tips yang bisa dilakukan:

  • Konsumsi camilan ringan sebelum bangun dari tempat tidur.
  • Makan sedikit setiap 2–3 jam.
  • Pilih makanan yang mudah diterima tubuh.
  • Hindari melewatkan waktu makan.

Cara ini membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan mengurangi pemicu mual.

3. Cukupi kebutuhan cairan

Kehilangan cairan akibat muntah berulang dapat meningkatkan akibat dehidrasi.

Untuk membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi, Bunda dapat:

  • Minum sedikit demi sedikit tetapi sering.
  • Mengonsumsi air putih sesuai kebutuhan tubuh.
  • Memilih minuman yang lebih mudah diterima jika air putih memicu mual.
  • Segera mengganti cairan setelah muntah.

Bila Bunda mulai susah minum alias selalu memuntahkan cairan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

4. Hindari pemicu mual

Setiap Bunda dapat mempunyai pemicu mual yang berbeda. Beberapa perihal yang sering memicu mual antara lain aroma makanan tertentu, asap, parfum, alias makanan berlemak.

Untuk mengurangi keluhan, Bunda dapat:

  • Menghindari aroma yang membikin mual.
  • Memilih makanan dengan aroma ringan.
  • Membuka ventilasi rumah agar udara lebih segar.
  • Meminta support family saat memasak jika aroma makanan memicu mual.

5. Konsumsi vitamin kehamilan sesuai rekomendasi dokter

Vitamin kehamilan seperti masam folat dan suplemen lain krusial untuk mendukung kesehatan ibu dan janin. Pada Bunda yang mempunyai akibat tinggi mengalami hiperemesis gravidarum, master dapat memberikan saran khusus, termasuk penggunaan vitamin tertentu untuk membantu mengurangi keluhan mual.

Jangan mengonsumsi suplemen tambahan tanpa berkonsultasi terlebih dulu dengan tenaga kesehatan.

6. Istirahat yang cukup dan kelola stres

Kelelahan dan stres dapat membikin tubuh terasa semakin tidak nyaman saat mengalami mual.

Bunda dapat membantu menjaga kondisi tubuh dengan:

  • Tidur yang cukup.
  • Mengurangi kegiatan berat jika tubuh terasa lelah.
  • Melakukan relaksasi ringan.
  • Meminta support pasangan dan keluarga.
  • Menjaga kondisi emosional juga krusial lantaran hiperemesis gravidarum dapat memengaruhi kesehatan mental ibu hamil.

7. Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan

Kontrol kehamilan secara rutin membantu master memantau kondisi Bunda sejak awal.

Melalui pemeriksaan, master dapat mengevaluasi:

  • Perkembangan berat badan ibu.
  • Kondisi janin.
  • Keluhan mual dan muntah.
  • Risiko terjadinya komplikasi.

Bagi Bunda yang pernah mengalami hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya, konsultasi lebih awal juga krusial untuk menyusun langkah pencegahan.

Apakah hiperemesis gravidarum bisa dicegah sepenuhnya?

Hingga saat ini, belum ada langkah yang dapat menjamin hiperemesis gravidarum tidak terjadi. Hal ini lantaran kondisi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk hormon dan genetik.

Namun, dengan mengenali indikasi sejak dini, menjaga asupan makanan dan cairan, serta mendapatkan support medis lebih cepat, akibat komplikasi dapat dikurangi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya