Jakarta -
Program bayi tabung alias in vitro fertilization (IVF) menjadi salah satu pilihan bagi pasangan yang mengalami gangguan kesuburan. Namun, perjalanan IVF tidak selalu melangkah mulus. Salah satu tantangan yang dapat terjadi adalah embrio berakhir berkembang sebelum mencapai tahap yang memungkinkan untuk dipindahkan ke rahim.
Kondisi ini dikenal sebagai embryo arrest alias penghentian perkembangan embrio. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction, sebagian embrio hasil IVF memang tidak sukses berkembang hingga tahap blastokista dan salah satu penyebab utamanya berangkaian dengan kelainan kromosom pada embrio.
Penyebab embrio kandas berkembang saat IVF
Lantas, apa saja penyebab embrio kandas berkembang saat IVF?
1. Kelainan kromosom pada embrio
Salah satu penyebab terbesar embrio kandas berkembang adalah adanya kelainan jumlah alias struktur kromosom (aneuploidy). Embrio dengan kromosom yang tidak normal sering kali mengalami gangguan pembelahan sel sehingga perkembangannya berakhir sebelum mencapai tahap blastokista.
Sebuah penelitian yang menganalisis embrio hasil IVF menemukan bahwa embrio yang berakhir berkembang mempunyai kemungkinan lebih tinggi mengalami kelainan kromosom dibandingkan embrio yang terus berkembang. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelainan kromosom menjadi salah satu aspek krusial yang memengaruhi keberhasilan perkembangan embrio dalam program IVF.
Risiko kelainan kromosom juga meningkat seiring bertambahnya usia ibu lantaran kualitas sel telur mengalami penurunan secara alami. Kondisi ini membikin kesalahan pembelahan kromosom lebih mungkin terjadi.
Kualitas sel telur mempunyai peran besar dalam menentukan keahlian embrio untuk berkembang.
Meski jumlah sel telur yang diperoleh saat prosedur IVF cukup banyak, tidak semuanya mempunyai kualitas yang sama. Sel telur dengan kualitas rendah dapat menghasilkan embrio yang susah berkembang alias berakhir pada tahap awal pembelahan.
Penurunan kualitas sel telur umumnya berangkaian dengan aspek usia, terutama pada wanita yang menjalani IVF pada usia lebih lanjut. Penelitian reproduksi menunjukkan bahwa bertambahnya usia ibu berasosiasi dengan meningkatnya akibat kelainan kromosom embrio dan menurunnya kesempatan keberhasilan IVF.
3. Kualitas sperma yang kurang optimal
Selama ini aspek wanita sering menjadi perhatian utama dalam program IVF. Padahal, kualitas sperma juga berkedudukan krusial dalam pembentukan embrio. Kerusakan DNA sperma (sperm DNA fragmentation), jumlah sperma rendah, alias gangguan pergerakan sperma dapat memengaruhi kualitas embrio yang terbentuk.
Materi genetik dari sperma dan sel telur bakal berasosiasi saat pembuahan. Jika terdapat gangguan pada salah satunya, perkembangan embrio dapat ikut terpengaruh.
4. Gangguan proses pembelahan embrio
Setelah pembuahan berhasil, embrio kudu melalui serangkaian tahap perkembangan, mulai dari satu sel menjadi beberapa sel hingga mencapai tahap blastokista.
Namun, tidak semua embrio bisa melewati proses tersebut. Studi yang dipublikasikan dalam pertemuan ilmiah American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menunjukkan bahwa banyak embrio yang berakhir berkembang sebelum mencapai tahap blastokista dan kondisi tersebut berangkaian dengan adanya kelainan kromosom pada sebagian embrio.
5. Faktor laboratorium IVF
Perkembangan embrio tidak hanya berjuntai pada kondisi biologis pasangan, tetapi juga lingkungan laboratorium tempat embrio dikultur.
Laboratorium IVF kudu menjaga beragam aspek seperti suhu, kualitas udara, media kultur, hingga prosedur penanganan embrio.
European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) menekankan pentingnya standar kualitas laboratorium IVF, termasuk dalam proses kultur embrio, identifikasi bahan biologis, hingga prosedur transfer embrio untuk menjaga keamanan dan kualitas jasa reproduksi berbantu.
6. Faktor genetik dari orang tua
Pada sebagian pasangan, kegagalan perkembangan embrio dapat berangkaian dengan aspek genetik yang diwariskan dari orang tua.
Jika master menemukan indikasi tertentu, pasangan dapat menjalani konseling genetik alias pemeriksaan tambahan seperti preimplantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A) untuk membantu mengetahui kondisi kromosom embrio sebelum transfer.
7. Penyebab yang belum diketahui
Meski teknologi IVF semakin berkembang, tetap ada kasus ketika embrio kandas berkembang tanpa penyebab yang jelas.
Para mahir menyebut bahwa perkembangan embrio merupakan proses kompleks yang melibatkan banyak faktor, sehingga tidak semua kegagalan dapat dijelaskan hanya melalui satu pemeriksaan.
Apakah embrio kandas berkembang berfaedah IVF pasti gagal?
Tidak selalu, Bunda.
Kegagalan perkembangan embrio dalam satu siklus IVF bukan berfaedah pasangan tidak mempunyai kesempatan untuk hamil. Dokter biasanya bakal melakukan pertimbangan untuk mencari aspek yang dapat diperbaiki sebelum mencoba siklus berikutnya.
Evaluasi dapat meliputi pemeriksaan kualitas sel telur, sperma, kondisi rahim, hingga pertimbangan laboratorium IVF.
Tidak semua penyebab dapat dicegah, terutama aspek kromosom yang berangkaian dengan proses biologis alami. Namun, beberapa langkah dapat membantu meningkatkan kesempatan mendapatkan embrio berkualitas, seperti:
- Menjaga berat badan ideal.
- Mengonsumsi makanan bergizi.
- Menghindari rokok dan alkohol.
- Mengelola penyakit seperti glukosuria alias gangguan tiroid.
- Mengikuti rekomendasi master mengenai obat maupun suplemen.
- Memilih klinik fertilitas dengan standar laboratorium yang baik.
Demikian penjelasan penyebab embrio kandas berkembang saat IVF. Semoga kehamilan Bunda selalu diberi kesehatan, kelancaran, dan kebahagiaan hingga hari persalinan tiba.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·