Kehamilan merupakan masa yang penuh perubahan, baik secara bentuk maupun emosional. Wajar jika Bunda sesekali merasa cemas, khawatir, alias tertekan. Namun, jika stres terjadi terus-menerus dan tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berakibat pada kesehatan Bunda maupun janin.
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh National Institute of Child Health and Human Development (NICHD), stres berkepanjangan selama kehamilan dapat memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan bayi dalam kandungan. Hormon stres yang meningkat secara terus-menerus dapat memengaruhi kegunaan tubuh, kualitas tidur, hingga pertumbuhan janin.
Mengapa ibu mengandung lebih mudah mengalami stres?
Selama kehamilan, Bunda mengalami banyak perubahan yang terjadi dalam waktu relatif singkat. Perubahan fisik, hormonal, emosional, hingga sosial dapat membikin ibu mengandung lebih rentan mengalami stres dibandingkan sebelum hamil.
Berikut beberapa penyebabnya:
1. Perubahan hormon yang memengaruhi emosi
Saat hamil, kadar hormon estrogen dan progesteron meningkat drastis. Perubahan hormon ini dapat memengaruhi unsur kimia di otak yang mengatur suasana hati, sehingga Bunda mungkin menjadi lebih sensitif, mudah cemas, mudah tersinggung, alias lebih sering menangis. Kondisi ini merupakan perihal yang normal, terutama pada trimester pertama dan ketiga.
2. Kekhawatiran tentang kondisi janin
Banyak ibu mengandung merasa cemas apakah janinnya tumbuh dengan baik, apakah hasil pemeriksaan normal, alias apakah bayi bakal lahir sehat. Kekhawatiran ini sering muncul terutama pada kehamilan pertama alias pada ibu yang pernah mengalami keguguran sebelumnya.
3. Ketakutan menghadapi persalinan
Menjelang hari kelahiran, sebagian Bunda mulai memikirkan proses persalinan, rasa sakit saat melahirkan, kemungkinan operasi caesar, hingga keselamatan diri dan bayi. Ketidakpastian tersebut dapat memicu kekhawatiran dan stres.
4. Perubahan bentuk yang signifikan
Pertambahan berat badan, perubahan corak tubuh, nyeri punggung, mual, mudah lelah, hingga gangguan tidur dapat memengaruhi kenyamanan sehari-hari. Bila berjalan terus-menerus, keluhan bentuk ini dapat membikin ibu mengandung merasa tertekan secara emosional.
5. Tuntutan pekerjaan dan kegiatan harian
Sebagian ibu mengandung tetap kudu bekerja, mengurus rumah tangga, alias merawat anak yang lebih besar. Menyeimbangkan beragam tanggung jawab tersebut sembari menghadapi perubahan tubuh selama kehamilan bisa menjadi sumber stres tersendiri.
6. Masalah finansial dan persiapan menyambut bayi
Biaya pemeriksaan kehamilan, persalinan, perlengkapan bayi, hingga kebutuhan setelah melahirkan sering menjadi kekhawatiran bagi calon orang tua. Tekanan finansial diketahui menjadi salah satu pemicu stres yang cukup umum selama kehamilan.
7. Kurangnya support sosial
Ibu mengandung yang merasa kurang mendapat support dari pasangan, keluarga, alias lingkungan sekitar condong lebih rentan mengalami stres. Sebaliknya, support emosional yang baik dapat membantu Bunda merasa lebih tenang dan percaya diri menjalani kehamilan.
8. Riwayat gangguan kekhawatiran alias depresi
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Women's Mental Health, wanita yang mempunyai riwayat kecemasan, depresi, alias mengalami stres berat sebelum mengandung mempunyai akibat lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental selama kehamilan.
Risiko yang mengintai jika ibu mengandung mengalami stres
Simak ulasan selengkapnya:
1. Tekanan hipertensi saat kehamilan
Stres kronis dapat meningkatkan produksi hormon kortisol dan adrenalin yang membikin tekanan darah naik. Jika tidak terkontrol, kondisi ini dapat meningkatkan akibat hipertensi dalam kehamilan hingga preeklamsia.
Preeklamsia merupakan komplikasi serius yang ditandai dengan tekanan hipertensi dan dapat membahayakan ibu maupun janin.
2. Gangguan tidur
Bunda yang mengalami stres sering kali susah tidur alias mengalami kualitas tidur yang buruk. Padahal, tidur yang cukup sangat krusial untuk mendukung perkembangan janin dan menjaga kesehatan tubuh selama kehamilan.
Kurang tidur juga dapat memperparah rasa lelah, meningkatkan emosi negatif, dan menurunkan daya tahan tubuh.
3. Risiko kelahiran prematur
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres berat selama kehamilan berangkaian dengan meningkatnya akibat persalinan prematur, ialah kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu. Bayi yang lahir prematur lebih rentan mengalami gangguan pernapasan, kesulitan makan, hingga masalah kesehatan jangka panjang.
4. Berat badan lahir rendah (BBLR)
Stres yang berkepanjangan dapat memengaruhi aliran darah ke plasenta sehingga pasokan oksigen dan nutrisi ke janin menjadi kurang optimal. Akibatnya, bayi berisiko lahir dengan berat badan rendah alias mengalami halangan pertumbuhan dalam kandungan.
5. Meningkatkan akibat depresi selama dan setelah melahirkan
Ibu mengandung yang mengalami stres berkepanjangan mempunyai akibat lebih tinggi mengalami depresi antenatal (saat hamil), maupun depresi pascapersalinan (postpartum depression). Kondisi ini dapat memengaruhi keahlian ibu dalam merawat diri sendiri maupun bayi setelah lahir.
6. Memengaruhi perkembangan otak janin
Beberapa studi menunjukkan bahwa paparan stres berat selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf janin.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Neuroscience menyebut bahwa kadar hormon stres yang tinggi selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak bayi, dan berpotensi meningkatkan akibat gangguan emosional alias perilaku di kemudian hari.
Saat stres, sebagian ibu mengandung menjadi kehilangan nafsu makan, sementara sebagian lainnya justru makan berlebihan. Kedua kondisi tersebut dapat mengganggu keseimbangan nutrisi yang dibutuhkan selama kehamilan, sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan ibu dan pertumbuhan janin.
Kapan ibu perlu mencari bantuan?
Segera konsultasikan dengan master alias psikolog jika Bunda mengalami:
- Stres yang berjalan lebih dari dua minggu
- Sulit tidur nyaris setiap hari
- Merasa resah berlebihan
- Kehilangan minat melakukan kegiatan sehari-hari
- Mudah menangis tanpa karena yang jelas
- Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Semakin sigap mendapatkan bantuan, semakin baik pula dampaknya bagi kesehatan ibu dan janin.
Cara mengurangi stres selama kehamilan
Untuk membantu mengelola stres, Bunda dapat mencoba beberapa langkah berikut:
- Tidur cukup setiap hari
- Melakukan olahraga ringan yang kondusif untuk ibu hamil
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
- Berbagi cerita dengan pasangan alias keluarga
- Mengikuti kelas ibu hamil
- Melakukan relaksasi, meditasi, alias latihan pernapasan
- Membatasi paparan info yang memicu kecemasan.
Merasa resah alias stres sesekali selama kehamilan merupakan perihal yang wajar. Namun, krusial untuk mengenali kapan stres mulai mengganggu kesehatan fisik, emosional, maupun kegiatan sehari-hari. Dengan pengelolaan yang tepat dan support dari orang-orang terdekat, Bunda dapat menjalani masa kehamilan dengan lebih nyaman dan tenang.
Tak kalah penting, jangan ragu untuk mencari support ahli jika stres mulai terasa berlebihan alias susah dikendalikan. Ingat ya, menjaga kesehatan mental selama kehamilan sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Saat Bunda merasa lebih senang dan rileks, kondisi tersebut juga dapat memberikan faedah bagi tumbuh kembang Si Kecil di dalam kandungan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·